Wabah dan Ukhuwah

Wabah Menyebar, Ukhuwah Mengerat

13-05-2020

            Semenjak virus covid-19 mulai menyapa dunia, rutinitas sosial tak bisa berjalan se-efektif biasanya. Itu terjadi karena penularan virus covid-19 bermula dari adanya interaksi antar Orang Indonesia dengan Turis yang sudah terinfeksi. Dimana hidung menjadi pintu masuk virus tersebut. Itulah mengapa kita dianjurkan memakai masker selama pandemi ini masih tersebar.

            Selain anjuran memakai masker, Indonesia mengadakan suatu gerakan yang dinamakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Itu lah yang menjadi faktor mengapa sekolah diliburkan, pekerjaan kantoran diminimalisir, dan ditahannya berpergian. Semua dilakukan demi mengurangi dampak keparahan wabah yang terjadi di masa ini.

            Agar Indonesia dapat memenangkan perlawanan covid-19, sudah sepatutnya kita mematuhi apa pun aturan yang diadakan. Termasuk, tetap berada di rumah masing-masing dan tidak menjalani kegiatan sosial apa pun.

            Sulit memang. Karena fitrahnya manusia itu bersosial. Apa lagi tidak keluar rumah dalam kurun waktu yang lama. Bagi warga Indonesia hal ini sangatlah membosankan bukan? Saya mengerti, karena saya termasuk warga Indonesia. Ditambah lagi saya adalah seorang Santri. Dimana kebahagiaan bagi Santri itu adalah ketika libur, terbebas dari seluruh hiruk pikuk pesantren, dan dapat berwisata ke mana pun. Karena hal itu sangat sulit dilakukan selama mondok. Maka saya tahu sesulit apa menahan kemauan ini demi menaati peraturan pemerintah. Dan yang namanya Santri tentu selalu berusaha taat kepada Paraturan.

            Di masa PSBB, rumah menjadi tempat satu-satunya yang bisa ditinggali. Dan keluarga menjadi sosok yang terus menerus dijumpai. Tempat yang sama dengan orang yang sama. Ritme yang indah walau membosankan. Memberi kesempatan bagi mereka yang biasanya hanya bertemu di jam makan, untuk lebih sering bertemu dan berinteraksi.

            Terkadang kesibukan yang dimiliki masing-masing membuat lupa akan kehadiran yang disayang di sekitar mereka, tak lain adalah keluarga. Orang tua yang sibuk dengan pekerjaan atau bisnisnya, seorang anak pertama yang terlalu sibuk dengan perkuliahannya, anak ke-dua yang sibuk belajar menjelang lulus SMA, anak ke-tiga yang masih sibuk dengan teman-teman SMP nya, dan si Bungsu yang paling hanya sibuk bermain game. Apa mereka lupa bahwa mereka saling memiliki? Bisa saja. Gambaran keluarga ini hanya sebagai contoh besarnya.

            Covid-19, virus yang menjadi sebab besar angka kematian akhir-akhir ini. Justru yang berbaik hati memberi kita kesempatan untuk memperbaiki hubungan. Dengan kemunculannya, kita terpaksa berdiam diri di rumah dan berhadap dengan kebosanan. Di ujung kebosanan ini kita harus mengambil kesempatan yang ada. Yaitu, berkumpul bersama keluarga.

            Terdengar simpel namun rumit. Apa yang dilakukan bila sedang berkumpul? Atau muncul sebuah pemikiran, ‘Elah, ngapain ngumpul? Tiap hari juga udah ketemu kali!’ Sadarilah, yang setiap hari bertemu itu hanyalah jasad. Tidak disertai dengan jiwa dan pikiran. Memangnya apa yang kalian bicarakan ketika bertemu? Paling hanya bertanya kabar atau sekedar mengomentari rasa masakan di meja makan. Selebihnya kita lebih sering disibuki oleh urusan masing-masing. (Mungkin di era modern ini sibuk dengan gadget.) Memang tak semua merasakan ini, tapi tak sedikit pula yang pernah mengalaminya. Atau minimal mendekati kasus ini.

            Padahal kita semua tau, keluarga adalah harta terindah dan sangat berharga. Setiap individu memiliki koneksi tersendiri yang membuat mereka saling menyayangi. Hubungan darah yang begitu erat sampai menghasilkan rasa kepedulian tinggi. Sampai di titik rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan sesama. Kadang kita memang tidak menyadarinya.

            Lihatlah seorang Ibu yang rela menahan sakit saat berjuang mempertahankan janin agar keluar dengan selamat. Seorang Ayah, menghabiskan ¾ bagian dari sehariannya untuk menguras tenaga dan pikiran demi menghidupi keluarga. Sesama saudara pun sama. Mereka adalah orang yang paling mengerti sifat dan perasaan kita. Bagaimana tidak? Kita sudah hidup dengannya dari kecil hingga sekarang.

            Orang bijak selalu mencari celah agar dapat mengerjakan hal yang bermanfaat. Maka di Masa Pandemi ini, mereka yang bijak akan memandang sudut pandang lain. Bukan hanya melihat di sisi buruk dari dampak covid-19, tapi ia menemukan kesempatan emas yang menyempil di antara masa-masa sulit ini. Yaitu, kesempatan memperbaiki ikatan kekeluargaan.

            Mulailah dari sekarang. Karena bila tidak, kadang kesempatan hanya datang sekali. Apalagi ini emas, bisa jadi benar-benar datang sekali. Kita hanya perlu lebih sering mengobrol bersama keluarga. Membahas apa pun dengan tema apa pun. Berbincang hangat saja. Justru hal kecil ini yang membuat keluarga dapat lebih dekat satu sama lainnya. Dengan seringnya mengobrol, kita bisa lebih terbuka kepada satu sama lain dengan sama-sama bercerita tentang kisah menarik yang dialami dalam kehidupannya. Anggota kelurga yang lain pun akan mengetahui kabar baik dari cerita yang disampaikan oleh si Pencerita. Lambat laun, kita akan kembali akrab dengan keluarga.

            Secara tidak langsung kita memang harus berterima kasih pada covid-19. Karena keberadaannya yang cukup lama ini membuat kita bisa memulai kebiasaan berkumpul yang selama ini jarang dilakukan. Bila kalian seorang ibu, temanilah anak-anak kalian saat belajar atau pun bermain. Bila kalian seorang ayah, berikanlah banyak nasehat pada anak-anak kalian. Bila kalian seorang anak, dekatilah orang tua kalian selagi mereka tidak terlalu sibuk sekarang. Ini adalah kesempatan besar untuk mencurahkan rasa kasih sayang terhadap satu sama lain.

            Dari sini juga kita dapat menyimpulkan, bahwa tak ada makhluk ciptaan Allah yang sia-sia di muka bumi ini. Covid-19 contohnya. Ia menyebar seraya memberikan dampak indah bagi para keluarga di bumi. Kedamaian dan kesejahteraan tercipta di setiap rumah-rumah yang terhampar di atasnya.         

            Inilah ukhuwah. Ikatan persaudaraan yang menghasilkan keimanan bila diarahkan ke jalan yang benar. Kita lihat sekarang betapa banyaknya warga muslim di Negara ini, tetapi mereka terpencar-pencar layaknya buih di lautan. Dimana kita? Apa kita termasuk dalam buih itu? Tidaklah jaya suatu kaum kecuali mereka benar-benar bersatu. Hal ini yang sebenarnya menjadi patokan utama dari pembahasan. Bagaimana cara ummat muslim menyatu tak lain dengan cara yang sedang kita lakukan saat ini.

Mengeratkan ikatan bersama keluarga, langkah awal yang mungkin banyak sekali terlewatkan oleh orang-orang di luar sana. Atau malah bukan melewatkan, justru mereka tak pernah memulainya. Inilah problem terbesar bagi ummat muslim zaman ini. Malu memperlihatkan diri sebagai muslim dan enggan bersatu dengan yang lainnya. Hal ini bisa terjadi karena tidak adanya kepercayaan bahwa kita tak sendiri. Padahal, jelas-jelas kita memiliki keluarga yang selalu berada di samping kita. Kesadaran ini hanya akan datang bila kita telah mempererat ukhuwah antar keluarga.

Terakhir, saya akan mengutipkan hadist yang disampaikan Nabi kita, Muhammad yang berkaitan dengan tema ini.                                                                                                                  

لايؤمن أحدكم حتى يحبّ لأخيه ما يحبّ لنفسه

“Tidaklah sempurna beriman salah satu dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya,”

            Sebagai penjelasan, kata yang digunakan di hadist, ‘untuk saudaranya’. Kenapa tidak ‘mencintai saudaranya’ saja? Hadist selalu memiliki maksud tersendiri saat menyampaikan kata-katanya. Maksud dari kata ‘untuk’ di situ adalah memperlakukan saudara kita sebagaimana kita senang diperlakukan seperti itu. Begitu pula dengan keburukan, kita akan segan melakukannya terhadap saudara kita.

            Lengkap sudah pemaparan dari saya. Sekali lagi, saya ingin mengajak kalian untuk terus memperbaiki hubungan persaudaraan, terutama keluarga. Karena mereka adalah orang-orang yang akan selalu mendampingi kita dalam menegakkan agama Allah. Sekarang adalah saat yang tepat, Allah sedang memberi kita kesempatan lewat Pandemi Covid-19 ini. Eratkan ukhuwah kalian, selagi wabah berpencar-pencar di luar sana.

            Sekian dari saya, kurang lebihnya mohon maaf.

والله أعلم بالصواب                                                             

 

 

 

08112132302

087824703860

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku