UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa
Unit
Kemodusan Mahasiswa
Bila
dalam lingkup matematika modus adalah data yang paling sering muncul, maka
masuk akal modus dalam lingkup percintaan memiliki tujuan ingin diperhatikan.
Karena faktanya, data yang paling sering muncul selalu menjadi perhatian
siapapun yang melihatnya.
Tidak
kusangka puluhan teori siklus pengetahuan mata kuliah knowledge management
siang ini memengaruhi lamunanku. Ternyata efek paparan pola pikir Zack,
Bukowitz, dan William oleh dosen di depan kelas menjadikan otakku termotivasi
untuk berfikir teoritis. Doktrin mahasiswa harus berfikir kritis dalam
menganalisa setiap problematika hidup ternyata sudah dapat kupraktekkan.
Walaupun hanya perkara modus.
Sudah
menjadi kesepakatan umum bahwa letak kehidupan kuliah bukan hanya pada saat
bersitatap dengan dosen menerima materi atau diskusi di kelas. Melainkan pada
perkumpulan-perkumpulan elit yang didanai kampus dengan ketertarikan tertentu.
Seluruh sivitas kampus menyebutnya, unit kegiatan mahasiswa (UKM).
Secara permukaan, UKM memang wadah berkarya dan
eksplorasi pengalaman. UKM olahraga mengusung para mahasiswa mengikuti
olimpiade, UKM jurnalistik mengajak para mahasiswa peduli akan situasi
lingkungan sekitar, UKM musik memberikan panggung pada mahasiswa yang gemar
bernyanyi, dan masih banyak lagi UKM lainnya.
Aku
sangat setuju peran UKM adalah sebagai corak kehidupan kuliah yang mewarnai
rutinitas mahasiswa. Tanpa UKM, rasanya tidak ada pembeda antara mahasiswa dan
siswa pelajar biasa. Bahkan menurutku kata ‘maha’ sebelum siswa adalah hasil
kerja dari UKM. Dengan UKM, pelajar dengan status ‘maha’ ini dapat menjangkau wawasan pengetahuan
sedalam lautan dan relasi sosial seluas samudra.
Waw,
nampaknya otak teoritisku masih berjalan. Kalau begitu sekalian kulanjutkan
saja.
Dalam perkumpulan
UKM, paling tidak mahasiswa dapat mencicipi sedikit bagaimana rasanya
berorganisasi dalam kepanitiaan. Terlebih saat UKM ingin mengajukan sebuah
acara ke kampus. Sebagai mahasiswa baru, dulu aku beranggapan hanya akan
menjadi anggota kepanitiaan yang bertugas melaksanakan perintah ini itu. Dengan
begitu kerepotanku hanya sebatas mendapat banyak suruhan bukan memikirkan konsep seperti yang dilakukan para
eksekutif. Namun siapa sangka, aku terjebak dalam UKM baru yang memaksaku
menjadi sekretaris utama di dalamnya.
***
Namaku
Syafa Dzakiyah, prodi perpustakaan dan sains informasi. Siapa pun yang
mendengar program studi itu pasti mengira aku seorang kutu buku. Aku sama
sekali tidak keberatan. Toh, memang benar. Tapi jangan salah paham, aku sangat
jauh dari sifat cupu. Keaktifanku di kelas sudah sangat dikenal oleh angkatan
bahkan jajaran dosen. Bagaimana tidak, setiap sesi debat materi di kelas,
opiniku selalu menjadi sebab keseruannya. Ramah dan mudah bergaul pun menjadi
aura andalanku di lingkungan kampus.
Akan tetapi yang membuatku benar-benar menonjol bukan
berasal dari internal, melainkan dari faktor eksternal yaitu teman terdekatku.
Namanya Shifa Aishya. Tidak hanya nama panggilan yang mirip, kita berdua
tinggal di kosan yang sama dan mempelajari prodi yang sama pula. Yang
benar-benar membedakan kita adalah kepribadian. Shifa mempunyai mata sinis dan
cenderung pendiam. Berbeda denganku yang ekspresif, dia memiliki wajah datar.
Untuk keaktifan, Shifa masih masuk kategori sering mencari perhatian dosen
untuk kepentingan nilai.
Dengan kehadirannya di sampingku, aku menjadi tersorot
memiliki banyak teman. Setiap jalan bersama, hanya aku yang banyak disapa orang
ketimbang dia yang tidak peduli sekitar. Prilakunya itu sering membuatku
terlalu percaya diri mengira aku lebih populer darinya. Cukup memalukan, karena
nyatanya dialah yang lebih populer di kalangan cowok dibanding aku yang sudah
dicap supel ke semua cowok.
Kepopuleran Shifa itulah yang menjadi awal mula aku
terjun terbawa arus UKM baru yang disalah gunakan.
***
Saat itu, badan eksekutif mahasiswa tengah mencari
anggota baru untuk regenerasi. Tidak sedikit mahasiswa angkatanku keheranan melihat
Shifa yang mendaftarkan diri alih-alih aku. Kebanyakan mereka mengira justru
akulah yang seharusnya mendaftar. Jawaban di balik itu sangatlah sederhana, aku
tidak ingin perkuliahanku direpotkan oleh tugas organisasi yang menumpuk.
Lagipula aku sudah muak dengan organisasi sepanjang SMA dulu.
Sejak awal menginjakkan kaki di perkuliahan, aku hanya ingin
bersenang-senang mengikuti UKM yang kuminati. Menghabiskan waktu untuk apa yang
disenangi bukankah kenikmatan paling tak tertera? Ironis, aku malah terjebak
sebagai tokoh eksekutif di dalamnya.
Aku
diajak Shifa untuk bergabung di UKM literasi. Dia bilang, kakak tingkat yang
mewawancarainya untuk penempatan posisi di BEM memintanya untuk mencari
mahasiswa yang senang membaca.
“Kenapa
tu kating tiba-tiba minta gitu Cip?” tanyaku di motor sepulang kuliah menuju
kos.
Di
bangku penumpang Shifa menjawab, “Karena pas wawancara tuh ditanyain kira-kira
mau ngajuin program apa, nah aku jawab bulletin kan. Disitu Kak Syahril
langsung ngangguk-ngangguk. Aku mikirnya Kak Syahril emang lagi ngumpulin
pegiat literasi gitu deh. Ketemu aku jadi pas, sekalian minta bantuan buat deh
nyari yang lain di semester kita,”
“Ooohh,
Yaudah iya aku ngikut pokoknya. Kamu udah nemu yang lain siapa aja?”
“Yang
cewe sedikit banget nih. Malah banyakan yang cowok. Aneh gasi? Perasaan kalau
soal baca buku rajinan cewek dah,”
Mendengar
itu aku menertawakan kepolosannya dalam hati. Ga aneh lah Cip… Tau kamu yang
minta ya pada semangat lah tu cowok-cowok.
Sesampainya
di kos aku meletakkan buku yang telah selesai kubaca di rak. Lanjut mengambil
buku lainnya untuk ditamatkan. Terbayang di pikiranku tak lama lagi akan
berkumpul dengan orang-orang yang juga suka membaca. Aku sangat antusias.
“Eh
Sap, masa pas aku ajuin nama-namanya ke Kak Syahril malah banyak yang ditolak
masa cowok-cowoknya,” Setelah 1 jam asyik membaca Shifa menghampiri kasurku
dengan ponsel di tangannya.
Aku
beranjak duduk memberinya tempat di kasur. “Ha? Kok gitu?”
“Gatau
nih, mana besok diminta langsung ngumpul di lobi perpus,” jawab Shifa sambil
sibuk membalas pesan lewat ponselnya.
Insting
kecurigaanku berbunyi. Sebenarnya aku mulai ragu untuk tetap mengikuti UKM itu
atau tidak. Di saat yang bersamaan aku pun mengecek akun sosmed official kampus
untuk mencari tau informasi terkait UKM literasi. Dugaan pertamaku terjawab,
UKM ini termasuk baru dan belum memiliki anggota. Bahkan belum diresmikan oleh
pihak kampus.
“Kamu
bisa ikut kumpul kan besok Sap?” Shifa memastikan.
“Eh?
Hmm… iya ikut kok ikut. Kamu juga kan?” Aku menjawab tidak yakin.
“Ikut lah, aku yang direkrut langsung sama
beliau masa ga dateng,”
“Jadinya
cowok siapa aja yang bakal ikut?” tanyaku penasaran.
“Cuma
si Amali,” jawabnya pendek. Sambil sedikit salah tingkah. Shifa memang sedikit
memiliki rasa pada Amali sejak masa orientasi. Amali adalah satu-satunya cowok
beruntung yang akun instagramnya mendapat konfirmasi di second account
Shifa. Dia bilang Amali sangat asik diajak chattan lewat dm. Caranya
menyomot topik sangatlah tidak kaku.
“Heeh?!
Seriusan? Cuma dia doang? Kalo ceweknya berapa?”
“Termasuk
aku kamu jadi berlima. Eh berarti aku bakal banyak interaksi sama dia dong
mulai besok. Ih malu deh,” Shifa menambahkan.
Aku
terdiam, tidak menanggapi kesaltingan Shifa. Isi pikiranku jauh berbeda
dengannya. Aku sangat mencurigai kemunculan UKM ini.
***
Satu
bulan pertama sejak UKM literasi berjalan adalah masa yang berat bagiku. Aku
telah resmi menjadi sekretaris, dan Shifa bendaharanya. Anggota kami yang sejak
awal sedikit berkurang 2 dengan alasan klise sudah sibuk dengan tugas kuliah.
Sesuai
kecurigaanku pula, Kak Syahril selaku pendiri sekaligus ketua UKM ini memiliki
perasaan terhadap Shifa. Intuisi tajamku mengatakan UKM ini berdiri dengan visi
tersembunyi yaitu jadian dengan Shifa. Lalu misinya adalah mendekati dan
mencari perhatian Shifa. Meski hanya intuisi aku sangat yakin itu benar.
Bermula dari hanya satu cowok yang diterima di UKM ini, mungkin Kak Syahril
tahu cowok di angkatanku banyak juga yang naksir Shifa. Dengan meloloskan
sedikit cowok adalah caranya mengurangi persaingan. Pada rapat perdana, Kak
Syahril mentraktrir minuman hanya untuk Shifa dengan taktik minta transfer
setelah rapat usai. Semua anggota diberi nomor rekening kecuali Shifa.
Modus-modus
kecil sejenis itu masih bisa kumaafkan. Tapi kalau profesionalitas mulai
terkikis, disitulah aku memberontak. Kak Syahril pernah membatalkan jadwal
rapat evaluasi program yang sudah diubah jadwalnya beberapa kali karena Shifa
tidak bisa ikut. Tanpa ragu aku menelpon kating rese itu dan menanyakan maksud ketidak
jelasannya itu.
“Karena
ini rapat penting jadi semua harus hadir, kan?” jawab Kak Syahril tanpa rasa
bersalah.
“Tapi
kak, Shifa kan cuma bilang hadirnya telat. Kita bisa tetap mulai duluan tanpa
dia,” Nadaku sangat terdengar tidak terima. Bayangkan saja, aku sudah
mengorbankan diri menjadi sekretaris pusing mencatat ini itu, membuat berbagai
macam proposal hingga merapihkan data-data dokumentasi kegiatan tapi yang dia
pentingkan hanya gebetan?! Sekedar rapat membahas point-point evaluasi yang
sudah kutuliskan seenaknya dia batalkan hanya karena tidak bisa bertemu dengan
gebetan? Yang benar saja!
“Nah
makanya itu… dia telat karena ada kegiatan lain kan. Kalau tetap harus hadir di
rapat kan kasihan capek… Sebagai ketua aku harus ngertiin setiap anggota dong…,”
Cuih!
Setiap anggota katamu?! Yang lu demen doang kali! “Loh…
kalau soal capek mah, kayaknya si Amali lebih capek deh kayaknya Kak. Udahnya
ikut BEM, sambil kerja pula di luar,” ujarku masih berusaha lembut.
Bagaimanapun juga dia masih katingku. Kalau aku sampaikan secara
terang-terangan dia tidak professional karena cinta, pasti nasibku di kampus
akan berantakan.
“Gini
Syaf, Shifa itu orang yang bantuin aku nemuin kalian. Kalau bukan karena dia
kita gabakal bisa kekumpul loh,”
Mendengar
itu hatiku langsung dipenuhi oleh umpatan. Di saat yang bersamaan, Shifa muncul
di pintu kamarku menawarkan jajanannya. Terpaksa kusudahi percakapan sia-siaku
dengan Kak Syahil. Mempersilahkan Shifa masuk.
Selang
beberpa menit kami menikmati jajanan, aku tidak tahan untuk menanyakan
pendapatnya tentang Kak Syahril.
“Kamu
tau gasi Kak Syahril suka sama kamu?” tanyaku langsung ke intinya. Karena aku
berhadapan dengan teman dekat, untuk apa ada yang ditutup-tutupi.
“Loh,
kamu juga mikir gitu Sap? Kirain si Risma doang. Berarti beneran kali ya…,”
Shifa menganggap itu bukan hal besar. Kembali dia kunyah jajanannya. “Tapi
yaudah lah, aku kan demennya sama Amali. Tinggal aku cuekkin aja, yaga?”
Mendengar
itu aku tidak tahan untuk tidak cerita apa saja yang sebenarnya sudah Kak
Syahril perbuat. Ekspresi Shifa berubah perlahan menjadi serius serta kesal.
Dia sama sekali tidak menyangka Kak Syahril sudah modus terlalu sering dengan
perisai UKM.
“Ya
ampun, sumpah ya Sap, aku selama ini ga sadar loh… Kukira dia gitu juga ke
anggota laen.. Ih terus aku harus apa dong?”
“Terus
terang aja ke dia… gatau juga si aku gimana caranya. Pokoknya aku gamau lagi ke
depannya dia sering gajelas di UKM ini,” jawabku sedikit ketus. “Eh tapi ini
aku ga marah ke kamu loh yah. Aku masih kebawa kesel aja sama tu kating,”
“Iya
faham kok Sap, tenang. Makasi ya udah cerita semuanya,”
***
Sudah
memasuki bulan keenam, genap setengah tahun UKM literasi berjalan. Sudah banyak
karya bulletin dan konten social media yang kita hasilkan. Entah apa yang
akhirnya Shifa lakukan, di bulan ketiga sikap Kak Syahril menjadi lebih tegas
sehingga produktivitas UKM berjalan dengan lancar.
Sikap
dingin Kak Syahril dimulai tepat setelah kami mengambil video untuk konten di
Gramedia pada bulan keempat. Malam harinya Kak Syahril mengirim pertanyaan di
grup whatsapp.
“Kapan
masanya akal benar-benar hidup?”
Pertanyaan-pertanyaan
random seperti ini tidak jarang terjadi di grup literasi. Justru hal ini
menjadi keunikan UKM kami sehingga kami dapat berfikir keras bersama secara
daring. Semua anggota menjawab, termasuk aku, terkecuali Shifa. Dia memang
sengaja sering tidak menanggapi pesan dari Kak Syahril.
“Jawaban
Syafa betul, akal hidup ketika seseorang mendapati cintanya ditolak. Selama
cinta belum ditolak, yang menguasai adalah rasa bukan logika. Dalam artian
lain, akalnya sedang mati,”
Dari
isi pesan Kak Syahril tak tertebak itu intuisiku kembai menyimpulkan bahwa
Shifa mendapat pernyataan cinta saat kita sibuk mengambil foto serta video di
Gramedia. Bukan tanpa alasan, aku menebak hal itu terjadi karena aku tak
sengaja melihat mereka berdua di lantai tiga saat aku mencari Amali. Aku memang
tidak mendengar percakapannya, namun raut muka mereka berdua terlihat sangat
serius dari kejauhan.
Di sisi
lain, aku baru sadar ternyata bukan Kak Syahril seorang yang diam-diam modus
pada gebetan di UKM ini. Aku tidak sedang membicarakan Shifa yang caper pada
Amali. Hal itu tidak mungkin terjadi karena sifat malu dan minderan Shifa lebih
dominan.
Sebaliknya, Amali ternyata diam-diam modus pada cewek
yang dia incar. Pada rapat perdana di Café dia membayarkan parkir cewek
tersebut dengan alasan mumpung uangnya pas buat berdua. Setiap kumpul hanya
berdua dengan cewek itu karena partneran di bagian sosial media, dia selalu
membayar tagihan minuman dan makanan ringan dengan mengaku bahwa dia diberi
anggaran untuk konsumsi dari UKM, padahal Shifa tidak pernah sama sekali
memberinya uang. Yang paling jelas yaitu semua foto-foto serta video-video yang
telah diedit dan diunggah di sosmed Ia hapus kecuali yang menampakkan sosok
cewek itu.
Sejujurnya aku tidak ingin memberi tahu karena takut
Shifa patah hati, semoga saja dia tidak membaca tulisan ini. Kuberi tahu
petunjuk siapa cewek beruntung itu. Amali yang bertugas sebagai editor konten
di UKM literasi hanya akan sering berinteraksi dengan content writer bukan?
Lalu orang yang berhubungan dengan tulis menulis di UKM tugasnya sekretaris
dong. Yap, betul jawabannya adalah aku sendiri :D
Disclaimer, aku sama sekali tidak berniat menikung
Shifa. Toh akhirnya aku hanya pura-pura tidak tahu dan sebisa mungkin
mengurangi interaksi dengan Amali. Bukan salahku kan kalau dia tertarik padaku?
Tenang saja, aku masih punya hati nurani. Bila memang akhirnya Amali nembak
aku, pasti kutolak. Atau kuterima saja atas izin Shifa ya? Karena tidak bisa
dipungkiri aku mulai menikmati kursi sekretarisku di UKM karena keberadaan dia.
Aduh, bahaya. Dasar Amali!
Eh tunggu, bukan. Itu bukan salahnya. Pada akhirnya semua kerumitan ini ulahnya UKM!!!
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)