Egois?

 Si Egois

Drrt… drrtt… drrtt

            Getaran suara notif susul menyusul terdengar. Aku yang sedang serius mengerjakan skripsi melirik ke arah handphone. Layar hitamnya memperlihatkan pesan masuk di grup chat. Saat tau dari grup angkatan, aku hanya mengabaikannya. Kembali kepada tugas yang lebih penting. Siapa sangka, ternyata Handphone-ku tak berhenti berbunyi sampai terpaksa harus kumatikan.

            Aku menekan titik terakhir setelah sadar suara anak-anak berisik bermain di lapangan berganti dengan suara jangkrik malam. Skripsi memang menyeramkan. Membuatku lupa waktu melebihi saat ngerumpi dengan teman seangkatan.

            Hey tunggu! Aku langsung teringat Handphone-ku yang daritadi kuabaikan. Saat Hp ku kembali hidup, beribu notif menumpuk di grup angkatan. Aku mulai menduga hal-hal buruk sedang terjadi. Tak biasanya grup bisa ramai selama ini. Ada yang terkena musibah kah? Atau ada hal penting yang harus dibahas? Gawat, bagaimana nasibku yang tertinggal?

            Langsung kubuka grup chat yang ramai itu. Sebelum aku mulai me-scroll ke bawah, pesan terbaru muncul dengan tag namaku. Aku langsung membacanya.

            “Wah, akhirnya muncul neh ketua pejuang skripsi kite. Manteman…, dah nongol ni orangnye…!!” si Peramai Suasana memulai jobnya.

            “Iya nih. Dari tadi ditungguin tau ga?” si Follower menambahkan.

            “Gimana Sil, skripsinya? Udah nyampe mana?” tanya si Peka dengan segala perhatiannya.

            “Hai Silvy,” Si Pendiam masuk. Dengan nada… ya, kalian tau lah orang pendiam normal biasanya lembut-lembut anggun.

            “Silvy…!! Lu dari mana aja Say? Gue kangen banget tau,” Si Alay terngangenin muncul dengan gaya ucapannya.

            “Sombong emang dia mah. Lebih mentingin kuliah dari pada kita,” Si Sirik mulai beraksi.

            Aku tertawa sendiri melihat percakapan mereka yang tak merubah sifat mereka selama 6 tahun terakhir.

            “Iya neh. Sori baru nongol ya, habis nyelesein bab satu tadi,” Aku mulai nimbrung ke dalam obrolan. Sebagai pengistirahatan terbaik yang pernah ada.

            “Emang dari dulu ni Bu Ketua sibuk ama pelajaran mulu. Ga heran peringkat satu ga mau pindah. Ampe sekarang masih aja lagi. IPK tertinggi nama die mulu yang muncul,” Si Peramai Suasana memang selalu serba tahu. Dengan kemampuannya itu dia selalu bisa menghadirkan topik baru di setiap obrolan. Termasuk…, ‘gosip’.

            “Emang tuh. Pantesan aja dapet beasiswa. Mana S1 selese 2 tahun doang lagi,” Namanya juga si Follower. Kerjaannya ngikutin topik obrolan. Dia juga suka punya simpenan informasi.

            “Gila ya Si Silvy! Tu otak kaga pernah tidur apa ya? Orang biasa seperti diriku sih kuliah 4 tahun aja rasa kecepetan. Jangan bilang entar skripsi selese 2 hari doang,” oceh si Alay yang selalu memuji berlebihan.

            “Alay deh. Skripsi 2 hari kasian Dosen Pembimbingnya,” jawabku.

            “Jangan dipaksain loh Sil. Waktunya istirahat ya istirahat. Kalau sakit kan gawat,” si Peka memang kalau berbicara selalu menenangkan.

            “Halah! Sakit ya sakit ae. Siapa suruh semuanya dikejer cepet-cepet,” Kalimat menjatuhkan selalu dilontarkan oleh si Sirik. Iri tanda tak mampu

            “Semangat Silvy…,” hibur si Pendiam.

            “Bisa aja kalian. Aku ga ngejer-ngejer amat ko… Drakor masih sempet ketonton. Ga usah mikir aku bakal sakit gitu dong… Kalian doain aja,” balasku pada mereka. “Btw, tumben kalian aktifnya lama. Ada apaan dah?”

            “Iya sebenernya kita dari tadi nungguin kamu,”

            “Biasa lah. Sambil nunggu kita ngobrol-ngobrol aja biar ga bosen,”

            “Kenapa nih?” tanyaku pada si Peramai dan si Follower.

            “Mumpung semua udah ngumpul nih ya, aku mau nyampein sesuatu. Tadi aku liat si Egois pas lagi makan di Resto deket Mall. Dia lagi ketawa-ketawa gitu bareng temen-temennya,” Si Sirik menyampaikan. “Terus kan gua liatin. Pas dia nyadar, dia senyum,”

            “Lu jawab apa?”

            “Kamu nyapa dia gak?” Si Alay dan si Peka langsung bertanya.

            “Engga lah, ngapain gua sapa, senyumannya aja gua bales sinis,”

            “Kok gitu sih?” tanya Si Peramai heran.

            “Kasian tau dia, udah lama gak ketemu loh,” tambah si Follower.

            “Siapa tau dia mau minta maaf,” Si Pendiam mulai bersuara.

            “Eh! Aku juga pernah ketemu sama dia,” sela si Caper tiba-tiba.

            Semua orang serentak bertanya. “Dimana?”

            “Tapi ternyata bukan sih,”

            Semua membantai si Caper.

            “Udah gitu doang?”  tanyaku lagi pada si Sirik.

            “Iya udah gitu doang. Kurang panjang? Lu kalo ga niat dengerin kabar-kabar dari kita mending ga usah ditungguin dah,” jawab si Sirik dengan dendamnya.

            “Engga gitu, aku pengen tau aja lanjutannya,” jawabku sabar. Sudah terbiasa.

            “Sono lanjutin aja tugas Lu. Ga usah buka grup sekalian,”

            “Hey hey…, udah! Ga usah dengerin Sil, tau sendiri kan dia masih sebel doinya demen sama kamu,” Si Peramai melerai. Akhir-akhir ini itu menjadi tugas barunya.

            Grup hening sementara. Suasana memanas. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar. “Ya udah, aku tidur duluan ya gaes. Good night all…,”

            Mereka sudah bersama selama 6 tahun di sebuah Boarding School bernama Al-Faith. Selama itulah mereka menjalin hubungan pertemanan. Mereka adalah Angkatan terkompak dengan jumlah sedikitnya. Disebabkan beberapa kendala, banyak yang tak kuasa melewati hingga memilih berhenti.

            Singkat cerita, sesedikit inilah mereka sekarang. Dengan mulanya yang sering sebal karena tak kenal. Sekarang malah bisa benar-benar tau bagaiamana sifat, cara bicara, bahkan tindakan setiap personal. Beginilah bila kebersamaan terus dilalui dalam jangka waktu lama dengan jumlah sedikit.

            Di tahun ke-5, sekolah mereka mengadakan program organisasi kepemimpinan. Sejenis OSIS. Bedanya ini wajib diikuti semua anak angkatan yang memasuki tahunnya. Saat itu giliran angkatan tiga. Yang jumlahnya sangat sedikit dibanding dua angkatan sebelumnya. Di masa itu lah angkatan ini mengalami keributan hebat.

            Si Egois yang menjadi topik pembicaraan di gruplah penyebabnya. Dengan keputusannya berhenti sekolah di masa kesulitan. Dimana mereka sedang menjabat menjadi pemimpin.

            Mereka benar-benar kewalahan memegang ratusan siswa dengan jumlah terbatas. Apalagi Silvy. Posisinya sebagai ketua membuat tanggung jawabnya lebih berat. Ditambah lagi, saat tau kabar tentang wakilnya Qumil, keluar dari sekolah.

            Tidak ada yang tau apa sebab ia keluar. Dia benar-benar pergi tanpa berpamitan. Hanya meninggalkan robekan kertas kecil bertuliskan ‘maaf’ di ruangan rapat. Membuat semua betanya-tanya. Terutama Silvy, ia sangat tertekan saat tau wakil setianya pergi meninggalkannya begitu saja.

            Mengingat masa itu, air hangat berkumpul di ujung mata Silvy. Ia mendongakkan kepalanya. Berharap air itu tak jatuh. Lalu mengelapnya. Yang Ia tangisi bukan tentang susahnya saat menjadi ketua sendirian. Tapi hari dimana Ia bertemu Qumil di sebuah Supermarket.

            Hari itu Dia sedang membeli hadiah untuk Pemenang Acara Classmeeting yang mereka selenggarakan. Saat Ia menyerahkan uang total belanjaan, Penjaga Kasir tak menerimanya.

            “Tak usah,” ucapnya lembut. Silvy terkejut saat sadar Penjaga itu mantan wakil setianya. “Lagi ada acara di Al-Faith ya? Semangat…,”

            Mereka mengobrol sebentar. Karena masih banyak yang harus diurus. Waktu singkat itu menjawab banyak pertanyaan.

Kedua orang tua Qumil bercerai dan pergi dari rumah tanpa membawa anak satu pun. Qumil terpaksa harus berhenti sekolah, menjual handphone, dan mencari pekerjaan demi bertahan hidup bersama adiknya. Selain menjadi Penjaga Kasir, Ia juga menjadi Pelayan di sebuah Resto dekat Mall.

            Saat mendengar semua itu, Silvy ingin protes. Belum sempat ucapan terlontar, Qumil lebih dulu berbicara dengan air matanya.

            “Hari saat aku melihat kondisi itu sangatlah menyakitkan Sil, tapi yang membuatku lebih sakit adalah saat tau kenyataan bahwa aku tak pernah bersama lagi dengan kalian. Aku tak ingin mengganggu kebahagiaan kalian dengan nasibku. Biarkan saja. Tak usah beritahu yang lain.

            “Aku tak pernah menyangka akan bertemu orang-orang seperti kalian. Akrab saja rasanya seperti mimpi. Hanya rasa senang yang aku rasakan bersama kalian. Karena itu aku yakin, kebersamaan di saat hati bahagia penuh kegembiraan itulah yang menguatkanku di tempat yang berbeda. Aku tetap bahagia,” ucap Qumil dengan senyuman tulusnya.

            Mengingat semua itu, Silvy hanya tersenyum. Darimu aku belajar arti kebersamaan Mil. Merasa bersama di kala sendiri. Itulah arti sebenarnya.


28 Juni 2020


Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku