Legenda 3 Negara

             

 

Legenda Tiga negara

Syifa Iswi Liani (sil_syifa05)

 

Kamu adalah seorang siswi kelas 11 di sekolah populer khusus wanita yang berfasilitas asrama. Bangunan-bangunan di Sekolahmu sangat mewah, semua murid nyaman belajar disana. Kamu merasa beruntung dapat bersekolah disini.

Namun, tak ada yang tahu sejarah sekolah ini didirikan. Semua itu baru terkuak ketika angkatan baru menjalani masa orientasi.

***

            “Namaku Ona, dari Jepang. Salam kenal semuanya,” Siswi dengan masker menutupi wajahnya berdiri.

            “Aku Krasie, lahir di Thailand,” Kali ini Siswi dengan paras seperti keturunan bangsawan yang berdiri.

            “Lorona, dari Mexico,” Terakhir, siswi dengan perawakan sedikit tua dari umurnya juga berdiri.

            Tiga siswa terakhir selesai memperkenalkan diri. Kamu pun membacakan agenda selanjutnya. “Untuk hari ini kita akan berkeliling. Agar kalian bisa mengenal lingkungan sekolah kalian,”

            Setelah Para Siswi baru berbaris, kamu memandu jalan mereka. Sesekali menjelaskan singkat beberapa bangunan tertentu.

            “Ka, apa saya boleh ke kamar mandi?” tanya Ona.

            “Silahkan. Yang ingin ke kamar mandi sekarang ya, kami tunggu disana,” ujarmu sambil menunjuk lapangan di depan.

            “Baik,” Ona pun pergi. Tiga siswi lainnya mengikuti.

            Selagi mereka di kamar mandi, kamu mengobrol dengan para Junior. Di tengah kerumunan, tiba-tiba kamu mendengar suara tangisan. Pelan namun jelas. Kamu pun menoleh kiri kanan mencari asal suara. Setelah memastikan tidak ada yang aneh, kamu menghiraukan suara itu. Mungkin halusinasi.

            Dua Siswi yang tadi ke kamar mandi kembali dengan tergesa. Mendekatimu dengan wajah panik. Salah satu dari mereka melapor dengan ketakutan. “K..K..Ka, ta..tadi O..Ona aneh!”

            “Dia masuk berdua dengan salah satu teman kami. Lalu mengunci pintunya dari dalam,” jelas siswi lainnya. “Selang beberapa menit teman kami berteriak,”

            Mendengar itu kamu langsung berlari menuju kamar mandi. Dengan mata terbelalak kamu menjumpai siswi tersebut tergelatak di atas kloset dengan mulut robek penuh darah. Kamu tercekat hingga terjatuh saking kagetnya. Namun, kamu tetap harus mengkondisikan siswi-siswi lain. Akhirnya kamu keluar dan memberi pengumuman untuk berbaris tenang di lapangan. Masih dengan nafas yang mender, kamu melaporkan situasi ini pada Guru.

***

            Tak terasa hari mulai sore. Para Siswi baru sudah diizinkan pulang kecuali 2 anak saksi yang ikut ke kamar mandi bersama Ona. Mereka masih diintrogasi oleh polisi. Sedangkan kamu tengah mencari Ona atas perintah Guru.

            Sudah 3 kali kamu mengelilingi seluruh bangunan dan kamu belum menemukan sosok misterius Ona. Dari awal penampilannya memang sedikit aneh. Kamu tak menyangka Ia tega melakukan hal sadis pada teman angkatannya sendiri.

            Karena lelah, kamu pun beristirahat di tengah lapangan. Kamu mendapat pesan untuk segera mengirim Ona ke kantor polisi, ternyata siswi di kamar mandi tadi telah dinyatakan meninggal. Di tengah kebingunganmu mencari jalan keluar, suara tangisan pelan kembali terdengar. Kali ini terasa sangat dekat, tak mungkin halusinasi.

            Kamu merinding, saat matamu menangkap bayangan manusia di depan air mancur dekat lapangan. Perlahan, kamu mendekatinya.

            Semakin dekat, kamu dapat melihat jelas sosok seorang Siswi sedang menangis. Ternyata Lorona. “Lorona! Kenapa kamu menangis disini? Sudah hampir malam,” Kamu pun duduk di sampingnya.

            “Aku tau kamu sedih teman angkatanmu meninggal, tapi..,” kalimatmu terputus saat kamu mencoba mengelus kepalanya. Kini wajah Lorona seperti menua 20 tahun, matanya yang lesu dengan banyak kerutan itu menatapmu tajam. Kamu reflek menjauh perlahan, “Ka..kamu siapa?”

            “Aku menangis karena 2 anakku yang hanyut di sungai, kenapa..? Kenapa mereka kulempar? KENAPA?!” Lorona berdiri, matanya berubah merah. Begitu pula dengan air matanya. Kamu yang menyaksikan itu kaget bukan kepalang hingga tak dapat bergerak.

            “Kau pasti anak perempuanku, ah.., kau tumbuh terlalu cepat nak,” Lorona mendekatimu lalu mencengkram kedua bahumu. “Mari pulang Nak, kau tidak boleh lagi bermain di dekat air,” bisiknya tepat di telingamu.

            Mendapat perlakuan itu, kamu coba memberontak. Namun tak berhasil lepas. Badanmu terlanjur lemas oleh sosok wania tua bermata merah tepat di depanmu.

            “Apa aku cantik?” Tiba-tiba suara bisikan sampai di telingaku. Aku berusaha menoleh ke belakang, berharap mendapat bantuan.

            Dua meter di belakangmu, sosok Ona berdiri. Dengan masker dan poni yang menutup kedua matanya. Melihat itu kamu tambah ketakutan. Tangan kanannya menggenggam cutter berlumuran darah.

            “TOLOONG!” Suaramu parau. Tak mungkin ada yang mendengar. Lorona mulai memelukmu paksa.

            “Jawab aku! Cantik atau jelek?!” Tanpa sadar Ona sudah tepat berada di sampingmu. Seluruh bulu kudukmu berdiri. Kamu menutup mata, kehabisan nyali untuk melihat semua pemandangan ngeri ini. Belum lagi badanmu kini sepenuhnya terikat oleh Lorona.

            Mati sajalah, pikirmu. Tangan dingin menyentuh wajahmu. Matamu dibuka paksa. Dan kamu berteriak sejadi-jadinya melihat wajah Ona bermulut robek dari ujung ke ujung dari jarak 5 senti. “KYAAA!! Menjauh!”

            “CANTIK ATAU JELEK?!” Ona balas berteriak. Tangannya sudah mengacungkan cutter di depan mataku.

            Nafasmu berhenti. Air matamu jatuh. Ini gila! Aku harus apa?  

            “Apa kau juga anakku?” Tiba-tiba Lorona melepasmu. Perhatiannya kini tertuju pada Ona. “Owh, kurasa tidak. Wajahmu jelek,”

            Selang beberapa detik, aku yang masih terbatuk di tanah melihat banyak darah bertetesan. Kemudian tubuh Lorona jatuh lemas di depanmu. Wajahnya kembali, tidak tua bermata merah seperti tadi. Dengan mulut robek dan darah yang masih deras mengalir. Wajahmu pias seketika.

“Ap..Apa yang terjadi?!”

Hening. Tak ada jawaban. Kamu mendongak, sosok Ona telah hilang entah kemana.

***

Bu Marsya, guru yang menyuruhmu mencari Ona menghampirimu. Dia terkejut bukan kepalang melihat satu siswi harus menjadi korban lagi. Segera Ia menggotongmu ke UKS untuk menenangkan diri.

Kamu menceritakan setiap detail kejadian dengan terbata-bata. Seluruh badanmu masih lemas.  

“Sebenarnya kenapa semua ini bisa terjadi bu?” Semua yang kamu lewati terlalu melelahkan. Kamu penasaran sebab semua ini.

“Sepertinya ini adalah kutukan untuk kepala sekolah kita,” Bu Marsya mulai menjelaskan dengan raut pucat sambil mengelus perutnya. Beliau tengah hamil tua. “Dulu sekolah ini tidak pantas huni, bahkan nyaris digusur. Namun pak kepsek tak terima dan akhirnya memanggil dukun dari tiga negara untuk membantu kemajuan sekolah ini. Negaranya adalah Jepang, Thailand, dan Mexico. Awalnya semua berjalan sesuai keinginan, tapi ternyata bayaran untuk semua itu tak murah. Ketiga dukun itu meminta banyak jiwa dari sekolah ini. Tentu saja permintaan itu ditolak. Akhrinya Kepsek memutus hubungan dari ketiga dukun itu,”

Jepang, Thailand, Mexico.., tunggu! Jangan-jangan.., Kamu mulai bergumam menebak-nebak.

“Ibu rasa 3 Siswi itu memang utusan para dukun,” Sekarang Bu Marsya terlihat berfikir. Lalu beliau mengambil ponsel di sakunya, mengetikkan sesuatu setelah membuka Google. “Bahkan nama mereka telah menujukkan simbol sosok asli mereka,”

Kamu mendekat, mengambil ponsel yang sedang memperlihatkan web artikel tentang hantu-hantu legendaris. Terpampang 3 nama tak asing. Kuchisake Ona, hantu khas Jepang. La Llorona, khas Mexico, dan terakhir Krasue[1], dari Thailand.

Kamu pun sadar, deskripsi sifat dan wujud yang tertulis di artikel itu sama persis dengan yang kamu baru saja. Tapi Krausie, kamu belum melihatnya bertindak. Di artikel tertulis, hantu Krasue sangat menyukai janin manusia.

Kamu terlalu fokus pada ponsel, sampai tak sadar sosok Krasue sedari tadi tengah bersamamu, Ia pergi setelah kenyang. Meninggalkan Bu Marsya tergeletak tak berdaya dengan perut terbuka penuh darah di sampingmu.

“BU MARSYA!”

 

 

  

 



[1] Dikenal sebagai ‘Kuyang’ di Indonesia. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku