Perkara Waktu
Time Recycle
Sekalinya gagal, maka tak pernah tersedia tombol replay. Ia
adalah waktu.
Sebagai manusia yang banyak melakukan kesalahan selama bernafas,
seringkali aku membiarkan detik begitu saja terhempas. Karena aku benar-benar
lupa, ada program bernama waktu yang terus dilepas. Hingga di akhir, aku hanya
bisa berkata, “Kenapa dulu aku ga gini,” “Kenapa pas SMA aku ga gitu?”
“Harusnya dari kemarin ya…,”
Awalnya kukira kesempatanku sudah
habis. Memang iya waktu tak pernah bisa diulang. Sebab itu aku sering putus asa
terhadap diriku sendiri. Tapi ternyata aku menemukan kesempatan lain di sebuah
celah, tanpa harus memohon pada peri serba bisa untuk mengulang waktu. Karena sampai
kapan pun itu tidak akan terjadi, kan?
Begini kisahnya. Ketika aku diberi
kesempatan oleh sesuatu yang kuanggap sebagai kesalahan, di atas keterpurukan
mengecewakan. Sebuah kesia-siaan waktu di masa lalu yang ku-daur ulang.
4 tahun lalu…
Ini sudah hari ke-3 aku tak tidur
seharian. Sudah mulai merasa sakit kepala. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar
untuk beristirahat. Di sampingku terdapat 5 sampah bungkus kopi instant
semenjak kemarin ku seduh untuk membantu mata agar tetap terbuka. Botol-botol
air mineral kosong bertebaran di sekitarku. Begitu pula dengan bungkus-bungkus
makanan ringan.
Mataku sakit melihat pemandangan
itu. Aku pun beranjak pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Di wastafel, aku
melihat tampangku di pantulan cermin. Ngeri sendiri melihat dua lingkaran hitam.
Aku prihatin terhadap diriku. Aku keluar kamar mandi dengan wajah basah.
Staminaku yang tadinya -5 bertambah menjadi 0. Tidak mungkin bisa fit dengan
angka positif jika belum tidur selama dua hari, kan?
Aku kembali duduk di posisi
sebelumnya. Di meja belajar, tepat di depan laptop dengan kursi lengkap
sandaran. Menekan spasi untuk melanjutkan serial drakor yang tinggal 2 episode
lagi kuselesaikan.
2 jam kemudian, satu drama kembali
berhasil kutamatkan. Aku berljalan lemas ke Kasur empukku. Berbaring, melepas
semua lelah sambil menikmati sensasi dingin dari kompres mata yang sudah
kusiapkan untuk tidur panjangku ini. Tak butuh satu menit bagiku untuk pulas
tertidur.
Keesokan paginya
aku bangun dengan keadaan segar. Segera mandi dan bergegas pergi ke sekolah.
Ini memang rutinitasku seminggu sekali. Dimulai setelah pulang sekolah hari
Jum’at.dan biasanya berakhir di hari Minggu sekitar jam 2 siang. Sisa waktu
yang kupunya kuhabiskan untuk tidur. Agar tetap terlihat segar di sekolah. Dan
kebetulan, minggu ini jadwal datang bulanku. Jadi aku benar-benar bebas tanpa
tertunda waktu sholat.
Seperti biasa aku
pergi dengan menggunakan ojol. Langsung meluncur ke Sekolah. Sampai di tengah perjalanan
aku teringat ada 2 PR Matematika yang belum kukerjakan.
“Gawat,” gumamku.
Segera ku menarik tas selendangku. Mengeluarkan buku catatan dan langsung mengisi
soal-soal dengan jawaban yang kuhitung. Keringat dinginku berkeluaran. Rasa
panik mulai menguasai. “Sempet engga ya..,”
10 soal berhasil
kuselesaikan. Walaupun terdapat angka yang cukup sulit, bagiku si Penempat
rangking satu tak terkalahkan tentu bukan masalah. Tinggal satu PR lagi,
membuat artikel tentang si Penemu angka nol. Kesialan pun menghampiri. Karena saat
aku membuka hp-ku untuk mencari referensi, kuotaku telah habis masa berlakunya.
“Ah! Sekarang aku harus bagaimana?” keluhku putus asa.
Beruntunglah aku.
Selain jalanan yang macet karena sedang ada pembangunan, Mas Ojol dapat dengan
lancar bercerita tentang sosok Al-Khawarijmi si Penemu angka nol. Dengan
kepintaran dan keahlianku yang juga lihai saat menulis, semua PR kuselesaikan
tepat saat sampai di depan gerbang sekolah. Belum lagi saat aku melewati
gerbang, Wali kelasku masih sedang memikirkan motornya.
“Syukurlah. Kurasa
aku harus meberi banyak tip untuk Mas Ojol tadi,”
Guru memuji semua hasil jawabanku. Termasuk artikel singkatnya.
Bahkan beliau menempelkannya di Mading sebagai bentuk apresiasi. Semua Siswa
pun kagum dan memberi selamat. Tanpa ada yang tahu kapan aku mengerjakannya.
Ini diriku di
Sekolah. Siswa berprestasi yang sangat dibanggakan. Tak usah tanyakan bagaimana
bisa. Ini memang sudah lahir. Tanpa pengasahan khusus. Kalian tahu sendiri, aku
seorang pecinta Korea yang menyukai segala hal tentang mereka. Entah itu drama
atau Para Penyanyinya. Merekalah kesibukanku selama di Rumah. Tak ada belajar,
kecuali bila ada tugas saja. Waktu
belajarku hanyalah di Sekolah. Cukup perhatikan penjelasan dengan teliti,
setelah itu akan langsung mengerti dan selalu teringat. Aku bersyukur atas
kelebihanku.
Tingkat prestasiku
cukup unutk membuat Pak Kepsek mengirimku ke ujian seleksi untuk transfer
Pelajar ke Luar Negeri. Tentu aku sangat ingin mengikutinya. Tapi setelah
mendengar aku harus melewati 5 seleksi dengan nilai sempurna, aku mulai ragu
untuk tetap berpartisipasi. Belum lagi soal untuk seleksinya langsung diberikan
oleh Ketua Pendidikan sana. Itu berarti semua soal berbahasa Inggris. Bagaimana
bisa aku mengerjakannya?
Sayangnya saat aku mau menyerah, Pak Kepsek malah memohon
padaku untuk tetqp mengikutinya walau akan gagal. Karena sekolahku termasuk
sekolah yang diundang langsung oleh atasan. “Cuma kamu harapan kita Vi. Selain
kamu Bapak ga tau harus minta siapa lagi. Sebagai rasa hormat, kita harus
mengirim setidaknya satu siswa untuk mengikuti seleksi, apa salahnya ikut? Toh
semua biaya ditanggung sekolah. Kamu tinggal kerjain soal aja,” begitu pinta
beliau.
Dengan berat hati,
akhirnya aku menerima permintaan tersebut.
Proses
penyeleksian pun berjalan. Sebenarnya bisa saja aku gagal di seleksi pertama,
Tapi nasib berpihak padaku. Karena seleksi pertama adalah soal matematika.
Banyak soal yang hanya menggunakan angka saja. Tanpa harus berpikir lama untuk
mengartikan soalnya. Dan akhirnya, aku langsung gagal di seleksi ke-2 dengan
soal penuh dengan kata-kata inggris yang sulit kumengerti. Begitulah akhir
seorang diriku sebagai Siswa Jenius.
Dari situ aku
mulai sadar. “Kenapa aku gak lebih banyak belajar aja dari dulu? Dengan
kepintaranku seharusnya aku bisa mendapat kesempatan itu dan akan sangat sukses
nantinya. Ini semua karena aku lebih menghabiskan waktuku untuk menonton drama
dan stalking bias dari pada belajar,”
“Hah… iya waktu.
Kalau sudah salah di awal begini, bagaimana aku bisa memperbaikinya? Kenapa aku
harus lupa waktu itu tidak pernah bisa diulang?” Aku menangisi diriku sendiri.
Menyesali banyak hal yang sudah tak berarti.
2 minggu lagi
sekolahku akan menjalani Ujian Nasional. Yang kubisa lakukan sekarang adalah belajar
dan melakukan yang terbaik di ujian nanti. Dan lucunya, aku masih saja menonton
drama korea. Tak sesering biasanya, aku hanya menjadikan itu sebagai refreshing
di pertengahan belajar.
Aku juga baru
menyadari betapa parahnya aku menyukai Korea setelah aku menonton salah satu
episode yang tak terdapat subtitle-nya. Bayangkan. Saking seringnya aku
menonton drakor, sampai bisa mengerti apa yang mereka ucapkan. Haha, begini
jadinya orang pintar bila sering mendengar Bahasa asing.
H-1 sebelum Ujian
Nasional. Aku iseng pergi ke Sekolah untuk melihat apa yang dilakukan Para Guru
di hari itu. Karena itu hari Minggu, aku keluar rumah menggunakan style santai.
Rok jeans dengan kerudung ungu dan jaket hitam berlogo BTS berwarna keunguan.
Semenjak menjadi ARMY (fandom BTS) aku sangat suka warna itu.
Sesampainya di
depan gerbang, aku melihat seorang turis wanita sedang berdiri di depan sana.
Menggunakan masker dan kacamata hitam, dengan koper di tangan kanannya. Sedang memeriksa
hp, terlihat kebingungan.
Aku berniat
mengacuhkannya sampai tiba-tiba ia memegang tanganku. “Hey, your jacket is
so pretty,[1]”
ucapnya sambil membuka kacamata untuk melihat jaketku lebih jelas.
Kalau diperhatikan,
mata dan cara dia bicara Bahasa inggris tadi terlihat seperti orang korea. Aku
pun memberanikan diri untuk membalasnya.
“Kamsahamnida,
gabang igodo kwiyopda,”[2]
balasku ragu. Sambil memegang tas selempangnya yang ternyata juga bertemakan
BTS.
“Hangug-eo hal
jul aseyo?”[3]
tanyanya.
“Ne, jogeum,”
jawabku dengan anggukan kecil. “Ah! Dowa deulilkkayo?”[4]
“Daebak!” [5] ujarnya
terkejut. Seolah masih belum percaya.
Singkat cerita,
pertemuanku dengan Perempuan Korea itulah yang membawaku kuliah di sini. Sejak
pertemuan tak sengaja itu, kami semakin akrab. Dia pernah menginap di rumahku. Tercengang
melihat dinding dengan banyak tempelan poster Korea. Setelah mendengar bahwa
aku bisa Bahasa Korea dari menonton banyak dramanya, ia sangat kagum. Mungkin
dia tak habis pikir berapa banyak drama yang kutonton.
Siapa sangka ternyata
dia adalah salah satu manajer di sebuah Agensi yang mengeluarkan banyak drama.
Semuanya habis kutonton. Dengan alasan itu, Ia ingin sekali mengajakku ke
Korea. Dia bahkan mengajukan surat rekomendasi ke salah satu SMA di sana.
Setelah aku lulus dari sana, Ia juga yang mengarahkanku ke Jurusan Televisi dan
Film. Berharap aku bisa menjadi sutradara hebat yang menghasilkan banyak film
nantinya.
Ternyata dia sebenarnya
ingin sekali mempunyai adik perempuan. Semoga saja aku benar-benar bisa
membanggakannya suatu saat nanti. Atas rasa terima kasihku.
Lihat? Semua
kesuksesan ini berawal dari percakapan ringanku dengan Bahasa Korea yang
kukuasai dari drakor. Bagi seorang turis, tentu sangat senang baginya dapat
leluasa mengobrol dengan Bahasa daerahnya.
Inilah celah yang
kumaksud. Aku bisa belajar di Luar Negri justru dengan cara yang sempat
membatalkanku pergi ke sana. Jalur kesalahan, yaitu fanatik korea. Waktu yang
sangat banyak terbuang untuk mereka sempat kukira benar-benar tak berguna. Sekarang
malah menjadi petunjukku untuk hidup di sini.
Ternyata, waktu dapat di-recycle. Yang sebelumnya buangan, bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga dan menjadi tangga untuk mencapai kesuksesan. Itu pun bila kalian pintar mengolahnya. Tapi aku yakin semua hal di dunia ini selalu ada manfaatnya. Maka jangan pernah putus asa ketika sadar waktumu habis sia-sia. Percayalah masih ada celah yang bisa kau lewati untuk mencapai kesuksesan. Temukanlah celah itu.
7 Juli 2020
[1]
Hey! Jaketmu cantik sekali
[2]
Terima kasih, tas ini juga lucu
[3]
Kau bisa Bahasa Korea?
[4]
Ya, sedikit. Ah! Bisa saya bantu?
[5]
Keren!
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)