Seputar Takdir, Allah tahu yang terbaik
Kisah Unik Dari Seorang Pelayan
“Khayr…! Pesanan dari
meja nomor 10 belum dianter nih,” teriak seorang perempuan di Meja Kasirnya.
Sambil sibuk merapihkan poni rambut yang
sebenarnya tidak berantakan.
Aku yang mendengar
teriakan itu dari meja 3 menggerutu. “Kenapa tidak kau saja? Aku sedang
mebereskan meja,” jawabku.
“Aku?! Kamu ga liat
apa aku juga lagi …,” Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ia melirik siapa
pelanggan yang ada di meja 10.
Ternyata pelanggan itu
adalah lelaki berwajah rupawan yang sedari tadi memerhatikannya. Dengan begitu
Amel langsung menghampiri lelaki itu dengan mengantarkan pesanannya.
Melihat itu aku jadi
kesal sendiri. Lihatlah wanita centil yang cantik karena make-up setebal tiga
senti itu. Dia selalu saja mencari-cari perhatian lelaki tampan yang datang ke
Café ini. Ah! Gawat, aku mulai sirik lagi ke Amel (Karena pada dasarnya Amel
sudah cantik). Harusnya aku berterima
kasih pada cowok tampan meja 10 itu. Karenanya lah Amel mau bergerak membantu.
Saat aku kembali dari Dapur
meletakkan piring-piring kotor, aku melihat ada seorang perempuan yang sedang
membaca-baca menu di Meja Kasir. Amel tidak ada di sana. Akhirnya aku juga yang
harus turun tangan. Aku pun mendekati perempuan itu.
“Silahkan Ka, mau
pesan yang mana?” tanyaku sopan.
“Engga Mba, saya cuma
mau liat menunya aja,” Perempuan itu menjawab judes. Lanjut sibuk membaca menu.
Huft… Aku harus sabar,
“Kopi hitam gula jawa Café kami sangat terkenal kelezatannya loh Ka, ga
penasaran mau nyobain?”
Perempuan itu menatap
kepalaku sinis. “Mba, kalo ga pake kerudung itu enak loh. Adem, rambutnya ga
lepek. Mba ga penasaran mau nyobain?” balasnya dengan tangan menyila di
perutnya.
Aku terkejut mendengar
ucapan Kaka ini. Apa hubungannya dengan
hijabku? Karena itu aku hanya diam.
“Ga enak kan Mba
pendiriannya diganggu? Dari awal tujuan saya memang cuma liat menu. Jangan
seenaknya diubah dong,” Perempuan itu berlalu. Meninggalkanku yang masih syok.
Aku berani bertaruh.
Perempuan tadi pasti Mahasiswa di Jurusan Hukum. Dia cukup mahir bersilat
lidah. Heh, dosa. Taruhan-taruhan!
Amel menghapiriku
setelah selesai mengobrol dengan pria meja 10. “Eh, itu pelanggan meja 7 ama 5
udah kelar. Beresin mejanya gih,”
Dasar anak ini! Sudah
meninggalkan kasir begitu saja, seenaknya menyuruh-nyuruhku lagi. Kalau saja
tadi dia tidak berlama-lama di meja 10, mungkin dialah yang menjadi korban
lidah tajam Perempuan Hukum tadi.
Aku menghela nafas
berat. Melangkah malas ke arah meja kotor yang kosong. Mulai membersihkannya. Sampai kapan aku harus merasa tertindas
seperti ini? Oleh Amel, Bos, mereka sama saja. Selalu buta terhadap perjuangan
seseorang.
Sudah hampir 1 tahun aku bekerja disini. Tidak ada peningkatan dalam pekerjaanku. Bukannya aku mau kerja di
Café ini, tapi apalah daya bila hutang orang tuaku menumpuk di Rumah? Maka aku
berinisiatif mencari kerja untuk bantu melunaskannya. Akhirnya aku mendapatkan
pekerjaan ini. Menjadi pelayan di sebuah Café. Gajinya sih lumayan. Tapi
ternyata tugas-tugasnya sangat melelahkan.
Tapi tak apa. Saat itu
aku memilih untuk berusaha sebaik mungkin. Melakukan semua pekerjaan selagi aku
bisa. Siapa sangka, justru dari situlah Amel mulai sering menyuruh-nyuruhku.
Aku bekerja keras karena berharap Bos akan menaikkan gajiku. Atau setidaknya
sedikit menghargaiku. Ternyata tidak keduanya. Bos tetap menyetarakan gajiku
dengan Amel. Padahal Amel sering kali tidak ada saat jam kerjanya. Dan saat itu
akulah yang selalu menggantikannya. Dilihat dari mana pun ini tidak adil kan?
Harusnya aku bisa mendapat gaji tambahan dari Bos.
Ini semua pasti karena
kecantikan Amel dengan rambut ikal panjangnya itu. Karena salah satu kelemahan
Bos adalah senyuman manis dari perempuan bermata indah itu. Sungguh
menyebalkan. Apalah aku?
Aku sudah mencoba
untuk bekerja di tempat lain. Tapi sudah tidak ada lowongan kerja dimana pun.
Ada, sih. Di Bar. Mana mau aku!
“Emm, permisi Kaka
pelayan yang di sana!” panggil seseorang.
Aku menoleh, mencari
sumber suara. Tak jauh dariku seorang pria sedang mengangkat tangannya. Tersenyum
ke arahku. Aku pun mendekatinya.
“Ada yang bisa saya
bantu?”
“Saya dari tadi
memperhatikan gaya Kaka, sepertinya Kaka cocok
menjadi model busana muslim kami, apa Kaka mau bergabung?” ucap Pria
itu. Dia mengenakan topi merah di kepalanya.
“Eh, saya?!” Aku
terkejut mendengar tawarannya. Tak menyangka. Baru saja tadi aku memikirkan ini. Kenapa dengan mudah datang
sendirinya? “ Masnya seriusan nih?” tanyaku meyakinkan.
Pria topi merah itu
mengangguk sambil tersenyum. “Serius Ka, Kakak mau kan?”
“Mau!” Aku menjawab
kegirangan.
“Tapi sepertinya Kakak
sedang sibuk sekarang. Soal teknis dan penjelasannya nanti sore aja
dibahasnya,” Pria itu merogoh kertas kecil dari saku celananya. “Jam 5 sore
nanti datang ke alamat ini ya,”
“Iya! Insya Allah Saya
bakal datang tepat waktu,” janjiku. Aku mengambil kertas kecil yang ia berikan.
Tak lama dari itu Amel
memanggilku. Aku pun langsung mendatanginya. Ternyata dia menyuruhku menjaga
kasir selama dia ke kamar mandi.
Biasanya gaji model itu lumayan kan… Ya tuhan terima kasih kau berikan
aku petunjuk. Gumamku sambil senyum-senyum sendiri. Ah, saking senangnya
aku lupa menanyakan nomor telfon pria tadi. Sekarang dia sudah pergi.
Waktu berlalu sangat
cepat. Sekarang telah menunjukkan pukul lima sore. Setelah berdandan aku
langsung bergegas pergi ke alamat yang diberikan pria bertopi merah tadi. Baru
saja aku keluar dari Café, Bos mencegatku.
“Mau kemana?” tanya
beliau tegas.
“Ada urusan Bos,”
jawabku hati-hati.
“Tunda dulu, sekarang
kau bereskan stok biji kopi kita di Ruang Penyimpanan, kelompokkan mereka
sesuai jenis,” perintah Bos.
Hah…, kalau sudah kaya
gini mana bisa aku kabur. “Iya bos,” Aku langsung berjalan lemas ke Ruang
Penyimpanan. Saat aku sampai di dalamnya, ternyata tidak terlalu berantakan.
Cuma memang peletakkan biji kopinya masih tidak beraturan. “Kalau gini sih bisa
disembunyikan,”
Aku bergerak gesit
membereskan seluruh ruangan itu. Hanya dalam waktu 10 menit. Setelah semua ku
anggap cukup aman, aku langsung beranjak keluar. Saat aku memutar gagang pintu,
pintu tak bisa terbuka.
Gawat. Aku mencobanya
berkali-kali tapi tetap tak bisa terbuka. Aku mulai panik. Mengintip dari
lubang pintu. Ternyata Amel tak sengaja mengunci pintu Ruang Penyimpanan. Dia
tidak tahu bahwa tadi aku sedang di dalam. Dan sekarang dia tidak bisa
mendengar teriakan tolongku karena dia memakai headset.
Aku menyerah. Biarkan
saja takdir mengambil kesempatanku. Mungkin memang takdir untukkku itu
menyedihkan.
Keesokan harinya. Aku
terbangun karena silaunya cahaya dari pintu. Amel muncul di depan pintu.
Terkejut melihatku terbaring di dalam ruangan. “Hey! Sedang apa kau?”
Aku bangun tanpa
semangat. Dengan wajah lesu aku melewati Amel begitu saja. Berjalan menuju
kamar mandi untuk mencuci muka.
Keluar dari kamar
mandi, aku berniat meminta izin pada Bos untuk pulang sebentar. Badanku
lengket, mau mandi.
Aku menghentikan
langkahku ke Ruangan Bos saat aku mendengar suara dari TV.
“Dikabarkan Penculik
wanita yang telah lama dicari pelakunya telah ditemukan. Ternyata persembunyiannya
selama ini di… blablabla…,”
Aku mematung mendengar
kabar dari pembawa berita itu. Apa lagi saat TV itu menampilkan wajah si
Pelaku. Jantungku rasanya berhenti berdetak. Ternyata Pria yang menawariku
menjadi model kemarin adalah Penjahat. Astaga, apa yang terjadi bila kemarin
sore aku tidak terkunci di Ruang Penyimpanan? Mungkin aku sudah tidak bisa lagi
ke Café ini. Sungguh beruntungnya kesialanku kemarin. Aku harus berterima kasih
pada Amel setelah ini.
Terima Kasih Tuhan, kau telah melindungiku dengan cara-Mu.
Eits. Aku hampir lupa niatku tadi. Aku melanjutkan langkahku
untuk meminta izin pada Bos.
Aku hanya diberi waktu
setengah jam. Mati-matian aku mengejar waktu, pada akhirnya terlambat juga.
Tapi Bos tidak marah. Aku disuruh langsung melanjutkan pekerjaan.
Entah kenapa hari ini
aku merasa semangat. Mungkin karena terlalu lega karena masih bisa hidup. Syukurlah.
Café mulai ramai. Aku
bergerak gesit mengantarkan pesanan disana-sini. Membersihkan meja bekas
pelanggan. Mengantar menu. Dan kegiatan lainnya. Di tengah kesibukanku tersebut
aku menyadari bahwa sedari tadi aku diawasi. Oleh mata yang posisinya berada di
meja 10. Dengan waspada aku mengecek siapa orang itu. Ternyata, hanya pelanggan
tampan yang dikagumi Amel kemarin. Tapi agak sedikit mencurigakan sih. Aku pun
memberanikan diri untuk bertanya.
“Mohon maaf, kenapa
dari tadi anda memperhatikan saya?”
“Ah! Maaf membuatmu
terganggu. Saya hanya penasaran. Pelayan kemarin yang mengantar pesanan saya
kemana ya? Haha..,” jawab Pria Tampan itu gagu.
Mendengar jawaban itu
rasanya aku ingin menampolnya. Tapi bisa-bisa Bos menendangku keluar dari Café
ini. “Oh, begitu. Tadi Amel pergi ke Warung beli gula,” ucapku masih dengan
senyum lebar. Demi menutupi kekeselan hati.
“Terima Kasih atas
infonya,” Pria itu membalas dengan senyuman dua kali lebih lebar. Membuat
lesung di pipi kanannya terlihat jelas. Dan membuat level ketampanannya naik ke
level expert.
Kalau aku perempuan
biasa seperti Amel, mungkin aku sudah menganga atau bahkan pingsan. Tapi saat
ini aku sedang fokus terhadap hal lain. Rasanya
Pria ini mirip seseorang…
Lupakan kejadian aneh tadi. Setelah Amel datang aku langsung
tersingkirkan sampai ke teras Café. Lanjut menyapu lantainya. Karena cuaca agak
sedikit panas, beberapa kali aku harus mengelap peluhku di leher. Saat itu, ada
sesorang mendekat.
“Si Mba kegerahan.
Gimana, mulai tertarik untuk membuka kerudung?” Itu adalah suara dari orang
yang menempel di ingatanku. Dia adalah si Perempuan Hukum.
Aku mengacuhkannya. Lanjut
menyapu. Orang seperti ini bila ditanggapi akan seperti menghitung jumlah pasir
di Pantai. Tak ada habisnya dan hanya membuang waktu.
“CIH! Sok nyuekin, ga
tau aja lu gua siapa. Liat aja nanti, kamu bakal nyesel karena keputusan itu,”
Perempuan Hukum itu pergi.
Apa-apaan dia? Mengganggu hariku yang penuh
semangat saja.
Hari-hari berlalu
menjadi minggu. Dan hari ini hari terakhir aku kerja sebelum libur mingguan.
Selama 4 hari terakhir, Pria Tampan pujaan Amel itu menjadi pelanggan tetap
yang selalu duduk di meja 10. Dan ngobrol bersama Amel tentunya. Karena Pria
Tampan itu aku jadi harus lebih sering menggantikan Amel di Kasir.
Tapi anehnya, aku
sering menangkap Pria Tampan itu sedang memerhatikanku. Saatku bertanya,
jawabannya selalu kurang meyakinkan. Seperti, “Saat aku menatapmu aku sedang
berfikir apa aku jadi memesan minuman lagi atau tidak,” atau “Aku ingin meminta
bantuanmu tapi tidak tega melihatmu sedang sibuk,” atau yang lebih aneh lagi
“Sepertinya aku sering melihat serangga kecil di kerudungmu,”
Semua jawaban itu aneh
bukan? Maka dari itu akhir-akhir ini aku mulai waspada terhadapnya. Dan lagi,
Mahasiswi jurusan hukum itu tidak pernah absen menggangguku. Untungnya sampai
saat ini aku masih sabar. Jadi semua ejekannya itu tak pernah kubalas selain
ekspresi datar.
Amel? Hah! Sikapnya
makin menjadi-jadi. Semenjak ia sering ngobrol dengan Pria Tampan, dia menjadi
tambah malas. Kerjaannya hanya menanti kedatangan Pria itu. Setelah datang, dia
terus mengobrol sampai lupa waktu. Setelah pria itu pergi dia akan duduk galau
di Meja Kasir sambil berbicara dengan cermin. Gila, bukan? Inilah pengaruh
cinta terhadap orang alay.
Yah… mungkin pekan ini
memang sedikit berbeda dari biasanya. Mulai dari Pria yang mengajakku menjadi
model yang ternyata Penjahat, Pria Tampan si pengawas, Perempuan jurusan hukum
dan lidah siletnya. Aneh sekali.
Kurasa aku harus
melupakan semua itu. Karena besok aku akan libur. Walau hanya satu hari, itu
cukup untuk mengistirahatkan kisah anehku ini. Setidaknya tidak akan ada yang
menggangguku di Rumah, kan?
“Besok datanglah ke
Café jam 9 pagi,”
Lupakan soal liburan.
Ada apa dengan Bos yang tiba-tiba memintaku datang di hari libur? Hal ini masuk
ke dalam list ‘Sebab Pekan Aneh’ ku. Tapi apa yang bos inginkan? Apa dia akan
memecatku? Atau, menghukumku dengan tidak ada libur? Haah…! Baru saja aku
menghibur diri dengan libur besok. Kenapa Bos malah membuat semua tambah buruk?
Semua ini melelahkan.
Hari Minggu. Seperti
yang diperintahkan, aku datang ke Café tepat jam 9. Memasuki Café kosong tanpa
tahu apa yang akan terjadi. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Pria Tampan
si Pengawas sedang duduk santai di meja favoritnya. Sambil meneguk segelas
kopi, dia tersenyum ke arahku.
“Hey, hari ini Cafenya
tutup loh,” ucapku kurang yakin. Apa yang sebenarnya terjadi.
“Kau masih belum tau?
Ternyata isi otakmu itu hanya kerja saja,” Tiba-tiba suara perempuan muncul
dari belakangku. Suara dari lidah khas
yang kukenal.
Aku menoleh ke
belakang. Perempuan jurusan hukum sedang berdiri bersandar di kenok pintu. Dengan
gayanya yaitu tangan menyila di depan perut. Aku melirik Pria Tampan dan
Perempuan hukum bergantian. Apa yang akan
terjadi? Siapa mereka sebenarnya? Apa berhubungan dengan Pria bertopi merah
yang memintaku menjadi model itu?
Suara tepukan tangan
terdengar tiga kali. Seorang lelaki muncul dari kegelapan. Tersenyum lebar ke arah
kami bertiga. “Tenang, Khayr… Ga usah tegang gitu,” Itu adalah Bos! Walaupun
Bos bicara seperti itu aku masih belum tenang.
“Aku anak pertama
pemilik Café ini,” akhirnya si Pria Tampan bersuara.
Mendengar itu mataku
langsung melebar.
“Gua adenya dia,”
Perempuan hukum menambahkan.
Double Kill! Yeah,
mungkin seruan itu bisa mewakilkan perasaanku saat menerima informasi tak
terduga dalam waktu bersamaan.
“Yap! Khayr, anak
cowok ini adalah atasan saya. Karena dia sudah kembali dari luar kota maka Café
ini akan kembali dipegang olehnya. Seminggu terakhir ini dia benar-benar
tertarik padamu. Dia bilang kau adalah pekerja keras yang tangguh. Bahkan tak peduli
oleh ejekan-ejekan adiknya,” jelas Bos panjang lebar.
Setelah mencerna
kata-kata Bos aku kembali menatap Pria Tampan. Dia tersenyum memamerkan lesung
manisnya. Ah! Aku ingat. Wajah Pria ini mirip dengan foto pemilik Café yang
dipajang di dinding. Sekarang aku percaya seutuhnya.
“Ehem, emm… Boleh
kutau dimana alamat orang tuamu?” Pria Tampan itu bertanya malu-malu. Adiknya
saja sampai ilfeel melihatnya.
“Untuk apa?” tanyaku
polos.
“Woy! Udah dibilang
Kaka gua demen ama lu masih pake nanya!” Adik perempuannya tak sabar melihat
sikapku. “Mau ngelamar elu lah..!”
“Sabar Din,” Abangnya
mengingatkan.
Oke, pekan dengan
hal-hal aneh ini ditutup dengan hal yang terlalu membingungkan. Bagaimana
perasaan kalian bila sedang di posisiku?
“Bagaimana Khayr? Kamu
mau kan jadi istrinya Dimas?” Bos memastikan.
Mendengar ucapan bos
tadi mebuatku canggung. Sekarang aku tak berani melirik Dimas. Ah… ternyata
Pria tampan itu bernama Dimas.
“Kalau kamu bersedia
otomatis kamu menjadi Pemilik Café ini. Kamu ga bakal ngerasain ketidak adilan
saya lagi dalam memberikan gaji. Yah, semoga kamu memaafkan saya tentang itu,”
tambah Bos.
“Terus Amel gimana
Bos?” tanyaku. Tiba-tiba saja teringat saat Bos menyebut kata ‘gaji’.
“Eh! Sekarang bosnya
itu abang gua tau,” Adiknya Dimas tak terima.
“Din…,” tegur Dimas
lagi. “Ah, soal aku sama Amel itu Cuma alesan biar bisa tau kamu lebih dalam
aja. Ga ada hubungan spesial. Jadi jangan salah faham,”
“Saya akan pergi
bersama Amel atas suruhan Dimas. Dia pengen kamu benar-benar memulai hidup baru
bersamanya,” jawab Bos. Ralat. Mantan Bos.
“Aww…, so sweet…,”
Adik Dimas menggodanya. Dimas hanya tersipu malu.
Aku terdiam cukup
lama. Memikirkan keputusan yang harus aku ucapkan. Tentu saja semua menungguku.
“Apa kau tau aku dari keluarga pas-pasan?”
“Banyak yang belum
kuketahui darimu. Tapi aku rasa semua itu bukan masalah,” Dimas menjawab
santai.
“Aku… hanya merasa
tidak pantas,” ungkapku akhirnya.
“Tidak pantas apanya?
Semua ini pantas untuk membalas kerja kerasmu selama ini. Kau selalu melakukan
apa yang kau bisa dengan kesungguhan. Tidak peduli walau hasilnya tetap tidak
menaikkan gajimu. Semua ini pantas untuk semua kesabaranmu sampai saat ini
Khayr,”
Aku terharu mendengar
balasan Dimas. Tuhan, kau sengaja mengirimnya padaku di minggu terakhir ini.
Kau memang adil. Ternyata inilah rencana yang telah kau siapkan selama
penantianku. Aku hanya berharap gajiku ditambah. Tapi ternyata Kau berikan Café
ini untukku. Awalnya kukira di libur pekanan ini aku bisa beristirahat sejenak
dari lelahnya kerjaanku. Ternyata Kau berikan padaku waktu istirahat selamanya
di pekerjaanku ini.
Selang beberapa detik,
akhirnya aku mengangguk. Semua bersorak ‘Alhamdulillah’
Percayalah bahwa kerja
keras selalu mebuahkan hasil yang indah, kawan. Walau harus mengeluarkan
kesabaran yang extra. Hasilnya selalu akan lebih indah dari semua itu. Bahkan
hasil itu tak pernah kau sangka sebelumnya. Karena Tuhan itu Maha Adil.
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)