Kota Mulia
Holy City
Orang-orang
bilang, kota kenangan itu di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Karena
menghabiskan waktu lama di kota itu, jadilah banyak kenangan di sana. Tapi
bagiku kota kenangan bukan yang seperti itu. Karena kota yang terkenang bagiku,
hanya kutinggali selama 2 hari. Tapi di sana aku bertemu dengan orang-orang
yang berharga. Begini ceritanya,
Saat
itu aku sedang berada di bus perjalanan pulang dari ibadah umroh. Menuju Hotel
yang berada di Madinah. Aku anak ke-2 dari empat bersaudara. Namaku Najma.
Umurku 17 tahun di tanggal 16 Februari nanti. Itu artinya aku akan berulang tahun
besok di sini. Entah itu kabar baik atau buruk. Aku lahir di Aceh. Melanjutkan
SD dan SMP ku di Semarang. Dan untuk sekarang,aku ‘masih’ tinggal di
Banjarmasin. Entah kapan lagi keluargaku harus berpindah kota. Dan itu sangat
tidak nyaman bagiku. Dari tiga kota tadi, tidak ada yang menjadi favoritku.
Walaupun , di kota yang kutinggali sekarang sedang ada pria yang kukagumi. Dia
3 tahun lebih tua dariku. Tapi apa daya? Bisa jadi aku sudah pindah sebelum dia
menyadari perasaanku terhadapnya. Hei, itu tidak penting sekarang.
“Hayooh!
Ora usah mekerke wong lain teros. Rugi[1]”
ucap Mas Faris, kakakku mengagetkan.
“Ngomong apa lagi ga ngerti,” jawabku ketus.
Aku tak kaget. Oya tambahan. Selama aku berpindah-pindah, aku tak pernah bisa
menghafal bahasa daerah setiap kota yang pernah aku tinggali. Contohnya Bahasa
Jawa yang Mas Faris pakai tadi. Sepertinya ia sudah menguasainya. Karena dia berkuliah
di Semarang. “Kita kapan sampai sih Mas?” tanyaku.
“Masih lama. Kamu tidur aja gih,” jawab Mas Faris. Sambil mengambil
selimut dan memberikannya padaku. Aku menerimanya. Sejurus kemudian aku telah
tidur lelap.
***
Aku
berada di depan hotelku saat ini. Ingin berkeliling sebentar. Meski tadi sempat
dilarang oleh ibuku, tapi aku meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja.
Karena ini kota haram kan? Tidak akan ada yang berbuat kejahatan. Semoga saja.
***
Sudah 30 menit aku berkeliling sekitar daerah sini. Dan aku suka sekali
tempat ini. Lihatlah. Banyak sekali burung merpati, berkumpul di banyak tempat.
Dan aku selalu memotretnya. Kondisi kotanya pun sangat bersih. Semua warganya berjalan
kaki. Tidak ada alat transportasi yang terlihat olehku. Dan itu semua membuat
udara di sini jadi semakin segar. Aaah, aku akan betah di sini.
Selagi aku masih menikmati suasana sambil
duduk di kursi yang berada di trotoar, datang seorang Pria Arab bergamis krem
dengan topi merah di kepalanya. Dia langsung duduk di sampingku. Otomatis aku
bergeser. Lalu meliriknya. Dia sedang menatapku.
“Alzam. Namaku, kamu siapa? Kita sama umur,” ucapnya tiba-tiba. Dia
menggunakan Bahasa Indonesia, walau logatnya kurang enak didengar.
“Oh,
aku Najma. Kamu tau dari mana kita seumuran?” jawabku. Walau masih kaget kenapa
dia tiba-tiba menanyakannya. Tapi kurasa dia orang baik. Jadi tak apa lah.
“Tebak saja. 17 tahun. Kamu sama,” ucap Pria bernama Alzam itu.
Lagi-lagi dengan kalimat yang berantakan. Aku hampir tak mengerti maksudnya.
“Aah, kamu salah. Aku masih 16 tahun. Baru besok aku ulang tahun,”
jelasku.
Alzam hanya diam. Dia memutar topi merahnya. “Afwan, ana la afham,[2]”
ucapnya.
“Haha,
la ba’s![3]
Sori aku kecepetan ngomongya,” balasku dengan tawa kecil. Kurasa aku mendapat
teman baru. Entah mengapa aku merasa nyaman saat bersamanya. Padahal kami baru
saja bertemu. Walau tampan, dia bukan tipeku. Loh, terus kenapa?
Aku
dan Alzam masih mengobrol 15 menit kemudian. Sampai akhirnya dia mengajakku ke sebuah
Toko Coklat. “Ini Toko kamu?” tanyaku saat sudah sampai di Toko. Langsung masuk
dan melihat-lihat isinya.
“Bukan.
Ayahku,” jawab Alzam. Dia melepas topi merah yang selama ini membuat
penampilannya kece. “Kamu mau, ambil
aja. Enggak usah uang,” lanjutnya.
“Maksud kamu enggak usah bayar? Makasih loh,” ucapku girang. Dibalas
dengan senyuman manisnya. Yang bisa saja melemahkan hati gadis jomblo sepertiku
ini. Tapi aku tidak goyah, hatiku masih setia dengan pria yang kukagumi di
Banjarmasin.
“Hei, hei! Siapa ini Alzam? Adik iparku, ya?” Tiba-tiba seorang pria
bergamis abu-abu datang. Sambil membawa beberapa plastik berisi coklat.
“Bukan, Ammar! Teman,” balas Alzam. Sedikit melirik ke arahku. Aku
sedang melihat-lihat coklat batu yang berwarna-warni. Pura-pura tidak mendengar
apa-apa. Walau sebenarnya aku dapat menangkap semua itu dengan jelas.
Apa di Arab memang banyak yang bisa Bahasa
Indonesia, ya? Aku menoleh saat merasa diperhatikan. Lalu tersenyum, “Ah,
halo. Saya Najma,”
“Hai
juga, saya Ammar. Kakak tertua Alzam,” ucap Pria itu. Membalas senyumanku.
“Hmm, pantas matahari pagi ini tidak terlalu menyengat. Ternyata
teriknya terkalahkan oleh keberadaanmu di sini …,” Satu pria muncul dari sisi
lainnya. Aku sedikit mundur saat
menyadari apa yang pria itu katakan. Haah,
dia pria penggombal.
“Ah!
Afnan, jangan ganggu dia. Buanglah kebiasaan burukmu itu!” teriak Ammar.
Mungkin pria bernama Afnan itu adiknya juga. Kakak di atas Alzam.
“Kebiasaan buruk? Ini bukan kebiasaan buruk Ammar … ini keahlian. Lagi
pula dengan begini aku bisa membuat Toko ini dipenuhi gadis-gadis cantik, kan?”
ucap Afnan sambil sedikit melirikku dengan senyum licik. Melihat itu aku
langsung melempar pandanganku.
Entah kenapa saat itu kami berempat jadi akrab. Kami menghabiskan waktu
sambil mengobrol di Toko. Mereka bertiga sangat ramah dan supel. Terlebih lagi
mereka menggunakan Bahasa Indonesia saat berbicara. Aku jadi mudah memahaminya.
Ammar paling sering membuat kita tertawa dengan leluconnya. Afnan, dia sering
sekali menggodaku. Seperti kalimat :
“Namamu sesuai dengan parasmu. Kau seindah bintang di malam hari,”
Bukannya salah tingkah, aku malah merasa risih. Setelah mengatakan itu
Afnan langsung dipukul oleh ke-dua saudaranya. Membuatku tertawa. Sedangkan
Alzam, dia banyak diam mendengarkan. Mungkin karena Bahasa Indonesia nya belum terlalu lancar.
Setelah lama mengobrol, aku memutuskan untuk pulang. Walau mereka sempat
menahanku, aku tetap harus pulang. Takut ibuku khawatir.
“Besok pagi, datang lagi ya. Kami akan sangat senang,” ucap Ammar
sebelum aku benar-benar meninggalkan Toko itu. Aku hanya membalasnya dengan
salam dan lambaian. Yah, aku memang tak bisa janji.
***
“Eid Milad Sa’ed, [4]Najma!”
Itulah yang mereka katakan ketika aku memutuskan mengunjungi Toko mereka lagi
esok paginya. Mereka memberiku hadiah. Mungkin mereka tau hari ini ulang
tahunku dari Alzam. Dan kalian tau reaksiku seperti apa? Tentu saja senang
campur haru. Maksudku, hei! Siapa yang mau memberi hadiah pada orang yang baru
sekali bertemu? Mengapa mereka bisa sebaik ini padaku? Ini bukan sesuatu yang
lazim bukan? Sudahlah, aku tak bisa lagi berkata-kata.
“Kau
tahu Najma, kami ini sangat ingin sekali memiliki saudara perempuan. Saat Alzam
mengajakmu ke Toko ini, kami sangat senang bisa mengobrol denganmu. Karena
sebelumnya, Alzam juga sering membawa gadis seumuranmu. Tapi tak ada yang mau
saat kami ajak ngobrol. Mereka hanya membeli coklat lalu pergi begitu saja.
Kebanyakan mereka takut kami akan melakukan apa-apa. Padahal kami hanya ingin
mengobrol sebentar,” jelas Ammar sambil tersenyum menatapku.
“Kami beruntung bertemu dengan gadis ramah yang tak berprasangka buruk
nan cantik sepertimu,” ucap Afnan sambil tersenyum ke arahku. Dengan gayanya
seperti biasa.
“Makasih
banyak ya, aku seneng banget bisa ketemu kalian. Dan aku merasa sangat sedih
harus berpisah dengan kalian sekarang. Kita baru sebentar bertemu. Tapi aku
pasti akan sangat merindukan kalian,” ucapku. Tak sadar air mataku jatuh.
Mungkin ini memang memalukan. Tapi aku tak bisa menahannya lagi.
“Jangan menagis, adik kecil. Kita pasti akan bertemu lagi. Aku yakin,”
hibur Ammar.
“Kamu sudah kami anggap sebagai keluarga, Najma. Entah sebagai adik atau
sebagai calon Alzam,” canda Afnan mencairkan suasana. Namun Alzam mendorongnya
setelah itu. Sikap mereka itu berhasil membuatku kembali tertawa.
“Datanglah kapanpun kau mau ok?” ujar Alzam. Kurasa kemampuan berbahasa
indonesia meningkat. Sudah tak lagi patah-patah.
Aku
mengangguk. Lalu kembali tersenyum. “Sekali lagi, makasih buat semuanya,”
***
4
tahun berlalu. Sekarang umurku 21 tahun. Tepat pada tanggal 16 Februari, aku
bersama suamiku, Oya. Aku baru menikah, seminggu lalu. Dengan Pria Banjarmasin
yang kukagumi itu. Yah, siapa sangka. Aku tak lagi berpindah kota setelah
umroh. Alhasil, Pria itu bisa mengetahui perasaanku. Dan melamarku tepat saat
umurnya 23 tahun. Mengesankan, bukan? Oh, sampai mana kita tadi? 16 Februari.
Yup! Aku berniat memperkenalkan ‘keluarga’ lainku pada suamiku. Dan sekarang,
kami sudah berada di Madinah.
Kami
telah sampai didepan toko, aku dapat melihat Ammar sedang menyapu teras. Afnan
sedang merayu gadis-gadis yang lewat agar mendatangi Toko. Dan Alzam … dia
sedang bersama seorang wanita. Kurasa itu istrinya. Karena mereka terlihat
akrab.
“Assalamu’alaikum,” ucapku pelan. Apa
mereka masih mengingatku?
Tiga
Saudara itu menoleh bersama, tersenyum girang. Langsung menghampiriku. Menjabat
tangan suamiku. Lalu tersenyum menghadapku, “Apa kabar, adik kecil?”
[1]
Dik, jangan sering-sering mikirin orang lain. Rugi loh
[2]
Maaf, saya nggak ngerti
[3]
Tidak Apa-apa
[4]
Selamat Ulang Tahun
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)