Ramadhan di Era Covid-19
Keserasian Antar Puasa Ramadhan dan Pandemi Covid-19
Apa yang
bisa Mu’min maksimalkan di masa penuh kekangan ini?
1 Ramadhan, 1441. Bertepatan dengan 24
April 2020 Masehi. Dimana bumi masih diributkan oleh kasus pandemi yang terus
menyebar, Covid-19. Wabah yang tak memerlukan waktu lama untuk dikenal dunia.
Tak ada yang tak tahu menahu tentang wabah ini. Kecuali mereka yang tuli, tak
bisa mendengar kabar-kabar sekitarnya.
Kehadiran pandemi ini merubah
kebiasaan beribadah yang dilakukan setiap penganut agama. Islam, Buddha, Hindu,
Kristen, dll. Karena ini bulan Ramadhan, maka yang akan lebih spesifik dibahas
adalah agama islam.
Ramadhan kali ini terasa begitu
berbeda bagi sebagian orang yang menyadarinya.
Bukan hanya tak bisa ngabuburit atau berburu takjil, tapi juga tak bisa
leluasa pergi ke Mesjid. Sudah tak ada lagi bukber, sholat tarawih atau bahkan
sholat lima waktu berjamaah, kultum ba’da shubuh, I’tikaf. Semua yang biasanya
rutin dilakukan saat Ramadhan berlangsung, kini tak bisa lagi dijalankan.
Sedih memang, rasanya igin terus mengeluh kepada takdir.
Namun apa yang akan terjadi bila kita hanya terus meratap? Seharusnya kita
mencari tau apa yang bisa dilakukan di Masa Pandemi yang membuat rutinitas
ibadah kita terkekang ini. Karena seorang Mu’min yang bijak tak menjadikan apa
pun sebagai halangan untuk beribadah kepada-Nya. Allah tak pernah beristirahat bukan?
Maka Ia akan tetap selalu menunggu hamba-Nya yang meminta ampunan dan membalas
segala amal yang masih diusahakan Seorang Hamba pada Masa Sulit ini.
Saya akan buka dengan penjelasan mengapa judul menggunakan
kata ‘keserasian’. Tahukah kalian bahwa salah satu fungsi dari berpuasa adalah
agar dapat bersyukur atas nikmat yang tersembunyi? Banyak nikmat yang kadang
tak terlihat di sekitar kita, dengan maksud tak disadari kehadirannya. Dimana
saat berpuasa, nikmat itu baru akan menampakkan dirinya. Contoh kecil, makanan
dan minuman. Saat kita berpuasa, kita bisa merasakan betapa nikmatnya dapat
menyantap makanan enak dan meneguk minuman segar. Kita sadar betapa
beruntungnya kita masih diberi kesempatan untuk memiliki makanan dan minuman.
Berbeda dengan orang-orang miskin yang harus memperjuangkan banyak hal hanya
untuk mendapatkan sepotong roti.
Dengan adanya perasaan ini, otomatis
kita akan tergerak untuk memberikan sedekah pada banyak orang. Seakan tiba-tiba
menjadi dermawan, karena kita tau bagaimana rasanya tak makan dan minum selama
hampir sehari.
Karena itu Allah hadirkan syariat
puasa pada bulan Ramadhan. Agar hamba-Nya dapat dapat mengingat kembali nikmat-nikmat
yang telah didapat.
Lalu, apa yang serasi antara ia
dengan Pandemi Covid-19? Gampang saja. Kalian juga pasti sudah mulai
menebaknya. Jawabannya adalah, kehadiran Covid-19 ini juga menampakkan nikmat Allah yang tersembunyi. Sebelum mewabahnya
virus ini, dengan leluasanya kita dapat berjalan-jalan ke mana saja. Entah itu
sekedar berwisata, ke Kampung Halaman, atau asyik hangout bersama teman-teman.
Tak terlewatkan pula sholat berjamaah di Mesjid, menghadiri kajian-kajian bersama
Ustadz-ustadz besar, atau sampai hal kecil seperti nongkrong di luar rumah.
Kegiatan yang barusan disebutkan
bahkan baru setengah dari yang sebenarnya biasa kita lakukan. Semua itu tak
bisa kita dapatkan kecuali karena izin Allah. Atas kekuasaan-Nyalah kita dapat
merasakan nikmatnya hidup di dunia ini. Andaikata virus tak menyebar, apa kita
bisa menyadari nikmat-nikmat itu? Mungkin saja tidak.
Kehadiran virus ini membatasi sebagian
besar kaum muslimin dalam kemaksimalan beribadah. Para lelaki sudah tak bisa
lagi sholat berjamaah di Mesjid. Tak bisa lagi menghadiri majlis-majlis ilmu.
Semua akivitas sosial sementara dihentikan selama Masa Pandemi ini berlangsung.
Lalu, apa tujuan Allah memunculkan wabah ini di hadapan orang-orang beriman? Tidaklah
Allah menguji suatu kaum melainkan ingin menampakkan kualitas keimanannya.
Harusnya Bulan Ramadhan
ini menjadi saat yang tepat untuk mengetahui kualitas diri kita sebagai seorang
hamba. Namun, tak semua orang menyadarinya. Ramadhan kali ini, Allah beri kita
ujian extra.
Dengan ujian extra ini,
terbukalah satu jalan ibadah yang jarang kita lakukan secara khusus dan detail.
Ibadah yang terlihat simpel justru dengannnya pula banyak orang yang berpaling
dan terkena adzab. Ia adalah Syukur, rasa berterima kasih akan banyaknya
pemberian yang diberi. Kurang lebih itu yang kita tahu tentang syukur. Padahal,
masih banyak penjelasan dari kata itu sendiri.
Sebenarnya, apa itu
syukur? Di Qur’an kata syukur banyak terulang untuk mensifati orang-orang
shaleh terdahulu. Akan tetapi di sini saya hanya akan mengambil satu ayat saja,
di Surat Saba’ yang sedang membahas tentang pemberian karunia Allah terhadap
Nabi Daud dan Sulaiman.
اعملو آل داوود شكرا
“Beramallah wahai keluarga Daud sebagai
rasa syukur (kepada Allah)
Dalam kaedah Bahasa
Arab, kata شكرا di situ memiliki dua kedudukan yaitu;
Mashdar dan Maf’ul bih (Objek). Tak terlalu fokus ke situ, akan tetapi keduanya
memiliki ma’na yang sama. Syukur harus direalisasikan dengan tindakan.
Sebagaimana yang ditunjukkan ucapan dan niat. Penjelasan ini juga diperkuat
oleh penyampaian Abu Abdirrahman Al-Hubulli yang dirawayatkan oleh Ibnu Jarir :
“Sholat adalah syukur, puasa adalah syukur, segala kebaikan yang dikerjakan
semata mengharap ridha Allah adalah syukur, Syukur yang paling utama adalah
membaca pujian-pujian kepada Allah.
Berarti, syukur adalah
perbuatan yang dilakukan lisan, hati, dan anggota tubuh. Sebagai bentuk rasa berterima kasih, salah satunya dengan
menggunakan nikmat yang Allah berikan dengan apa yang Ia inginkan. Allah
memberi kita kaki, maka syukurilah dengan mempergunakan kaki itu untuk
memperpanjang berdiri saat sholatnya. Allah memberi mata maka pergunakanlah
untuk melihat kekuasaan-kekuasaan-Nya yang penuh pembelajaran. Allah memberikan
telinga maka pergunakanlah untuk mendengar nasehat-nasehat yang disampaikan.
Allah memberi lisan maka buatlah ia basah sebab membaca Qur’an dan berzikir
pada-Nya. Tentu masih banyak lagi karunia yang telah Allah beri namun belum
sempat disyukuri dengan baik.
Saat ini adalah masa
yang tepat. Allah memberi kita dua jalan sekaligus untuk dapat meningkatkan
kualitas syukur kita, Ramadhan dan Pandemi. Mari maksimalkan rasa syukur kita
dengan melakukan ibadah secara totalitas. Walau di rumah, kesempurnaan ibadah
masih dapat tercapai. Singkirkan hal-hal yang tak berhubungan dengan
peningkatan keimanan kita. Seperti GSS, Gaming Streaming Stalking. Yah, kalian
tahulah arahnya kemana.
Di hadapan manusia
selalu terbentang dua pilihan. Seperti ayat Qur’an yang mengatakan,
وهديناه النجدين
“Dan kami tunjukan dia dua arah jalan,”
(QS. Al-Balad :10)
Tinggal manusia yang
memilih apa yang akan mereka tempuh. Untuk kasus kali ini dua jalan yang
dimaksud adalah Syukur dan Kufur. Disebut dalam QS. Al-Insan : 3.
إنّا هديناه السبيل إمّا شاكرا وإمّا كفورا
“Sungguh kami telah memberinya jalan ; ada yang bersyukur ada pula yang
kufur”
Jadi, kalian tim syukur
atau tim GSS? Haha. Saya harap kalian memilih yang pertama.
Terakhir yang harus
kalian tahu, syukur memiliki saudara yang selalu disandingkan dengannya di
Al-Qur’an. Yang namanya saudara biasanya saling menguatkan. Maka syukur akan
rapuh bila tak dibersamai dengannya. Ia adalah sabar.
Lagi-lagi di Qur’an,
Surat Luqman ayat 31. Saat Allah membahas tentang nikmat-Nya berupa kapal yang
berlayar di lautan luas, ayat itu ditutup dengan
إنّ في ذالك لآيات لكلّ صبّار شكور
“Sungguh pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak
bersyukur,”
Sabar justru disebut
lebih dulu dari pada syukur. Karena terkadang rasa syukur tak muncul kecuali
setelah kesabaran. Bila seseorang diuji berupa musibah, yang pertama kali
dilakukan pasti bersabar. Baru setelah itu ia bisa menerima keadaan dan dapat
mensyukurinya.
Terjawab sudah soalan
pertama dimulainya tulisan ini. Apa yang bisa Mu’min maksimalkan di masa penuh
kekangan? Tak lain adalah syukur dan sabar. Kita tak bisa lagi ber-I’tikaf,
berbagi ta’jil gratis, berburu malam lailatul qadar di Mesjid, dan amal-amal
lain yang pada Ramadhan biasanya dapat kita lakukan. Karena itu, maksimalkanlah
apa yang bisa dilakukan. Dengan syukur dan sabar kita bisa menambal
kekurangan-kekurangan yang ada.
Tak apa sholat di rumah, dengan rasa
syukur hadir di setiap ruku’ sujudnya. Tak apa tilawah di rumah, tapi disertai
sabar akan ujian berupa wabah di luar sana. Berburu lailatul qadar dengan
banyak-banyak melafadzkan kalimat pujian dan mengingat-ngingat nikmat Allah.
Bukankah semua itu sama indahnya dengan ibadah bermalam suntuk di Mesjid?
Semoga setelah membaca litaretur ini
kalian dapat tercerahkan. Dan semua yang benar tak lain datang dari Allah.
Sekian, kurang lebihnya mohon maaf. Pesan terakhir saya, Selamat menikmati
perjalanan sabar dan syukur.
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)