Musim Dingin

Sebuah Es Yang Mencair

  “Hah … hah …, lelahnya,” keluh seorang gadis kecil yang baru saja berlari dari kejaran anjing. Umurnya sekitar 6 tahun. Wajahnya yang imut itu memerah karena kelelahan. Ditambah dengan suhu udara yang mencapai minus tujuh derajat celcius.

  Gadis kecil itu merapihkan penampilannya yang berantakan selepas berlari. Sekarang dia berada di sebuah lahan salju dekat hutan. Saat dia membenarkan posisi kerudungnya, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah patung berbentuk hati.

  “Uwooh, daebak[1]!” pujinya. “Ups, salah. Maksudnya masya allah. Hehe, hampir aja. Entar a’in lagi patungnya. Bisa-bisa retak nanti ni patung. Terus jadi patung broken heart deh …, Hahaha,” oceh gadis kecil itu. Bisa ditebak dia adalah anak yang cerewet. Setuju?

  Saat gadis itu sedang memperhatikan patung hati itu dari dekat, tak sengaja ia menyenggolnya. Sampai patung itu bergelinding ke arah turunan yang berada di depannya.

  Eotteoghae![2]” teriaknya. Dia langsung mengejar patung itu dengan hati-hati.

  Langkahnya terhenti saat menyadari patung itu berhenti karena menabrak sesuatu. Dengan waspada ia mendekat untuk memeriksa apa yang patung itu tabrak. Oh, ternyata perkiraannya salah. Bukan apa melainkan siapa yang ditabrak oleh patung hati?

  “Ouch! It hurts,” Seorang pria berkupluk biru dengan jaket hitam itu meraung kesakitan sambil memegang bahunya. “Who is there?!” teriaknya sembari bangkit dari jatuhnya. Dia melihat sekelilingnya. Dan mendapati gadis kecil berdiri dua langkah di depannya.

  Gadis itu bersembunyi di balik patung hati. Menyisakan kepalanya saja yang terlihat. Dengan ekspresi takut ia berkata, “Miyanhe, ahjussi[3] …”

  Pria itu mengangkat alisnya. Menghela nafas. Perlahan emosinya kembali stabil. Tersihir wajah memelas dari seorang gadis kecil. Dia langsung memalingkan wajahnya. Kembali duduk bersila di atas tumpukan salju. Sesekali memijat bahunya yang masih sakit.

  “Sembuh … sembuh, bismillah,” Tanpa pria itu sadari gadis yang melukainya itu sudah berdiri di belakangnya sambil mengelus-elus bahu kanannya. Saat pria itu memutar kepalanya, gadis itu tersenyum lebar. “Udah aku doa’in. Bentar lagi pasti sembuh,”

  Pria berusia 20 tahun itu tak memedulikannya. Cuek kembali menatap hutan yang berada di depannya. Berharap gadis itu pergi agar tak mengganggu kesendiriannya lagi.

  Entah apa yang dipikirkan oleh gadis ini, dia malah ikut duduk bersila di samping pria yang dari tadi bersikap dingin terhadapnya. Mengikuti gaya acuhnya saat menatap hutan.

  Pria ini mulai jengkel atas sikap gadis itu. Rasanya ingin sekali mengusirnya. Tapi rasa tak mau berurusan dengan anak kecil itu lebih besar. Dia pun memilih diam.

  “Aku Yuki. Lahir di Jepang, dibesarinnya di Korea tapi. Makanya aku lebih bisa Bahasa Korea dari pada Jepang. Terus sekarang ini aku liburan,” Ok, ternyata gadis  bernama Yuki ini bukan hanya cerewet. Tapi dia juga seseorang yang bisa disebut SKSD.

***

  “Ka Naeng kau mau pergi?” teriak Yuki. Singkat cerita, Yuki dan Pria korban patung hati itu menjadi teman semenjak 2 hari lalu. Lebih tepatnya, pria itu yang dipaksa menjadi teman main Yuki. Karena setelah tragedi patung hati, Yuki terus menerus mendatangi pria itu di depan hutan. Walau hanya  menemani Pria itu duduk diam di atas bantal salju. Karena Yuki orangnya cerewet, tentu dia tidak tahan bila tak bersuara. Dari situlah Yuki mulai bercerita apa pun kepada si Pria Korban. Entahlah didengar atau tidak, tapi dari situ Yuki mulai merasa nyaman bersama pria itu. Yah, semua orang memang tidak pernah mengerti jalan pikirannya. Si Pria Korban hanya pasrah dengan sikap gadis kecil yang selalu mencari perhatiannya ini. Selama ini dia selalu mengacuhkan gadis itu. Sampai pada suatu cerita…

***

  Saat itu Yuki sedang menghiasi patung hati miliknya dengan salju-salju yang dibentuk. Dia pun memulai ‘ritual’nya yaitu berbicara tak jelas. “Patung … Kamu tambah keren deh habis aku hias. Pasti kamu seneng. Oya, patung! Kamu ko dingin banget sih? Aku kan jadi ga bisa nyentuh kamu terus. Apa untungnya coba dingin? Ga ada temen tau, ga seru. Eh, kamu kan es ya? Dimaklumin deh dinginnya. Tapi kalo …,” Yuki menoleh ke arah si Pria. Yang ternyata dari tadi memang sedang memperhatikannya dengan tatapan sinis.

  “Aku tau. Dari tadi kau menyindirku, kan? Aku ini tidak bodoh,” ucap Pria itu.

  Yuki melamun. Sedetik kemudian dia baru sadar bahwa pria itu tadi berbicara padanya. “Ah! Ahjussi, kau bersuara! Akhirnya … Aku sempat berfikir kau sedang sakit gigi atau sariawan. Ternyata kau hanya malu ya, selama ini?”

  Pria itu tak menjawab apa pun. Hanya memberi tatapan ‘pergi saja kau dasar pengganggu’ miliknya.  Dia  pun sadar itu tak akan mempan bagi gadis di depannya. Dia lalu berdiri mendekati patung hati. Kemudian menendangnya sampai patung itu menggelinding jauh. “Kalau kamu ga suka dingin, kenapa ga jauhin aja?”

  Yuki mengertI bahwa pria itu sedang mengusrnya. Tapi Yuki tak mau kalah, “Aku memang ga suka dingin. Makanya aku mau ngubah dingin jadi hangat,”

  Ucapan Yuki tadi mengejutkan si Pria. Dia tak menyangka gadis kecil yang tadi dimarahinya akan menjawab seperti itu. Jawaban yang lumayan menantang.

  Ahjussi, aku pengen kita temenan. Biar kau tak kesepian,”

  Kali ini ucapan Yuki sukses membuatnya bungkam. Siapa sebenarnya gadis ini? Apa yang dia inginkan? Sungguh menjengkelkan. Begitu gumamnya.

  “Kau pasti tak akan meberi tahu namamu. Jadi aku sudah menyiapkan nama yang pas. Aku akan memanggilmu Naengdong[4], karena kau itu seperti sebuah es yang hidup,”

  Semenjak itu Naeng Dong sudah mulai menerima nasibnya untuk meladeni gadis kecil si Pengganggu. Terserah lah. Aku turuti saja apa maunya. Toh, dia tidak tahu aku siapa.

  “Heh, namamu sendiri bukannya berarti salju ya?” ledek Naeng Dong.

  “Setidaknya salju itu lembut. Tunggu, bagaimana kau bisa tahu?” tanya Yuki.

  “Karena aku sudah lama tinggal di Jepang. Tapi lahir di Korea,”

  “Berarti kita kebalikan ya? Wah, kebetulan yang menyenangkan!” ucap Yuki girang.

  Naeng Dong hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku Yuki. Rasanya nyaman.

***

  3 hari berlalu. Sekarang sedang terjadi sesuatu yang merumitkan bagi Yuki. Saat dia mendatangi lahan biasa tempatnya bermain bersama Naeng Dong, dia melihat banyak sekali polisi. Juga banyak mobil bercahaya merah di sekelilingnya. Yuki panik. Ditambah bingung. Apa yang terjadi? Dimana Ka Naeng? Yuki pun mendekat ke arah kerumunan.

  Di situ dia dapat melihat teman bermainnya sedang dibawa polisi menuju mobil. Dengan tangan yang diborgol. Juga dengan ekspresi pasrah. “Ka Naeng! Kau akan pergi?”

  Mendengar teriakan itu, Naeng Dong menoleh. Lalu tersenyum. Seakan mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada gadis kecil yang selama ini menjadi teman kesendiriannya.

  “Kau mau kemana?! Kenapa tidak memberi tahuku?” Terlambat. Naeng Dong sudah masuk ke dalam mobil. Yuki belum menyerah. Dia mendatangi polisi yang tadi mengawal Naeng Dong sampai mobil. Bertanya, “Pak. Mau dibawa ke mana temanku?”

  “Dia itu penjahat. Harus dibawa ke Penjara,” jawab Polisi tegas

  Yuki masih belum mencerna jawaban polisi tadi. Sampai keramaian di tempat itu berubah menjadi sepi. Yuki pun menangis.

***

  Naeng Dong dituduh telah mencuri uang di Bank. Padahal bukan ia pelakunya. Karena saat kasus terjadi, Naeng Dong sedang bersama dengan Yuki di Lahan. Naeng Dong tertuduh karena dia adalah mantan pencuri yang pernah dipenjara sebelumnya. Tapi untuk kasus kali ini memang bukan dia pelakunya. Yuki mungkin bisa dijadikan saksi. Tapi, tak ada yang mau memercayai gadis seumurannya.

  Eits, jangan lupakan. Yuki itu cerdas. Dia tak mudah menyerah. Dia meminta tolong ayahnya yang kebetulan seorang jenderal kepolisian negara Korea, agar bisa menyelamatkan Naeng Dong. Rencananya pun berhasil. Naeng Dong selamat dari tuduhan.

  Yuki pun kembali mengajak Naeng Dong ke Lahan tempat mereka bermain bersama. Sesampainya disana, Yuki terkejut. Tepat di depan hutan, dia melihat patung hati yang lebih besar dari sebelumnya. “Ka Naeng, itu buatanmu??”

  Naeng Dong mengangguk. “Yang sebelumnya pun buatanku,” 

  “Wooh! Keren …,” Yuki mendekati patung itu. Menyentuhnya. Kemudian menyadari sesuatu dari tekstur patungnya. “Oh tidak! Sudah mulai mencair,”

  “Yeah …, patung itu mengikuti suasana hati sang pembuatnya,” ucap Naeng Dong.

  “Oh, aku mengerti. Maksudmu, sifatmu sudah mencair. Kau sudah tak sedingin pertama kali kita bertemu. Aku senang!” ucap Yuki dengan senyum penuh kebahagiaan.

  Naeng Dong tertawa pelan. Dia selalu senang melihat Yuki ceria. “Dari awal namaku memang Ttatteusham[5], bukan Naeng Dong,”

  “Wah, sekarang nama itu memang lebih cocok untukmu,” Yuki kembali tersenyum lebar.

  Terima Kasih tuhan. Rencana-Mu mengirim anak ini sangat berguna untukku.

***

  Hei teman, seberapa dingin sikap orang terhadapmu tetaplah bersamanya. Bisa jadi kau adalah matahari yang dapat mencairkan sifatnya. Dan yang menjadi sumber kehangatan baginya. Karena sebuah es tak mungkin akan beku selamanya.


17 Agustus 2019



[1] Dalam Bahasa korea artinya semacam ‘Keren!’

[2] Semacam ‘Oh tidak!’

[3] Maaf Tuan

[4] Beku

[5] Kehangatan


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku