Fact of Magic

Sejak mengetahui lautan bisa terbelah dan angin bisa dikendalikan, Zavk pergi merantau untuk mencari guru yang bisa mengajarinya mantra itu. Sejauh ini, yang paling dia kuasai hanya memindahkan dan mengubah benda-benda kecil di sekitarnya. Itu pun masih level paling rendah. Dia belum bisa memindahkan singgahsana raksasa dari suatu tempat ke tempat lainnya dalam sekali kedip seperti yang dilakukan kakek moyangnya dulu. Atau mengubah tongkat menjadi ular besar dan panjang. Jangankan besar, ular yang Zack hasilkan dari mantranya bahkan bisa dipastikan tidak hidup.

“Kenapa kau keras kepala sekali Zavk?! Harusnya kau dengarkan Guru untuk melatih dulu mantra yang kau punya sekarang!” omel Carrl yang dipaksa Zavk untuk ikut perantauannya. Kini mereka sedang berjalan di tengah hutan yang sangat rimbun.

Zavk tetap diam mendengar omelan teman rantaunya yang sudah beribu kali itu. Dia tahu persis, menjawab hanya akan membuat Carrl tambah mengoceh panjang. Temannya memang sangat cerewet.

“Aku tahu, aku sangat cerewet dan berisik selama perjalanan ini. Tapi justru itu harus sangat kau syukuri Zavk. Semua yang kukatakan itu demi kebaikan kita. Bahkan demi ketentraman dunia sihir. Kau tahu sendiri kan, Penyihir seperti kita ini harus selalu bersembunyi dari manusia bias..,” Kalau bukan karena tebing di depannya, dia pasti akan terus mengoceh. Zavk mengulurkan tangannya untuk membantunya naik.

“Kita juga manusia biasa seperti mereka, hanya saja diberi kemampuan lebih bisa mempelajari mantra,” Zavk akhirnya bersuara. Dia segera mengeluarkan peralatan mendakinya dari ransel. Memasang beberapa alat dan mengaitkan tali di tubuh Carrl agar mereka bisa sama-sama aman.

“Biar aku saja,” Carrl merebut tali itu. Memasangnya di tempat kaitan yang dipasang Zavk barusan. “Tapi Zavk, menurutku kita bangsa penyihir jauh berbeda dengan mereka, bla.. bla..,”

Seperti biasa Zavk menganggap ocehan tidak penting Carrl sebagai suara jangkrik di hutan lebat yang sudah 4 hari 3 malam dia jelajahi ini.

***

“Aku yakin, langsung mempelajari hal tersulit akan lebih menghemat waktu,” ucap Zavk setelah melihat ekspresi Carrl yang terkejut dengan padang pasir di depannya. “Kini kita sudah semakin dekat,”

Ya, di hadapan mereka kini terhampar padang pasir yang sangat luas. Melihat kegersangannya dari jauh seakan bisa menghapus ingatan hutan hijau di belakang mereka.

“Mak.. maksudmu kita harus melewati padang tandus ini?” Carrl bertanya sambil mengejar langkah Zavk yang tak menghiraukan keraguannya. “Oke kamu sudah mulai melewati batas, Zavk. Lagipula apa yang membuat kamu yakin penyihir wanita itu benar? Menurutku dia hanya penyihir licik yang suka menggoda penyihir laki-laki dingin sepertimu. Mentang-mentang kau tampan, dia sengaja memancingmu datang ke tempat persembunyiannya yang jauh ini agar saat kita sampai kau sudah terlalu lelah melawan. Selanjutnya, dia akan menangkapmu untuk kesenangannya dan membunuhku yang tidak diperlukan ini,”

Sambil memimpin jalan di depan, Zavk tertawa kecil. Dasar, padahal dia sendiri juga penyihir wanita. Lagipula bukankah sekarang dia yang sedang menggodaku dengan bilang aku tampan? Dasar tidak jelas.

            ‘Penyihir Wanita’ yang dimaksud Carrl adalah perempuan yang tak sengaja bertemu dengan Zavk sebelum mereka merantau. Ya, dialah yang memberi saran pada Zavk untuk pergi merantau mencari penyihir kuat di tempat jauh ini. Entah apa yang membuat Zavk begitu mempercayai semua perkataannya mengenai sihir pengendali angin dan tongkat pembelah lautan. Padahal dia tidak tahu apa mantra sihir yang perempuan itu kuasai. Perempuan itu tidak menujukkan apa-apa padanya. Zavk curiga tanpa disadari caranya mempengaruhi orang dengan kata-katanya itu adalah sihir yang perempuan itu punya. Dia pun mencoba bertanya pada Gurunya untuk mencari tahu kebenaran tentang cerita perempuan itu. Dan ternyata Guru mengakui bahwa cerita itu benar adanya. Termasuk semua informasi yang diberikan penyihir wanita tentang mantra sihir terkuat.

Setelah mengetahui itu apa salahnya dia mencari penyihir yang dimaksud? Walaupun Guru melarang keras prantauan ini dengan mengatakan penyihir dengan mantra hebat itu sudah tak bisa lagi ditemukan, Zavk tetap yakin dia bisa medapatkan mantra sihir sakti yang diceritakan Penyihir Wanita agar dia bisa bertambah kuat. Dia jadi bisa membalas budi pada Gurunya yang sudah setia mengajarnya walaupun tak kunjung ahli dengan mengharumkan namanya.

“Aaakh!” teriak Carrl dari belakang.

Zavk reflek menoleh dan melihat kaki Carrl sedang dihisap perlahan oleh pasir. Dengan cekatan, Zavk menarik lengan Carrl tapi sayangnya Zavk malah ikut terhisap. Dia tetap tenang, karena panik hanya akan membuatnya semakin tenggelam.

“Carrl, ucapkan mantra terbangmu!” Zavk mencoba mencari solusi.

“Tidak bisa Zavk, aku sudah mencobanya dari awal!”

Mendengar itu Zavk langsung memutar otak. Mulutnya mencoba berkomat-kamit melafazkan mantra. Tak ada satu pun yang berhasil. Dia sudah mencoba mengubah butir-butir pasir yang menelannya menjadi air. Yang terjadi malah pasir menjadi basah dan sedikit lengket. Dia memperparah keadaan. Dia juga mencoba mengarahkan pasir yang mengelili mereka untuk menjauh agar mereka bisa bergerak setidaknya sedikit agar Carrl bisa melancarkan mantranya. Bila berhasil itu akan memudahkan mereka berdua. Namun sayangnya tidak. Mantra Zavk yang melawan pergerakan membuat pasir tambah liar menghisap. Situasi semakin rumit.                                                                                                                                                 

 Tubuh mereka berdua terus ditarik pasir hingga se-pinggang. Zavk merasa ini jalan buntu. Tak ada yang bisa dilakukan ketika sudah terjebak di pasir hisap. Meminta tolong pun sia-sia. Tidak ada siapa pun disana.

Ini salahku tidak memperkirakan hal ini terjadi. Aku hanya berharap Carrl selamat. Dari awal akulah yang menariknya ke dalam situasi ini.

Di situasi seperti ini bahkan penyihir yang sudah berlatih beberapa mantra pun tidak punya kuasa apa-apa. Zavk jadi berfikir, setidaknya dia harus tetap memegang harapan bahwa mereka akan selamat. Setidaknya hanya itu yang bisa dia lakukan. Tapi, kepada siapa dia gantungkan harap itu? Guru tak pernah mengajarinya tentang ini. Memang seharusnya penyihir tidak boleh masuk ke dalam situasi seperti ini. Ternyata semua tak berjalan seharusnya. Sekarang bagaimana?

Penyihir punya siapa di atas mereka? Biasanya kami selalu menganggap bangsa kami adalah yang paling kuat. Tidak ada yang bisa menjatuhkan kami. Lalu bila keadaan sudah sangat terpojok seperti ini apa yang harus mereka lakukan? Apa hanya pasrah jawabannya? Pasrah dengan menyerahkan segalanya pada waktu? Adakah tempat terakhir untuk menaruh harap? Kepada siapa kepasrahan mereka tujukan?

            Pasir sudah hampir menyetarai leher, Zavk semakin pusing memikirkan perang pikiran di otaknya.

***

            “Zavk?!” Carrl yang pertama kali muncul di hadapannya. Zavk tersentak dan langsung bangkit dari baringnya. Memegang keningnya yang terasa sangat sakit.

            “Kita.., dimana?” tanya Zavk.

            “Aku juga tidak tahu. Tapi tak jauh dari sini ada bangunan kubus hitam dan banyak sekali manusia mengelilinginya. Setidaknya kita berada di pemukiman warga,” jawab Carrl. Akhirnya ada beberapa kalimat Carrl yang didengarkan utuh oleh Zavk.

            “Siapa yang menyelamatkan kita?” tanya Zavk lagi.

            “Aku juga tidak tahu. Tapi akan kucari tahu. Apa kau sudah bisa berjalan sekarang?” Carrl bertanya balik. Membantu Zavk bangkit dari duduknya. Namun Zavk terjatuh ketika mencoba berdiri. “Kau tidak apa?! Kan, sudah kubilang dari awal idemu salah Zavk! Lihat kondisimu sekarang, sangat menye..,”

            “Aaakh!!” Omelan Carrl terputus oleh ringisan Zavk yang masih memegang kepalanya. Kini kepalanya berdenyut. Matanya berkunang-kunang. Kesadarannya lagi-lagi hilang.

            Tadinya Zavk berfikir begitu. Tapi entah kenapa dia malah berada di lokasi tempat ia bertemu dengan penyihir wanita misterius. Tepatnya di pantai, Zavk berdiri sendiri di tepiannya sambil menatap senja.

            “Kepada siapa akhirnya kamu berharap?” Suara lembut terdengar dari samping Zavk. Terlalu lembut sampai senja di hadapannya tidak lagi terlalu menarik. Zavk mengalihkan pandangannya. Mendapati penyihir wanita dengan tampilan anehnya yaitu menggunakan kain yang menutupi kepala.

            “Maksudmu?” Zavk heran. Apa wanita ini tau semua yang terjadi padanya?

            “Iya, aku tahu. Itulah mengapa sekarang aku bertanya,” Wanita itu seperti tahu isi pikiran Zavk.

            “Kalau kau memang tahu semua, kenapa harus bertanya padaku?” balas Zavk.

            “Aku harus mendengarnya sendiri dari mulutmu,”

            Zavk terdiam sejenak. Teringat sesuatu yang lebih penting. “Sebelum itu, aku harus tau alasanmu membohongiku soal rute yang kau berikan untuk menemui penyihir yang kau ceritakan!”

            “Dari awal aku tak berniat memberikan rute yang benar,”

            “Dasar penipu!” teriak Zavk. Wajah Carrl terbayang di benaknya. Ternyata dia benar. Harusnya aku mendengarkannya.

            “Kaulah yang menipu dirimu sendiri. Cobalah jujur, dari awal keinginanmu mencari penyihir itu bukan untuk mempelajari mantra, bukan?” Wanita itu tak berhenti memberikan pertanyaan.

            Zavk menggigit bibir bawahnya. Tangannya mengepal. Tak bisa bersuara.

            “Keinginanmu itu bersangkutan dengan pada siapa kamu menaruh harapan terakhir di padang pasir,” Suara lembut wanita itu lagi-lagi membuat hati Zavk berdesir. 

            Zavk masih tak bisa berkata-kata. Keringat dinginnya mulai bercucuran. Perempuan ini bukan manusia! Siapa dia dan apa maunya?    

“Berhenti mengelak, pemuda. Hatimu sudah menunggu cahaya untuk masuk. Jujurlah pada dirimu sendiri. Ikuti arahan hati. Entah kau penyihir atau manusia penuh dosa, pada dasarnya manusia selalu memiliki hati yang bersih,” Sebelum benar-benar menghilang, wanita itu sempat memberikan kain putih pada Zavk.

Zavk masih menangkap suara lembut wanita itu mengatakan, “Layaknya kain ihram ini,”

***

Zavk kembali terbangun. Carrl yang sedang mengelapi keringat Zavk terkejut. “Kau tak apa?”

Zavk mencoba berdiri dengan bantuan Carrl. “Kita ke bangunan kubus itu. Tujuan kita tercapai,”

“Apa? Lalu dimana penyihir penguasa mantra hebatnya?”

“Tidak ada yang namanya penyihir,” Zavk menjawab pelan lalu mulai melangkah denga tertatih.

“Zavk, tunggu!” Carrl menyusul dari belakang.

Pertanyaan paling dalam yang disimpan Zavk terjawab sudah. Persis di akhir kesempatan hidupnya.

“Siapa penyihir paling kuat? Siapa yang paling berkuasa? Siapa yang ada di atas para penyihir? Siapa yang tidak bisa dikalahkan? Siapa yang bisa melakukan apa saja termasuk menghidup-matikan? Siapa yang abadi?”

Pertanyaan menumpuk itu terjawab saat insiden pasir hisap terjadi. Jawabannya adalah zat yang Zavk yakin bisa dipercaya menjadi tempat harapnya.

Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku