Kenangan

 Berkorban Untuk Kenangan

19-07-2020

Piring kotor sisa sajian makanan ringan telah menumpuk di ruang tengah. Sampah snack berserakan dimana-mana. Terlebih lagi sampah gelas plastik mineral, sudah sangat memenuhi meja suguhan di ruangan yang dihuni para lelaki itu. Hanya tawa mereka yang terdengar.

            Sebagai tuan rumah, dengan cekatan aku membersihkan semua ‘kekacauan’ itu. Sampah kukumpulkan di kresek besar bekas bawaan buah tangan, sambil kuletakkan piring-piring berisi potongan buah di atas meja menggantikan piring-piring kotor yang langsung kubawa ke tempat cuci piring. Disana sudah ada orang yang mengurus sisanya.

            Aku beralih ke Dapur melihat kondisi juru-juru masak disana. Dengan profesioanal mereka tengah menyiapkan hidangan istimewa untuk makan siang. Cicip sana, cicip sini. Menambahkan bumbu di kuali sana. Mengaduk-aduk kuali besar sini, lalu menutupnya agar segera mendidih.

            “Aya, garamnya habis nih. Masih kurang asin. Beliin dong,” ucap salah satu dari mereka disaat aku mendekat ingin untuk membantu. Yah, sudah biasa sih begini. Aku memang orang yang sangat tak dinginkan kehadirannya di Dapur. Tapi aku tidak tersinggung sama sekali. Karena aku sadar aku memang hanya akan merepotkan bila ikut. Dan sebagai sahabat dekatku, mereka lebih tau itu.

            Aku beranjak pergi. Sesampainya di halaman rumah, aku berhenti untuk melihat sejenak pemandangan di sana. Bukan karena bunga atau tumbuhan hijau aku tersenyum lebar. Melainkan anak-anak balita yang sedang bermain bersama. Tawa riang merekalah yang memancing bibirku hingga bisa tersenyum selebar ini. Syukurlah mereka bahagia…

            “Ya! Mau kemana?” tanya seorang wanita yang sedang bermain bersama anak-anak. Karena itu adalah bagiannya.

            “Warung,” jawabku singkat. Aku langsung bergegas menuju pagar.

            “Mau ditemenin ga?” teriaknya sebelum aku benar-benar keluar. Belum sempat aku menjawabnya, salah satu anak yang sedang berlari terpeleset dan menangis. Dengan cekatan wanita itu menggendong dan menghiburnya. Sampai tangisannya reda.

            “Ga usah, kamu lebih dibutuhin di sana,” balasku teriak. Aku pun melanjutkan perjalanan.

            Hari ini memang hari Minggu. Tapi tak kusangka banyak sekali warung yang tutup. Menyusahkanku untuk mendapatkan satu bungkus garam saja. Akhirnya aku memutuskan akan membelinya di Supermarket seberang jalan besar. Walau sebenarnya aku agak takut menyebranginya. Tapi apa boleh buat, kalau garam tidak ada bisa-bisa reuni spesial ini akan terasa hambar. Tentu aku tak mau itu terjadi.

            Perlahan aku mulai berjalan sambil mengangkat tanganku ke samping. Kendaraan-kendaraan yang lewat di depanku masih motor. Sampai di jalur mobil, aku mulai tegang. Menelan ludah, maju secara ragu-ragu. Tiba-tiba, seseorang yang ikut menyebrang denganku berlari dan tak sengaja menyenggol. Karena saat itu aku sedang kaku, mudah saja badanku terjatuh lemas di atas jalan. Bertepatan dengan truk besar pembawa motor-motor baru sedang melaju di sampingku. Detik itu juga, aku sangat menyesal telah memilih Supermarket.

            “TIIIN…!!!” Truk itu berhenti tepat di depan wajahku. Sang Supir menghela nafas panjang, sangat bersyukur Ia masih sempat menginjak remnya.

            Dugaanku salah. Aku tak tertabrak. Segera aku berdiri dan meminta maaf pada Sang Supir. Aku menghela nafas lega. Sayangnya, nafas itu terpotong saat aku kembali tumbang tertimpa satu motor yang jatuh dari truk akibat tabrakan keras dari mobil-mobil di belakangnya. Belum lagi, truk yang sempat berhenti tadi sedikit terdorong maju dan berhasil melindas lenganku yang terkulai lemas di jalanan. Darah sudah mulai membasahiku sejak tadi.

            Tiin…! Tiin…! Tiin…!” Klakson mobil mulai bising di jalan raya itu. Orang-orang rusuh berdatangan. Beberapa lelaki mengangkat motor besar yang menimpaku. Ada juga yang langsung memanggil ambulans. Bersamaan dengan kesadaranku yang mulai menghilang.

            Dugaanku memang salah. Bukan tertabrak, melainkan tertimpa. Kalau begini aku bukan hanya merusak makan siang karena kurang asin. Aku bahkan telah merusak suasana Reuni Spesial ini dengan kabar kecelakaanku.

            Hari Minggu 24 Juli. Hari paling istimewa dalam hidupku. Semua momen indahku selalu terkenang pada hari itu. Bertemu sahabat-sahabat berharga, berlibur bersama, merayakan hari persahabatan setiap tahunnya, bertemu lelaki yang kucinta, dilamar olehnya, dan akhirnya menikah. Bahkan anak pertamaku juga lahir pada tanggal itu. Termasuk hari ini, acara reuni spesial yang dihadiri semua sahabatku bersama keluarganya.  

            Di saat aku tak sadarkan diri, aku berada di ruangan tanpa warna. Disebut putih pun kurasa kurang tepat. Aku hanya bisa menatap sana sini sampai akhirnya cahaya-cahaya silau berlewatan di depan mataku. Meski terasa sakit, aku berusaha menangkap cahaya apa itu.

            Ah, ternyata itu memoriku. Baru saja tadi aku mengingatnya, kali ini semua berputar ulang dan tampak nyata di depanku. Serasa aku sedang mengalaminya lagi. Indahnya…

            Semua masih baik-baik saja sampai tanpa sadar ruangan ini perlahan berubah gelap. Memori Cahaya di depanku sedikit memudar. Pada akhirnya cahaya itu tak lagi menampilkan memori yang pernah kualami. Aku mulai merasakan hawa yang tak enak saat memori aneh itu diputar.

            Sementara di luar sana, semua sahabat dan keluarganya tak henti berdo’a dengan rasa cemas yang tinggi. Karena Aya sedang menjalani operasi untuk mengobati pendarahan berat di kepalanya. Anak-anak yang walau tak begitu mengerti ikut murung dalam kondisi ini. Mungkin mereka berpikir, suasana yang tiba-tiba berubah ini telah membuat mereka tak bisa lagi bermain. Dan itu membuat mereka ikut murung,

            Dan di dalam ruangan, dokter tengah serius bercucuran keringat dengan alat-alat medis di tangan, berusaha mempertahankan kehidupan pasiennya.

            Setelah berusaha membiasakan diri, sekarang aku tau memori apa itu. Aku dapat mengingatnya, ruangan itu pun perlahan kembali terang. Memori aneh itu adalah memori buruk yang tak mau aku kenang.

            Pertengkaran-pertengkaran kecil di awal pertemanan sampai pertengkaran hebat saat aku dijauhi mereka semua karena tak sengaja membeberkan rahasia sesama teman. Atau saat kami semua berhalangan hingga tak merayakan ulang tahun pertemanan.

Ada juga saat salah satu temanku benar-benar membenciku saat aku dilamar lelaki yang juga diam-diam ia sangat cintai. Sehingga ia mengganggu hubungan rumah tanggaku dengan memfitnahku . Sampai suamiku benar-benar marah padaku. Di masa itu aku sangat depresi. Ditambah lagi aku tengah hamil anak pertamaku.

 Semua ini membuatku tambah depresi. Belum lagi ternyata memori buruk itu berputar lebih banyak dibanding memori indah. Membuatku menutup mata saat menyadari kenyataan tersebut. Seketika kepalaku sangat sakit. Sampai aku berteriak-teriak. “Aaargh…! Aku tak pernah mau mengingat semua ini!!”

Di Ruang Operasi. Para Dokter sedang berhati-hati membedah kepalanya. Memastikan organ apa saja yang cacat saat terkena benturan di dalam sana. Hingga mereka menemukan pendarahan di Celebrum[1] (otak besar) nya.

Aku terbangun dari pingsanku. Tapi ternyata aku masih di ruangan itu. Mencoba berdiri, mencari memori-memori yang tadi kulihat. Hingga mereka semua muncul begitu saja di depanku. Memori indah dan buruk. Keduanya mucul terpisah di hadapanku.

Mereka berputar bersamaan sehingga aku dapat melihat keduanya sama-sama melengkapi. Lama-kelamaan, kedua memori itu menyatukan putaran mereka. Nampak seperti suatu film sedang diputar ulang, yang alurnya sangat indah.

Aku mengerti. Kedua memori itu adalah kenangan bagiku. Baik buruknya sama-sama penting dalam hidupku. Walau aku tahu memori burukku sangat banyak, pada akhirnya aku pun tak mengenang semuanya. Kejadian- kejadian buruk itu ada memang untuk kuterima. Toh, ujungnya pasti indah.

Seketika aku mengingat Reuni Spesial di Rumah. Sampai sini itu adalah akhir yang sangat indah untuk menyudahi kenangan-kenangan itu. Berkumpul bersama kembali saat dewasa, ditambah dengan personil yang membanyak karena bersama keluarga.

Aku mulai menangkap kode ini. Itu artinya aku akan benar-benar tak melanjutkan kenangan, kan? Semua kisahku akan berhenti sampai disini.

Putaran kenangan di  depanku berhenti. Dan menghilang begitu saja.

“Saya rasa kerusakan bagian Celebrum nya sangat parah,” ucap salah satu Dokter di Ruang Operasi. Ia menghela nafas kecewa. “Kalau begitu kita langsung saja jahit kepalanya,”

Hei. Apa sebelum mati semua memori akan terhapus? Lantas bagaimana kita akan mengingat siapa saja orang yang kita cintai di akhirat? Bagaimana cara kita meminta pada tuhan bahwa di syurga nanti kita ingin bertemu dengan mereka?

Tiba-tiba mucul dua jalan tak berpintu di hadapanku. Aku yakin satu di antaranya adalah jalan menuju langit. Putaran kenanganku ternyata berada di salah satu jalan. Oh, aku mengerti maksud ke-dua pilihan itu sekarang.

Aku bimbang. Diantara memilih mati membawa kenangan, atau kembali hidup memulai kenangan lagi dari awal. Tanpa mengingat siapa dan apa pun nanti. Kalau begini, lebih baik mati. Apa artinya hidup tanpa kenangan? Sungguh menyedihkan.

“Gawat Dokter! Pasien kritis. Nadinya melemah!” teriak salah satu Suster panik.

Hei tunggu! Aku menghentikan langkahku saat melihat bayangan dari jalan sebelah. Terlihat semua orang kesayanganku sedang berdoa dengan wajah penuh harap agar aku selamat.

Aku membelokkan langkahku. Aku tak mau matinya aku nanti menjadi kenangan terburuk bagi mereka. Aku tau betapa sakitnya mengingat itu. Maka aku tak mau mereka merasakannya. Tak apa aku tak mengingat mereka. Toh, mereka pasti masih mengingatku. Itu sudah cukup menjadi bekalku nanti saat memulai kenangan baru.

“Syukurlah, pasien kembali stabil. Operasi berjalan lancar,”



[1] Bagian otak yang menyimpan memori jangka panjang dan pendek.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku