Ramadhan di Era Covid-19

Keserasian Antar Puasa Ramadhan dan Pandemi Covid-19

 15-05-2020

Apa yang bisa Mu’min maksimalkan di masa penuh kekangan ini?

                1 Ramadhan, 1441. Bertepatan dengan 24 April 2020 Masehi. Dimana bumi masih diributkan oleh kasus pandemi yang terus menyebar, Covid-19. Wabah yang tak memerlukan waktu lama untuk dikenal dunia. Tak ada yang tak tahu menahu tentang wabah ini. Kecuali mereka yang tuli, tak bisa mendengar kabar-kabar sekitarnya.

            Kehadiran pandemi ini merubah kebiasaan beribadah yang dilakukan setiap penganut agama. Islam, Buddha, Hindu, Kristen, dll. Karena ini bulan Ramadhan, maka yang akan lebih spesifik dibahas adalah agama islam.

            Ramadhan kali ini terasa begitu berbeda bagi sebagian orang yang menyadarinya.  Bukan hanya tak bisa ngabuburit atau berburu takjil, tapi juga tak bisa leluasa pergi ke Mesjid. Sudah tak ada lagi bukber, sholat tarawih atau bahkan sholat lima waktu berjamaah, kultum ba’da shubuh, I’tikaf. Semua yang biasanya rutin dilakukan saat Ramadhan berlangsung, kini tak bisa lagi dijalankan.

Sedih memang, rasanya igin terus mengeluh kepada takdir. Namun apa yang akan terjadi bila kita hanya terus meratap? Seharusnya kita mencari tau apa yang bisa dilakukan di Masa Pandemi yang membuat rutinitas ibadah kita terkekang ini. Karena seorang Mu’min yang bijak tak menjadikan apa pun sebagai halangan untuk beribadah kepada-Nya. Allah tak pernah beristirahat bukan? Maka Ia akan tetap selalu menunggu hamba-Nya yang meminta ampunan dan membalas segala amal yang masih diusahakan Seorang Hamba pada Masa Sulit ini.

Saya akan buka dengan penjelasan mengapa judul menggunakan kata ‘keserasian’. Tahukah kalian bahwa salah satu fungsi dari berpuasa adalah agar dapat bersyukur atas nikmat yang tersembunyi? Banyak nikmat yang kadang tak terlihat di sekitar kita, dengan maksud tak disadari kehadirannya. Dimana saat berpuasa, nikmat itu baru akan menampakkan dirinya. Contoh kecil, makanan dan minuman. Saat kita berpuasa, kita bisa merasakan betapa nikmatnya dapat menyantap makanan enak dan meneguk minuman segar. Kita sadar betapa beruntungnya kita masih diberi kesempatan untuk memiliki makanan dan minuman. Berbeda dengan orang-orang miskin yang harus memperjuangkan banyak hal hanya untuk mendapatkan sepotong roti. 

            Dengan adanya perasaan ini, otomatis kita akan tergerak untuk memberikan sedekah pada banyak orang. Seakan tiba-tiba menjadi dermawan, karena kita tau bagaimana rasanya tak makan dan minum selama hampir sehari.

            Karena itu Allah hadirkan syariat puasa pada bulan Ramadhan. Agar hamba-Nya dapat dapat mengingat kembali nikmat-nikmat yang telah didapat.

            Lalu, apa yang serasi antara ia dengan Pandemi Covid-19? Gampang saja. Kalian juga pasti sudah mulai menebaknya. Jawabannya adalah, kehadiran Covid-19 ini juga menampakkan  nikmat Allah yang tersembunyi. Sebelum mewabahnya virus ini, dengan leluasanya kita dapat berjalan-jalan ke mana saja. Entah itu sekedar berwisata, ke Kampung Halaman, atau asyik hangout bersama teman-teman. Tak terlewatkan pula sholat berjamaah di Mesjid, menghadiri kajian-kajian bersama Ustadz-ustadz besar, atau sampai hal kecil seperti nongkrong di luar rumah.

            Kegiatan yang barusan disebutkan bahkan baru setengah dari yang sebenarnya biasa kita lakukan. Semua itu tak bisa kita dapatkan kecuali karena izin Allah. Atas kekuasaan-Nyalah kita dapat merasakan nikmatnya hidup di dunia ini. Andaikata virus tak menyebar, apa kita bisa menyadari nikmat-nikmat itu? Mungkin saja tidak.

            Kehadiran virus ini membatasi sebagian besar kaum muslimin dalam kemaksimalan beribadah. Para lelaki sudah tak bisa lagi sholat berjamaah di Mesjid. Tak bisa lagi menghadiri majlis-majlis ilmu. Semua akivitas sosial sementara dihentikan selama Masa Pandemi ini berlangsung. Lalu, apa tujuan Allah memunculkan wabah ini di hadapan orang-orang beriman? Tidaklah Allah menguji suatu kaum melainkan ingin menampakkan kualitas keimanannya.

            Harusnya Bulan Ramadhan ini menjadi saat yang tepat untuk mengetahui kualitas diri kita sebagai seorang hamba. Namun, tak semua orang menyadarinya. Ramadhan kali ini, Allah beri kita ujian extra.

            Dengan ujian extra ini, terbukalah satu jalan ibadah yang jarang kita lakukan secara khusus dan detail. Ibadah yang terlihat simpel justru dengannnya pula banyak orang yang berpaling dan terkena adzab. Ia adalah Syukur, rasa berterima kasih akan banyaknya pemberian yang diberi. Kurang lebih itu yang kita tahu tentang syukur. Padahal, masih banyak penjelasan dari kata itu sendiri.

            Sebenarnya, apa itu syukur? Di Qur’an kata syukur banyak terulang untuk mensifati orang-orang shaleh terdahulu. Akan tetapi di sini saya hanya akan mengambil satu ayat saja, di Surat Saba’ yang sedang membahas tentang pemberian karunia Allah terhadap Nabi Daud dan Sulaiman.

 اعملو آل داوود شكرا                                                                                                   

“Beramallah wahai keluarga Daud sebagai rasa syukur (kepada Allah)

            Dalam kaedah Bahasa Arab, kata شكرا di situ memiliki dua kedudukan yaitu; Mashdar dan Maf’ul bih (Objek). Tak terlalu fokus ke situ, akan tetapi keduanya memiliki ma’na yang sama. Syukur harus direalisasikan dengan tindakan. Sebagaimana yang ditunjukkan ucapan dan niat. Penjelasan ini juga diperkuat oleh penyampaian Abu Abdirrahman Al-Hubulli yang dirawayatkan oleh Ibnu Jarir : “Sholat adalah syukur, puasa adalah syukur, segala kebaikan yang dikerjakan semata mengharap ridha Allah adalah syukur, Syukur yang paling utama adalah membaca pujian-pujian kepada Allah.

            Berarti, syukur adalah perbuatan yang dilakukan lisan, hati, dan anggota tubuh. Sebagai bentuk  rasa berterima kasih, salah satunya dengan menggunakan nikmat yang Allah berikan dengan apa yang Ia inginkan. Allah memberi kita kaki, maka syukurilah dengan mempergunakan kaki itu untuk memperpanjang berdiri saat sholatnya. Allah memberi mata maka pergunakanlah untuk melihat kekuasaan-kekuasaan-Nya yang penuh pembelajaran. Allah memberikan telinga maka pergunakanlah untuk mendengar nasehat-nasehat yang disampaikan. Allah memberi lisan maka buatlah ia basah sebab membaca Qur’an dan berzikir pada-Nya. Tentu masih banyak lagi karunia yang telah Allah beri namun belum sempat disyukuri dengan baik.

            Saat ini adalah masa yang tepat. Allah memberi kita dua jalan sekaligus untuk dapat meningkatkan kualitas syukur kita, Ramadhan dan Pandemi. Mari maksimalkan rasa syukur kita dengan melakukan ibadah secara totalitas. Walau di rumah, kesempurnaan ibadah masih dapat tercapai. Singkirkan hal-hal yang tak berhubungan dengan peningkatan keimanan kita. Seperti GSS, Gaming Streaming Stalking. Yah, kalian tahulah arahnya kemana.

            Di hadapan manusia selalu terbentang dua pilihan. Seperti ayat Qur’an yang mengatakan,                                                                                                                         

  وهديناه النجدين                                                                                                                         

“Dan kami tunjukan dia dua arah jalan,” (QS. Al-Balad :10)

            Tinggal manusia yang memilih apa yang akan mereka tempuh. Untuk kasus kali ini dua jalan yang dimaksud adalah Syukur dan Kufur. Disebut dalam QS. Al-Insan : 3.

                           إنّا هديناه السبيل إمّا شاكرا وإمّا كفورا                                                                                                     

“Sungguh kami telah memberinya jalan ; ada yang bersyukur ada pula yang kufur”

            Jadi, kalian tim syukur atau tim GSS? Haha. Saya harap kalian memilih yang pertama.

            Terakhir yang harus kalian tahu, syukur memiliki saudara yang selalu disandingkan dengannya di Al-Qur’an. Yang namanya saudara biasanya saling menguatkan. Maka syukur akan rapuh bila tak dibersamai dengannya. Ia adalah sabar.

            Lagi-lagi di Qur’an, Surat Luqman ayat 31. Saat Allah membahas tentang nikmat-Nya berupa kapal yang berlayar di lautan luas, ayat itu ditutup dengan

إنّ في ذالك لآيات لكلّ صبّار شكور                                                                                                   

“Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur,”

            Sabar justru disebut lebih dulu dari pada syukur. Karena terkadang rasa syukur tak muncul kecuali setelah kesabaran. Bila seseorang diuji berupa musibah, yang pertama kali dilakukan pasti bersabar. Baru setelah itu ia bisa menerima keadaan dan dapat mensyukurinya.

            Terjawab sudah soalan pertama dimulainya tulisan ini. Apa yang bisa Mu’min maksimalkan di masa penuh kekangan? Tak lain adalah syukur dan sabar. Kita tak bisa lagi ber-I’tikaf, berbagi ta’jil gratis, berburu malam lailatul qadar di Mesjid, dan amal-amal lain yang pada Ramadhan biasanya dapat kita lakukan. Karena itu, maksimalkanlah apa yang bisa dilakukan. Dengan syukur dan sabar kita bisa menambal kekurangan-kekurangan yang ada.

Tak apa sholat di rumah, dengan rasa syukur hadir di setiap ruku’ sujudnya. Tak apa tilawah di rumah, tapi disertai sabar akan ujian berupa wabah di luar sana. Berburu lailatul qadar dengan banyak-banyak melafadzkan kalimat pujian dan mengingat-ngingat nikmat Allah. Bukankah semua itu sama indahnya dengan ibadah bermalam suntuk di Mesjid?

Semoga setelah membaca litaretur ini kalian dapat tercerahkan. Dan semua yang benar tak lain datang dari Allah. Sekian, kurang lebihnya mohon maaf. Pesan terakhir saya, Selamat menikmati perjalanan sabar dan syukur.

           

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku