Nama adalah Impian

Aku Adalah Namaku

 Umar memasuki kelasnya yang sedang ricuh. Memutuskan untuk pergi ke Kantin. Meletakkan tasnya lalu melangkah kembali keluar kelas.

 “Berani sekali mereka menantang kita?! Ga tahu rupanya siapa kita. Tunggu saja, mereka rasakan sendiri akibatnya!” teriak seorang murid yang mengetuai sekelompok murid berandalan. Yah, kalian tahu kan? Selalu ada geng seperti itu di SMA Negeri zaman sekarang.

 Itu suara terakhir yang Umar dengar sebelum berbelok ke arah tangga yang menuju Kantin.

 Sesampainya di sana, Umar langsung memesan segelas teh manis hangat. Lalu duduk di kursi terdekat. Merogoh saku kecil di bajunya. Mengambil Qur’an sakunya, lanjut membacanya. Sampai ada seseorang yang menepuk pundaknya.

 “Assalamualaikum! Eh Umar, pagi-pagi udah ngaji aje,” sapa Faruq. Teman sekelas sekaligus tetangganya. Dan sekarang dia telah duduk di hadapan Umar.

 Umar membalas salam temannya itu. Lalu menjabat tangannya. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Berjabat tangan setiap kali bertemu. Mereka merasa dengan begitu pertemanan mereka akan selalu terjaga. Jika mereka sedang bertengkar, tetap saja saat bertemu mereka bersalaman. Karena sudah menjadi kebiasaan. Yap, kebiasaan baik yang menghasilkan kebaikan pula.

 Teh manis yang dipesan Umar telah datang. Baru saja Umar ingin menerima dari si Penjual, Faruq merebutnya dan langsung menghabiskannya. “Terima kasih,” ucapnya tanpa dosa.

 Umar kembali menutup tangannya yang sempat terbuka untuk menerima teh dari si Penjual. Menatap Faruq sebal. “Sama-sama,” dan pada akhirnya menyerah. Kembali pada bacaannya.

 “Hehe, haus gua! Ke Sekolah jalan kaki. Lari malah. Makanya langsung ke Kantin,” jelasnya sambil mengelap peluh di dahinya. Mengipas-ngipas wajah dengan kertas menu di depannya.

 “Kenapa ga pake mobil Lamborghini yang biasa? Motor gede lu yang merah mana?” tanya Umar.

  “Gini Mar, gua tu ga mau pamer-pamer harta lagi. Gua mau belajar merendah diri di dunia yang hina ini… Biar di akhirat nanti gua ga lama dihisabnya,” jawab Faruq dengan gaya ala ustadz-ustadz pengisi kajian hari akhir.

 “Halah! Bilang aja takut diteror ama preman-preman sekolah. Sok-sokan niat suci lu,” balas Umar sambil mendorong pelan kepal Faruq.

 “Elah! Ga seru lu Mar. Kok tau sih?” Faruq menyandarkan kepalanya ke atas meja kantin. Selang 1 menit, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya semangat. Kemudian berbisik, “Hei, tau ga sekolah kita mau tawuran lagi?”

 Umar tau temannya itu berusaha mengubah topik sebelum dia diceramahi. Tapi kali ini ia memilih menjawabnya saja. “Tau. Yang ditantang itu, kan?”

 “Widih! Udah ga kudet lagi ya sekarang,” goda Faruq dengan sedikit tepukan tangan. Dia menatap sekeliling. Menilai situasi. Setelah ia anggap aman, ia melanjutkan percakapannya. “Tapi kali ini bakalan lebih serem. Karena katanya ada yang akan membawa pistol,”

 Mata Umar melebar. Terkejut. Pistol? Hey, ini tawuran antar SMA, bukan bertarung dengan penjajah! “Ini gila. Tau dari mana lu?”

 “Gua tadi ngelewatin geng berandalan, salah satu dari mereka ngeluarin pistol dari tasnya,”

 Tas? Hey, dia siswa yang mau belajar atau psikopat yang mau ngebunuh orang? Gumam Umar. Dia diam sebentar. Lalu menghela nafas panjang. “Mereka tuh kenapa sih? Ngapain coba ngelakuin sesuatu yang banyak ruginya? Emang kalo menang dapet apa?”

 “Ssst…! Jaga suaramu Kawan, bisa-bisa kau korban pertama dari pistol itu,”

 “Tidak peduli,” ucap Umar kesal. Dia lelah mendengar kabar tentang tawuran sekolahnya. Sudah berapa banyak korban dari semua itu. Walau sekolahnya menang, tidak ada yang harus dibanggakan. Tidak ada pula apresiasi yang didapat. Lantas untuk apa?

 “Mar… sekarang lu bakal ngapain?” tanya Faruq menambah keseriusannya.

 “Ngapain? Emang lu kira gua bakal partisipasi apa?! Atau lebih buruk lagi, lu ngira gua bakal mencegah semua ini? Hah! Ini gua Ruq, gua ya gua,” jawab Umar sedikit membentak. Faruq menyindirnya. Sudah banyak tawuran terjadi di Sekolahnya. Tapi Umar hanya menganggap tidak terjadi apa-apa. Pura-pura tidak tahu. Aku tahu aku pengecut kawan, tapi itulah aku.

 “Lagi? Lu mau lari lagi?” Faruq menghela nafas berat. Ia berdiri, melangkah menjauhi temannya itu. Sebelum keluar Kantin ia berhenti. “Begitu ya … inikah yang seharusnya dilakukan seorang lelaki mengerti agama?” Faruq menoleh. Melihat reaksi Umar yang ternyata masih terdiam.

 “Umar? Haha …! Apa benar itu namamu? Kau pikir mengapa ibumu memberi nama itu? Kau tak pantas menanggung nama itu Kawan,” Faruq mengubah cara bicaranya. Ketika mulai menggunakan aku-kamu, itu pertanda Faruq sedang mode sangat serius.

 Umar terperanjat. Anak panah baru saja telak mengenai dadanya. Teguran yang menusuk. Saat situasi seperti ini, seseorang datang dengan menengadahkan satu tangan di hadapannya.

 “Dek, teh manisnya empat ribu,” Itu si Penjual. Sungguh tak tahu kondisi.

 Umar tertawa kecil. “Nanti om tagih aja ke cowok yang tadi, dia kelas 11-B Ipa,”

 “Loh, gimana caranya dek?” tanya Penjual itu polos.

 “Om langsung datengin aja pas istirahat,” Tepat di kalimat terakhir Umar selesai, bel masuk berbunyi. Umar langsung berlari ke Kelas. Meninggalkan si Penjual yang masih kebingungan.

 Perkataan Faruq di Kantin tadi sukses membuat Umar tak fokus di kelas. Semua yang dikatakan Faruq memang benar. Tentu ibunya sangat menginginkan sang anak menjadi sosok pemberani seperti Umar. Itulah alasan di balik namanya. Tapi realita sangat jauh dari ekspetasi. Umar adalah orang yang sangat penakut. Berpapasan dengan salah satu geng berandalan saja dia langsung memutar arah. Apalah yang diharapkan Faruq? Ceramah di depan mereka semua dengan mengatakan : “Sesama manusia itu harus saling menyayangi,” begitu?! Itu jauh dari kata mungkin. Seperti bulan dan matahari yang muncul bersamaan. Tak akan pernah terjadi.

 Pelajaran selesai. Faruq dikejutkan oleh seseorang yang datang meminta ungnya. Yap! Itu si Penjual teh manis.

 “Eh! Si Om niat amat ampe ke kelas. Hehe, maaf ya Om. Saya kira udah dibayar …” ujar Faruq sambil melirik Umar di depannya. Siapa sangka, ternyata Umar juga sedang memperhatikannya sambil tersenyum licik.

 “Ngutang apa Ruq, di Kantin?” teriak Umar memancing pandangan seisi kelas. Semua langsung berbisik-bisik sambil melirik Faruq. Seorang Rich Man macam Faruq berhutang?

 Faruq berusaha tak terlihat malu. Mengacuhkannya. Kemudian mengeluarkan kertas merah dari kantong celananya, memberikannya pada si Penjual. “Ambil aja kembaliannya om. Sebagai permintaan maaf saya,” ucap Faruq dengan senyum manisnya. Sesaat orang-orang yang membisikkannya tadi berhenti dan terbelalak melihat apa yang Faruq lakukan. Seisi kelas serentak berseru, “Uwooh, merah…!!”

 “Alhamdulillah …! Rejeki emang ga kemana ya. Makasih banyak ya Dek!” Penjual itu berlari keluar kelas kegirangan. Betapa beruntungnya dia.

 Tidak ada yang terjadi setelah insiden ‘kertas merah’. Semua berjalan seperti biasa. Sampai usai pelajaran. Bel berbunyi. Para siswa rusuh berhamburan keluar dari kelas. Umar menghampiri Faruq sambil menenteng tasnya. “Kita impas,” Umar mengulurkan tangannya.

 “Engga. Elu ngebuat gua malu depan semua orang. Gua kaga,” Faruq masih sibuk membereskan bawaannya. “Tapi … boleh juga. Lu ngebuat gue bisa nunjukin kedermawanan gue,” tambah Faruq. Dia pun membalas uluran tangan Umar. Menjabatnya. Mereka berdua tertawa.

 “Serah lu dah,” Umar membantu Faruq memasukkan buku ke dalam tas. Saat itu ia melihat map kertas coklat di dalam tasnya. Ukurannya lumayan besar. “Woy, ini apaan?” tanya Umar langsung.

 Faruq kaget melihat Umar mengeluarkan map itu. Dia langsung merebutnya. Memasukkan kembali ke dalam tas. Menutupnya dan lansung mengaitkannya di salah satu bahunya. “Itu… itu bukan sesuatu yang penting. Gua ga sengaja bawa,” ucap Faruq pelan.

 Umar tahu ada yang temannya rahasiakan. Tapi, buat apa pula ia tahu. Umar pun melupakan apa yang terjadi. “Ya udah, kuy lah pulang! Ga sabar main pees gua,” Umar melangkah di depan Faruq yang mengikuti dari belakang.

 Walaupun mereka bertetangga, mereka jarang pulang bersama. Terkadang Umar ada les ngaji, atau Faruq yang harus ikut ekskul. Atau salah satu dari mereka harus dijemput. Hari iniadalah setelah sekian lamanya mereka pulang bersama. Semoga tak terjadi apa-apa.

 “Lagian sih ya …Udah tahu sekolah kita tak terkalahkan, yang nantangin sama aja kaya ngelempar gelas ke lantai. Pasti pecah, lah! Ceroboh banget,” Faruq memulai topik itu.

 “Ngga juga sih, gimana kalau gelasnya plastik? Ga bakal pecah, kan? Bisa jadi sekolah yang nantang itu bercanda doang. Eh, dibalasnya malah serius,” jawab Umar santai.

 “Soal tawuran mana ada yang maen-maen bro? Ada-ada aja. Emangnya nembak cewek?”

 “Parah lu!” Umar menjitak kepala Faruq. Faruq menghindar. Umar tak mau kalah. Dia mengejar Faruq sampai jitakannya tersampaikan. Faruq kembali membalasnya.

 Mereka berjalan sambil bercanda. Sampai lupa posisi mereka sekarang. Tanpa disadari, banyak belokan yang terlewat. Entahlah sekarang mereka berada dimana. Karena daerah itu begitu sepi. Lumayan luas. Banyak rumah dan ruko tak berpehuni. Faruq memilih mengambil belokan terdekat. Barusaja Umar melangkah untuk belok, Faruq menahan badannya untuk tetap merapat di sudut tembok sebelum belokan.

 “Hei! Apa yang terjadi?” Umar kebingungan melihat temannya yang sangat panik.

 Faruq tersengal. Dia menoleh kanan kirinya. Sampai akhirnya memutuskan berlari ke arah gang sempit  yang berada di sebelah kiri depannya. Tangannya masih menggenggam Umar. Ia membawa lari kawannya itu.

 Mereka telah sampai di Gang. Faruq melepaskan genggamannya. Ia tersengal. Napasnya tak beraturan. Keringat bercucuran di keningnya. “Kita dalam bahaya,”

 “Apa yang terjadi?” Umar cemas. Bila kondisi Faruq separah ini, tak mungkin hanya karena melihat gebetannya sedang ditembak. Seperti 2 minggu lalu. Ia yakin kali ini lebih serius.

 Belum sempat Faruq menjawabnya. Umar sudah menyadarinya sendiri. Matanya menangkap segerombolan murid sekolahnya sedang berkelahi di ujung belokan posisi mereka tadi. Beberapa dari mereka sudah berdarah. Umar menutup mulutnya. Terkejut. Panik. Takut. Semua menjadi satu. Dia mematung.

 “Yang gua liat lebih banyak lagi,” Faruq bersuara setelah berhasil menstabilkan nafasnya. Dia duduk meluruskan kakinya. Mengelap peluh. Menghadapkan kepalanya ke atas. “Hari ini toh … Kok bisa papasan sih? Kebetulan yang sial,”

 Umar jatuh terduduk. Tak bisa berkata-kata.

 Di belokan tadi Faruq melihat kerusuhan yang sangat mengerikan. Banyak remaja-remaja lelaki yang masih mengenakan seragam berkelahi. Beberapa dari mereka memegang senjata seperti golok, pisau, linggis, dan lain lain. Banyak pula dari mereka yang membabi buta. Melempari batu ke segala arah, mengeroyoki siapa yang ada di depannya. Dan hal menyeramkan lainnya. Di situ lah Faruq berinisiatif untuk bersembunyi di Gang terdekat.

 10 menit berlalu. Suasana tawuran makin mencekam. Banyak yang berteriak-teriak garang. Sedangkan Umar dan Faruq tak bergerak se-senti pun dari tempatnya. Pasrah.

 “Kita harus melakukan sesuatu,” Faruq kembali bersuara. Oke, pasrah hanya berlaku pada Umar. Faruq berdiri, membersihkan celananya dari debu. Mengulurkan tangan pada Umar.

 Umar tak membalas ulurannya. Dia masih meringkuk ketakutan.

 “Woy, Pengecut!” Faruq mengambil kerah bajunya. Menariknya hingga ia bisa menatap wajah Umar. “Sadar oi…! Lu tuh cowok! Ngerti agama pula. Pantes ga lu kaya gini?! Tuhan lu dikemanain Umar…,”

 Umar menatap wajah temannya ini. Tidak menjawab apa-apa. Berusaha melepaskan pegangan baju darinya. Faruq pun melepaskannya.

 “Sekarang lu mau apa? Ngeringkuk di sini sampe Isya’? Hah?!” tanya Faruq membentak.

 Umar menundukkan kepalanya. Tak menjawab. Entah apa yang ia pikirkan saat ini.

 Melihat respon temannya ini Faruq langsung mengepal tangannya. “JAWAB OY!!”

 BUAGH! Satu hantaman telak mengenai pipi kiri Umar. Kepalanya terbanting. Tapi ia hanya meringis.Tak memberi respon lain. Bahkan tak berani menatap Faruq.

 “Setahu gua Allah tu lebih suka sama hamba yang kuat,” Faruq mulai mengontrol emosinya.

 Sambil masih memegang pipinya yang sakit Umar pun bersuara., “Bener, gua sadar ga bisa jadi hamba itu,”

 Mendengar itu emosi Faruq kembali meledak. Ingin rasanya ia memukul Umar lagi. Tapi ia menarik tangannya. Menahan. Faruq memilih berbalik dan berjalan memasuki gang lebih dalam. “Dasar cewek!” itu teriakan terakhir sebelum sosoknya hilang oleh kegelapan gang.

 Umar kembali terduduk. Mengelap darah yang keluar di sisi bibirnya menggunakan sapu tangan. Meringis kesakitan. Dia memperhatikan darah yang menempel di sapu tangannya, termenung.

 Merah adalah simbol keberanian. Darah itu berwarna merah. Karena dia pemberani. Dia keluar saat rasa sakit datang. Selalu menampakkan diri walau sudah tahu di depannya adalah mara bahaya. Karena untuk itulah dia diciptakan.

 Umar, di dalam dirimu ada keberanian. Di dalam namamu juga terdapat makna keberanian. Kamu tahu sendiri mengapa Umar bin Khathab tidak punya rasa takut. Ya, karena dia meyakini tidak ada keuntungan yang didapat dari ketakutan. Hanya rasa resah dan cemas yang membuatmu sulit bergerak. Lalu untuk apa kau meneruskan perasaan ini?

 Setelah mendengar suara hatinya, Umar bangkit lalu memberanikan diri untuk mengintip ke luar. Suasana tawuran semakin panas. Tidak ada habisnya. Sedangkan matahari semakin menurun. Dia harus berbuat sesuatu.

 Mata Umar melihat sekeliling mencari ide. Pandangannya tertuju pada angkot yang berjarak 10 langkah darinya. Posisi angkot itu di sebrang jalan posisi tawuran. Dan pohon tua besar yang ada di sekitar arena tawuran.

 Umar berbalik memanggil Faruq yang hanya diam merenung. Menyampaikan idenya, mereka berdua pun sepakat untuk melakukannya.

 Dengan waspada Umar dan Faruq berjalan menuju angkot yang Umar lihat tadi. Sesampainya di depan rumah si Pemilik Angkot, Faruq mengetuk pintunya perlahan. Sedangkan Umar bejaga di belakang. Tidak ada jawaban. Padahal, Faruq sempat mendengar suara seseorang di dalamnya.

 Faruq mendekatkan kepalanya ke sela-sela pintu. “Permisi Pak, saya orang baik-baik. Bukan peserta tawuran. Ingin meminta tolong pada Bapak. Sekiranya Bapak bisa membukakan pintu,”

 Tak lama setelah itu pintu rumah terbuka. Faruq dan Umar terkejut. Ternyata pemilik rumah itu adalah si Penjual Teh Kantin yang mendapatkan kertas merah dari Faruq saat menagih hutang. Wah, panjang sekali sebutannya. Padahal nama aslinya hanya Pak Dal.

 Faruq langsung menyampaikan maksudnya, yaitu meminjam angkot milik Pak Dal. Tanpa berfikir Pak Dal langsung mengizinkannya. Walau sudah diberitahu akan sangat kecil peluang keselamatan angkot itu setelah kami memakainya. Mungkin Pak Dal merasa berhutang pada Faruq.

 Umar dan Faruq langsung menaiki angkot. Faruq sebagai supir, dengan berani mereka menerobos keramaian.

 Klakson terus dibunyikan. Tanpa ragu Faruq terus menembus kerumunan orang yang sedang berkelahi. Semua jendela angkot memang ditutup. Tapi semua orang di belakang terus memukuli angkot  dengan benda-benda berat. Sehingga angkot jadi sulit berjalan.

 Umar yang sedari tadi diam bukanlah tidak melakukan apa-apa. Melainkan fokus mencari sosok orang yang memegang pistol. Sampai kedua bola matanya berhenti pada satu lelaki yang memakai hoodie dan masker hitam. Lelaki itu baru saja ingin mengeluarkan pistolnya dari saku.

 “Faruq, arah jam 10!” teriaknya.

 Faruq langsung menancap gas mendekati Pria Pemegang Pistol. Untungnya Pria itu tidak sadar. Akhirnya dengan mudah Umar mengambil pistol itu lewat jendela. Saat tersadar, Pria itu marah dan mengejar angkot di depannya.

 Dengan cekatan Umar menembakkan pistol itu ke arah batang dari pohon tua yang tak jauh dari keberadaannya. Setalah peluru habis, batang itu belum juga jatuh. Plan B pun dijalankan. Mereka akan menabrakkan angkot ke pohon tua itu.

 Hitungan detik, angkot itu berhasil menumbangkan salah satu batang terbesar. Tentu saja Faruq dan Umar telah menjatuhkan diri ke tanah sebelumnya.

 Saat batang terjatuh, keributan berhenti. Semua teralihkan pada batang yang baru saja jatuh karna tabrakan angkot. Kini arena tawuran di sana terbagi menjadi dua bagian. Di posisi itu Umar bingung apa yang harus dilakukan. Karena polisi yang tadi ia telfon di angkot belum juga datang. Rencana pengalihannya hanya sampai di sini. Tidak ada lagi plan C atau plan D.

 Siswa-siswa tawuran mulai mendekati posisi Umar dan Faruq. Berteriak-teriak marah tak karuan. “HEI! Siapa kalian?!” “Apa yang kalian lakukan?!” “Mau Mati?!”

 Di saat yang menegangkan itu lah, Faruq berdiri dengan tasnya. Berjalan gagah dan berdiri di atas batang pohon yang tumbang tadi. Berteriak tegas, “Dengarkan! Apa yang kalian lakukan ini tidak berguna. Lebih baik kalian bermain di Warnet atau membeli apa-apa yang kalian butuhkan. Dengan semua uang ini!” Faruq membuka tasnya lalu melemparkan kertas-kertas merah dalam jumlah yang sangaaaat banyak.

 Para Siswa di sana tentu tidak diam saja. Mereka berlomba-lomba untuk mengambil kertas-kertas itu sebanyak mungkin. Melupakan tawuran yang seharusnya berlanjut. Tidak ada lagi yang memedulikan angkot atau orang yang mengemudikannya. Semua teralihkan oleh kertas merah yang sedang berterbangan di udara.

 Faruq menuntun Umar keluar dari kerumunan. Tak lama itu pasukan polisi keluar membereskan semua yang telah terjadi. Ternyata polisi sudah ada dari tadi. Hanya saja mereka menunggu saat yang tepat untuk keluar.

 Salah satu Pemimpin Polisi itu berterima kasih pada Umar dan Faruq. Menawarkan hadiah sebesar lima ratus ribu dan penghargaan. Tapi mereka menolak semua tawaran itu. “Cukup lindungi kami saja, Pak,” Hanya itu yang mereka inginkan. Pak polisi itu tersenyum bersedia.

 Aksi pasukan polisi selesai bertepatan dengan Adzan Maghrib. Umar beranjak pergi ke Mesjid terdekat diikuti oleh Faruq. Di tangah perjalanan Umar sempat menanyakan tentang ribuan kertas merah yang dilemparnya. Dan jawabannya sungguh mengagetkan.

 “Hari sudah mulai gelap. Mana bisa membedakan uang asli dan palsu,” jawabnya dengan senyum lebar. Umar menatap tetangganya tak percaya. Sejak kapan ia jadi secerdik ini?

 “Berarti isi map coklat itu…” Umar menambahkan.

 “Oh, itu beda lagi. Isinya asli,” ungkap Faruq berbisik.

 Umar tertawa. “Dasar orang kaya!” teriak Umar sambil mendorong kepala Faruq.

 3 bulan berlalu semenjak kasus itu. Umar dan Faruq sudah terkenal dari berita dan Koran-koran yang membahas tentang tawuran dahsyat antar SMA. Dengan judul besar ‘Aksi Dua Siswa Pemberani, Umar al-Faruq.’ Itu semua membuat mereka sangat tenar di Sekolahnya. Karena aksi mereka adalah revolusi besar bagi sekolah. Sudah tidak akan ada lagi tawuran-tawuran setelahnya. Pelaku-pelaku tawuran kemarin pun sedang dikarantina selama setengah tahun.

 Itulah kisah Umar mewujudkan makna namanya. Yah, mungkin dia memang tidak persis dengan Umar yang bisa berkelahi atau semacamnya. Tapi setidaknya, ia berhasil menghapus kata takut dari kamus kehidupannya.

 Bagaimana denganmu? Sudakah kau selaraskan makna nama dengan kehidupanmu?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku