Perbedaan itu Wajar
No Difference
Namanya Alenna. Umurnya 19 tahun.
Sedang berkuliah di UI Fakultas kedokteran. Selebgram yang tekenal akan
kesempurnaannya. Dia pintar, cantik, ramah, sopan, supel, dan kesempurnaan lainnya.
Yah, itu tadi pengenalan tentang
kakakku.
“Tuh kan! Lagi-lagi natepin foto
kakakmu dengan ekspresi itu,” ucap perempuan yang duduk di sampingku. Dia
mengambil handphone-ku.
“Haah, cape aku. Sini balikin!” Aku
merampas hapeku kembali dari tangannya. “Makin diliatin fotonya aku bisa makin
sebel ke Kak Ena,” Aku mematikan handphone-ku.
“Kamu tuh, ya! Udah berapa kali
aku bilangin. Jangan pernah iri ke Kakak kamu!” Perempuan itu kembali duduk
tenang di kursinya. “Toh kamu ga jauh beda dari dia. Kamu cantik. Pandai
bergaul juga. Soal pinter yah … beda dikit lah,” jelas perempuan yang sekarang
sedang duduk di sampingku. Mulai sibuk dengan handphone-nya.
Dia teman dekatku sejak SMP.
Sekarang kami sudah SMA. Baru menginjak kelas 2. Umurnya sama denganku. 16
tahun. Namanya Elhumaira. Aku memanggilnya El. Dia murid pintar berprestasi
tinggi.
“Heh El. Aku tau kebenaran itu
menyakitkan. Jadi tak usah bohong padaku. Mana mungkin seorang Alanna biasa
sepertiku ini enggak jauh beda dengan seorang Selebgram Alenna! Semua orang pun
tau perbedaannya bagai Galaksi dan sumur,” ucapku terpaksa. Sejujurnya
kalimatku tadi menyakitkan.
El menatapku tajam. “Aku ga
bohong. Dan Al, kamu harus berhenti nyakitin diri kamu sendiri kaya gitu.
Ayolah Al, percaya. Nih ngaca! Cantik kan? Perlu bukti apa lagi?” El menjawab
perkataanku dengan nada yang lantang. Dan sekarang dia sedang menunjukkan
cermin kecil ke arahku. Sehingga aku bisa melihat bayangan wajahku di cermin.
Bergumam dalam hati, Yah, wajahku sih memang
lumayan oke.
“Kak Alenna itu bisa jadi
selebgram karena emang akun Instagramnya nggak di-private. Makanya banyak yang nge-like. Lah,kamu kan di-private.
Mana bisa orang-orang liat wajah cantik kamu ini...!” jelas El sambil mencubit
kedua pipiku gemas. Aku hanya pasrah menerima cubitannya.
Tak lama setelah itu, guru datang
dan pelajaran pun dimulai.
Namaku Alanna. Aku adalah adik si
Populer Alenna. Walau tak banyak yang tahu akan hal itu. Hobiku adalah berolah
raga. Aku juga menyukai bela diri. Akhir-akhir ini aku mengikuti latihan karate
di dekat rumahku. Beda dengan kakakku, dia jarang sekali berolah raga. Tapi
soal kepintaran, dia jauh di atasku. Fakultas Kedokteran buktinya. Dia bisa
masuk ke situ karena usahanya sendiri. Dia rajin. Beda denganku si Pemalas yang
beruntung mempunyai teman pintar dan mau mengajari. Kalau soal tampang dan
sikap, kami memang tak jauh berbeda. Karena kami berasal dari ibu yang sama
tentunya.
Sekian perkenalan, oh atau lebih
tepatnya ‘perbandingan’ antara aku dan kakakku.
***
Sekolah pulang lebih cepat.
Dikarenakan guru yang mengajar berhalangan datang. Dan sekarang, aku berada di
parkiran sekolah menunggu ojek jemputanku. Sampai tiba-tiba …
“Eh, Al! Mau langsung pulang aja
nih?” El datang dari belakang sambil menepuk pundakku.
“Ish! Kaget tau. Iya, emang
napa?!” cetusku.
“Yeu, nanya doang juga. Galak
amat,” ujar El yang mulai berdiri di sampingku. Merapihkan kerudungnya. Dan
langsung memainkan handphone. “Jalan-jalan
dulu yuk! Kemana gitu,”
Aku meliriknya yang sedang tersenyum
memelas. Berharap aku menerima ajakan itu. Aku menghela nafas. “Mau kemana
emang?” tanyaku. Tanda aku menyetujui ajakannya.
“Yeey! Kemana aja lah asal ama
kamu aku bahagia!” jawab El sambil memelukku.
Yah, nggak
apa-apa lah. Sekali-kali. Lagi pula ojekku pasti datang di jam biasanya. Aku
membalas pelukannya. “Ya udah. Yuk jalan! Ke Mall samping sekolah aja dulu,”
ajakku. Aku mulai melangkah di depan El. Dia menyusul langkahku. Seandainya ku
tahu, aku tidak akan mengambil keputusan itu.
***
Sekarang tepat pukul 4 sore. Kami
menghabiskan 2 jam di Mall. Tentu saja itu sudah termasuk makan siang dan Sholat
ashar. Kami hanya keliling di beberapa Toko Aksesoris. Namun tak ada yang kami
beli. Yah, kalian pasti mengerti lah kondisi dompet pelajar. Kami sengaja tak
beli apa pun agar uangnya cukup untuk makan siang. Menyedihkan sekali.
“Haaah …, hari ini seru sekali.
Makasih ya Al,” ucap El sambil tersenyum girang. Sekarang kita sedang dalam
perjalanan kembali ke Sekolah.
“Aku yang harusnya makasih El.
Selama ini kamu selalu ngebuat aku tetap percaya diri terhadap diriku sendiri.
Kamu selalu bilang kalau aku enggak jauh beda dari Kak Ena. Kamu selalu
ngingetin aku kalau udah iri ke Kak Ena. Pokoknya kamu selalu jaga aku sampai
saat ini lah!” balasku panjang lebar.
“Etdah! Dramatis bener ni anak. Jelas-jelas
yang traktir makan tadi kan kamu. Aku lah yang makasih …,” ucap El lagi.
Sekarang dia merangkulku.
“Kalau soal itu ya beda!” candaku
padanya. Sekarang aku balas merangkulnya. Kami tertawa bersama. El adalah satu-satunya
orang yang sudah tau bahwa aku adiknya Alenna. Tapi dia masih lebih memilihku
dari pada Kak Ena. Teman yang indah bukan?
Di saat kami sedang tertawa
lepas, berjalan sambil bersenang-senang, bertukar canda, sesuatu yang tak
pernah disangka terjadi. Ah …, seharusnya
kami tak melewati jalan ini.
***
Kami berhasil ditangkap oleh 2
preman. Itu terjadi 20 menit lalu. Mereka membuat kami pingsan dengan gas
semprot yang mereka bawa untuk menyerang. Saat itu aku telat menyadari. Tak sempat
menyerang. Alhasil, kami terkurung di ruangan menyeramkan ini sekarang.
“Kita apakan dua anak itu?”
“Jual saja. Aku yakin ada yang
akan membelinya dengan harga mahal. Mereka cantik,”
“Lalu bagaimana dengan anak-anak
SMP itu? Apa ada yang mau membeli?”
“Tentu ada. Walau harganya tidak
akan semahal 2 cewek ABG (Anak Baru Gede) itu,”
“Kalau begitu kapan kita akan
menjualnya?”
“Lebih cepat lebih baik. Sekarang
coba kau cek keadaan mereka,”
Aku dapat mendengar perckapan
antar dua orang itu. Tunggu,apa tadi?
Jual? Anak-Anak SMP? Berarti tak hanya aku dan El. Oh, yang lebih penting.
Salah satu dari mereka sedang menuju ke sini bukan? Aku memutuskan
pura-pura pingsan. Itulah yang aman ku lakukan sekarang.
KREEK!
Seseorang membuka pintu. Membuat suasana ruangan semakin tegang. Seorang pria
bertubuh kekar sedang berdiri di depan pintu. Menatapku dan El bergantian. Sesaat
kemudian Pria itu mendekatiku. Dia mencengkram daguku lalu mengangkatku sampai
posisi duduk. Mendekatkan wajahku degan wajahnya. “Kau cantik sekali..,”
Puuh! Aku
meludahi Pria Kekar itu. Telak mengenai wajahnya.
“Kurang ajar!!” Pria itu
melemparku hingga menghantam dinding. Belum puas, Pria itu menginjak-injak
tubuhku yang masih terbaring. “Rasakan ini!”
Entah apa yang terjadi, suhu ruangan
ini menjadi panas. Aku membuka mata untuk mencari tahu apa yang terjadi. Itu
El! Entah apa yang ia lakukan, ruangan ini sudah dipenuhi kobaran api. Pria
Kekar itu pun berpaling dariku. Balik mengincar El. Saat itulah, aku bangkit
lalu menendang kelemahannya. Pria Kekar itu jatuh dan meraung kesakitan. Aku
mengambil potongan kayu yang bagian atasnya terbakar. Langsung mengayunkannya
ke arah si Pria Kekar. Dia berhasil menangkisnya, tapi apa daya? Senjataku
mematikan. Pria itu kembali meraung kesakitan. Tangannya kini melepuh. Aku
segera meninju keras wajahnya. Lanjut mengambil kepalanya dan membenturkannya
ke lututku. Pria itu jatuh lemas.
“Ga nyangka, badan kekar kalah sama
cewek ABG,” hinaku. Sengaja kulakukan. Dengan ini emosinya meluap dan dia jadi
tak terkendali. Aku melompat ke belakang. Dengan ganas dia mengejarku dan
langsung meninjuku. Aku lengah, tinjuan itu telak mengenai pipi. Aku menguatkan
kuda-kuda, hingga aku tak jatuh karena serangannya. Dia kembali meninjuku
dengan tangan lainnya. Aku berhasil menangkapnya. Dengan cekatan aku mematahkan
tangannya. Lalu dengan sekuat tenaga melemparnya ke arah kobaran api. Kurasa
dia sudah tak bisa menyerang
Aku menatap sekitar. El sudah
tidak ada. Pasti dia sedang mencari
bantuan.
Aku berjalan lemas menerobos
kobaran api. Mendobrak ruangan sebelah. Menemukan 6 perempuan di dalamnya. “Apa
ada korban lain selain kalian?” tanyaku yang dibalas dengan gelengan. Saking
takutnya mereka tak berani bersuara.
Tiba-tiba sesorang mencekikku
dari belakang. Tanpa berfikir panjang aku langsung mengikuti instingku, membantingnya
ke depan. Lalu mematahkan lehernya. Oh,ini
pria satunya. Tak seperti pria tadi, yang satu ini mudah dikalahkan.
Situasi sudah mulai aman. Awalnya
kukira begitu. Saat aku bersama korban lainnya melewati kobaran api, kami berhasil
melewatinya. Namun saat aku berada di ambang pintu, sesuatu menimpaku. Dan
rasanya panas. Aku kehilangan kesadaran. Haah,
semoga saja yang lainnya selamat.
***
Satu minggu berlalu setelah
insiden itu. Aku baru saja siuman. Sekarang aku masih berada di Rumah Sakit.
Bersama keluargaku, teman-temanku, daan … para fansku mungkin? Yah, mereka
adalah 6 perempuan yang menjadi korban di hari itu. Setiap hari mereka
menjengukku. Tak henti-henti mengucapkan kata ‘Maaf’ dan Terima Kasih’.
Aku selalu penasaran apa yang
dilakukan El sampai rumah itu bisa terbakar. Tapi yang selalu ia katakan hanya
: “Orang Jenius selalu punya cara sendiri,” dan itu membuatku kesal. Tapi tak apa,
aku berhutang banyak padanya. Karena dia yang memberiku pertolongan pertama
sekaligus orang yang membawaku ke Rumah Sakit setelah aku tertimpa kayu besar
yang terbakar.
Oh ya, terakhir. Sekarang aku
terkenal. Banyak koran dan berita yang membahas tentang kepahlawananku. Tentu
saja. Aku berhasil menangkap 2 buronan dan menyelamatkan 6 orang korban
penculikan. Karena itulah banyak orang yang mengenal Alanna saat ini.
“Eh, Al! Selama kamu koma, banyak
yang nge-follow kamu loh di
Instagram,” ujar El. “Aku konfirmasi semua, enggak apa-apa kan?”
Hei lihat! Aku berhasil menyusul
Kak Ena. Dengan caraku tentunya. Dia dan aku tak ada bedanya sekarang.
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)