Pengadilan Latar dan Pelaku
Orang bilang jangan jatuh cinta saat kau berada di Jogja dan Bandung atau bersiaplah sakit hati. Bila ada yang setuju, berarti tulisan ini telah resmi menjadi musuhmu. Karena seluruh kalimat dalam judul ini sengaja disusun untuk mendukung unjuk rasa 'perkotaan'. Andaikata Jogja dan Bandung punya kuasa, mereka pasti menuntut para manusia patah hati yang hanya memedulikan kegengsian untuk tuduhan itu.
Masing-masing mereka sudah memiliki julukan yang lebih
indah. Daerah Istimewa Yogyakarta, disebut sebagai kota pelajar karena dihuni
oleh Universitas-universitas ternama juga berkumpulnya puluhan Perguruan Tinggi
Swasta.
"Seharusnya dia dijadikan tempat menumpuk ilmu, bukan
menumpuk cinta dengan asa yang hampa," bela Sang Pengacara.
Ketika manusia dilematis mendapati cintanya kandas di jalan
malioboro, bukankah yang harus disalahkan adalah ego? Selama ini kamu sudah tau
perasaannya hanya semu. Namun kamu memilih untuk melepas kacamata logika
sehingga bayangan realita itu terlihat kabur menciptakan ilusi salah paham.
Hey, dari dulu kamu hanya kepedean. Seharusnya kamu
berterimakasih Jogja masih menyediakan banyak joglo untuk tempatmu berteduh
dari kenyataan yang terik. Atau kamu juga bisa mengalihkan pandanganmu ke arah
pola goresan rumit yang mencipta keindahan di atas batik. Siapa tahu dapat
mengeringkan air mata yang masih terus mengalir?
Giliran Bandung yang diadili, pongah sekali para manusia
penghuni berurusan dengan kota dengan 2 julukan ini.
Kembang dan Lautan Api. Dulu sempat banyak yang mengujar,
"Bandung itu romantis"
Lebih baik tak usah asal mengadopsi nama baru bila tak mau
menanggung konsekuen.
Hakim memberi izin untuk memanggil saksi. Yang terpilih
adalah Para Pelukis yang karyanya memenuhi museum, gedung-gedung pameran seni,
dan jalan Braga.
"Apakah Bandung berjasa dalam semua karya anda
semua?"
"Tentu saja,"
Walaupun julukan 'kembang'masih terkesan tentatif, wibawa
Bandung dalam nama 'lautan api' tak dapat membuat kita lupa atas pengorbanan
penduduk arif terdahulu. Atas nama penolakan tunduk pada penjajah, Cimindi
hingga Cicadas bersedia dimerahkan oleh api perjuangan.
Apa tidak malu
hidungmu memerah disebabkan tangis kelek efek putus cinta? Awas saja kalau suhu
udara di tiap sudut Bandung kamu jadikan alasan. Kamu itu cengeng, akui saja.
Lebih baik boroskan waktumu untuk mencari tahu konspirasi di
balik sebutan 'Paris Van Java'. Diam-diam Bandung sangat ingin membeberkan
resep rahasia tampil kekinian ala Paris yang disembunyikan dalam brankas Toko
Aud. Walaupun itu saat tahun 1900 silam.
Palu akhirnya diketukkan. Hasil sidang adalah seri. Mahkamah
Agung setuju untuk mengadakan sidang lanjutan melihat kondisi jaksa yang belum
sempat menyiapkan bukti konkrit atas kesalahan 2 kota andalan.
Entah kapan bukti dapat dihadirkan. Melihat dari pengalaman
beratus tahun kehidupan para manusia, selalu banyak hati yang tak mau
mengungkap rasa. Dan faktanya Semesta sudah terlanjur mengajarkan untuk tidak
menumpahkan sayang pada masa dan sosok yang keliru.
Maka dari itu pihak seberang akan sulit menemukan korban
yang mau bersaksi atas kehilangan 'belahan jiwa' nya.
Sudah terlihat jelas siapa yang unggul pada kasus ini.
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)