Love and Disease
Rasa cinta bebas ditujukan pada siapapun. Namun, tak semua rasa itu akan berbalas.
“Pasien atas nama Erik, silahkan
memasuki ruang terapi,” teriak salah satu perawat. Aku segera mendorong kursi
rodaku ke ruangan yang dimaksud. Langsung disambut terapis pria muda berseragam
hijau. Tersenyum formal. Dia Bang Tio, terapis langgananku.
“Siap-siap berkeringat lagi Erik,”
Dia memapahku perlahan ke arah Kasur keras dengan banyak alat. Terapi manual segera
dimulai.
Disinilah aku menghabiskan sebagian
masa hidupku, Pusat Rehabilitasi Medis. Setelah didiagnosa penyakit langka Multiple sclerosis[1], penyakit yang seharusnya berkemungkinan kecil menyerang
lelaki ini justru mendatangiku di usia 16 tahun. Memprihatinkan sekali.
“Sekarang kita mulai latihan
jalannya ya,” Bang Tio menuntunku lagi. Dengan langkah yang sangat berat aku
mengikutinya sambil terus dipapah.
Mati rasa, ketidak seimbangan,
pusing. Tiga hal itu yang harus kutahan selama latihan ini. Tak heran bajuku
akan basah kuyup sekitar 3 menit dari sekarang. Saat itu terjadi Bang Tio akan meninggalkanku
untuk mengambil baju ganti. Sedangkan aku masih harus terus berusaha melangkah
sambil berpegangan.
Keringatku sudah menghujan di dahi,
tatapanku tajam menatap ke depan. Tinggal 2 meter, aku bisa berpindah ke level
berikutnya.
Ngiiing…! Kepalaku tiba-tiba
berbunyi. Pandanganku berkunang-kunang. Tak bisa melihat. Mulai panik, aku
melepas peganganku. Reflek memegang kepala. Tanpa sadar kakiku belum terlalu
kuat untuk itu. Perawatku masih belum datang. Ah, padahal baru kemarin benjol
di dahiku hilang.
“Hei, awas!” Seorang wanita
menangkapku tepat sebelum kepalaku sampai di lantai. Sigap membantuku kembali
berdiri, walau akhirnya tetap tak bisa. Akhirnya dia menaruh lengan kananku di
bahunya. “Dimana pendampingmu tadi?” tanyanya setelah kami duduk di kursi.
“Dia.., masih mengambil baju
gantiku,” jawabku canggung. Karena wanita di depanku ini sedang mengelapi
keringatku dengan handuk yang dibawanya. Jarang sekali aku dapat perawat
wanita. Untuk remaja seumuranku wajar kan merasa malu berdua dengannya?
“Dasar
Tio, kebiasaan deh ninggalin pasien” Wanita itu mengoceh. Tangannya yang sudah
selesai melap rambutku lanjut meraih kaosku. “Angkat tangan..,”
Aku panik reflek menahan tangannya.
“Aku.., bisa sendiri,” Apa-apaan wanita ini? Dengan santainya dia mengucapkan
itu, sedangkan dadaku berdegup sangat kencang.
“Wah wah, apa aku datang di saat tidak
tepat?” Bang Tio akhirnya kembali. Nice timing. Dia mendekati kami yang
posisinya mungkin terlihat ambigu.
“Iya, ga tepat banget, telat.
Pasiennya jatuh udah keburu aku yang tangkep,”
“Eh, sori ya bro. Nih baju ganti
nya,” Bang Tio itu memberikan baju padaku. Dan aku masih bingung bagaimana cara
aku mengganti baju di dekat wanita ini.
“Woy Ka, lu cewe ko ga peka sih? Si
Erik tuh malu ganti baju depan lu!” Bang Tio menyelamatkanku lagi. Memang hanya
dia perawat yang faham isi pikiranku.
“Hee..? Sori-sori. Oke aku tutup mata,”
Sesegera mungkin aku pun berganti pakaian.
“Kebiasaan maen sama cowok sih lu
jadi kebiasaan ngeliat,” goda Bang Tio sambil mengacak poniya. “Yuk ah Rik
balik, keburu Riska ngomel. Kasian telinga lu entar,”
“Iih, kamu yang kebiasaan ngomong
ngaco! Aku ga punya temen cowo selain kamu tau! Lagipula aku gabakal ngomel
kalau kamu ga godain mulu!”
Melihat Ka Riska mengomel aku
tersenyum kecil. Imutnya. Kursi rodaku sudah didorong oleh Bang Tio yang
sama sekali tidak merespon omelan Ka Riska. Aku pun berbalik karena teringat
sesuatu. “Anu, Ka Riska! Makasih ya udah nolongin tadi,”
Ka Riska yang tadi kesal dengan
perlakuan Bang Tio langsung tersenyum lebar menatapku. “Sama-sama.Erik...,
sampai nanti ya,” Dia melambaikan tangan.
***
Itu tadi pertemuan pertamaku dengan
wanita yang sangat kurindukan sekarang. Sudah 2 setengah hari Ka Riska tidak
datang menemuiku. Yah, memang seharusnya dia tidak perlu datang sih. Dia memang
bukan siapa-siapa.
Setelah kejadian di ruang terapi Ka
Riska selalu mampir ke kamarku untuk menyapa. Biasanya kami makan siang
bersama, kemudian Ka Riska menemaniku latihan berjalan. Dia pulang menjelang
maghrib setelah mengerjakan beberapa tugas kuliahnya.
Waktu itu aku sempat bertanya,
“Anu.., Karis kenapa datang kesini setiap hari?” ‘Karis’ adalah panggilan yang
dia minta. Sekarang kami tengah makan siang.
Karis yang duduk di hadapanku
menjeda kunyahannya. “Kamu terganggu ya?” tanyanya dengan isi mulut masih
dipenuhi nasi. Akh, imut.
“Eng..,
engga. Aku seneng banget kok tiap Karis datang, cuma bingung aja.” Oke, aku tak
percaya mengatakannya selancar itu. Apa terlalu jelas aku menyimpan rasa
padanya?
“Syukurlah, aku juga nyaman kok
disini,”
Itu dia. Kalimat yang kembali terngiang.
Seakan suara Karis saat mengatakannya masih meninggalkan gema di ruangan ini.
Aku melirik kursi dan meja di sebelah ranjang. Biasanya ada sosok Karis dengan
bando di kepala yang sedang serius membaca makalah. Pernah saat itu bandonya
patah akhirnya dia tidak fokus belajar.
“Arrgh!! Rambut pengganggu,” Karis
mengacak-acak rambut sebahunya. Lagi-lagi imut.
“Em… Gimana kalau diiiket ka? Aku
ada karet,” Karis menoleh denga mata berbinar.
“Waah, kau penyelamat,” Karis mendekatiku
hendak mengambil karetnya. Tapi langkahnya berhenti. “Ah, tapi aku ga bisa
ngiket rambut,”
Aku tertegun. Karis memang tomboy,
tetap saja kaget sampai tidak tahu cara mengikat rambut. Tapi jujur, ekspresi
saat mengucapkannya tadi tetap imut. Kapan sih, dia tidak imut. “Eh,
kalau gitu mau aku iketin?” meskipun kemudian aku menyesal menawarkannya.
Melihat Ka Riska memutar balik badan
dan menjulurkan rambutnya, telapak tanganku seketika berkeringat. Rasanya
canggung sekali. Perlahan aku mengumpulkan helai-helai rambutnya. Lanjut
mengambil rambut yang berada di dekat dagu dan di sekitar dahinya. Kuakhiri
dengan mengikatnya dengan ikut rambutku.
Setelah selesai Ka Riska memegangi dahinya yang jadi lebih terbuka.
“Emm..,”
“Karis gasuka poninya diiket? Lucu loh padahal,” Ups, sepertinya
ada yang salah dengan mulutku.
“Kalau diiket gini, nanti Tio gabisa jailin poni aku lagi dong,”
Suara Karis memang sangat kecil saat mengatakannya. Tapi rasanya
lebih bergema dibanding saat dia mengatakan ‘nyaman disini’ tempo hari. Ah,
ternyata. Dia memang hanya menyinggung objek tempat, tidak bersama penghuninya.
Lagi-lagi Bang Tio datang di saat yang tepat saat itu. Ini dia
objek utamanya muncul. Kalau bukan karena infusku harus diganti, rasanya
aku ingin meninggalkan ruangan itu. Melihat Bang Tio lebih merespon rambut
Karis yang dikuncir daripada wajahku yang muram, membuatku sadar aku hanya
tokoh figuran di ruangan ini. Maka harusnya tanpaku, semua akan berjalan lebih
indah.
“Apaan neh, buntut kuda? Kocak lu,” goda Bang Tio sambil
menarik-narik rambut Karis. Yang dibalas dengan omelan seperti biasa. Barulah
setelah itu Bang Tio mengganti infusku.
Kejadian hari itu menetap permanen di ingatanku. Terlebih saat
Karis mengucapkan terimakasih padaku berkali-kali setelah Bang Tio meninggalkan
ruangan.
Separah apa pun kondisiku hari ini, hanya realita yang bisa
meruntuhkan harapan. Bukan realita soal penyakitku yang belum ditemukan
obatnya, melainkan realita posisiku di banding Bang Tio bagi Karis. Sudah jelas
dia mendambakan yang berpendidikan, bukan yang putus sekolah. Yang bisa
bekerja, bukan berbaring di Kasur. Yang bisa mengurus orang sakit, bukan
merepotkan harus diurus. Pria sehat, bukan yang lemah sakit-sakitan. Semua
kenyataan pahit itulah yang harus kutelan. Tidak ada celah bagiku.
Kontrak kerja Bang Tio berakhir 2
hari lalu, bertepatan dengan tak datangnya Karis ke ruangan ini. Semua jadi
terlihat semakin jelas. Namun sampai saat ini aku belum mendapat kabar terbaru
mereka. Kalau dari gosip yang beredar, mereka akan menikah sekitar dua minggu
lagi. Ukh, ini lebih menyakitkan daripada jatuh saat latihan jalan.
Tiba-tiba
ponselku berdering. Segera kuangkat tanpa melihat siapa yang menelpon. Paling
ibu menanyakan kabar.
“Hai Erik, masih ingat aku?” Suara
familiar menyapaku di seberang.
Itu Ka Riska. “Ada perlu apa Karis
nelpon?” jawabku datar. Berusaha terdengar biasa.
“Ini benar kamu? Kok ga semangat kaya
biasanya? Kita kan udah lama ga ngobrol,”
Bagaimana bisa semangat setelah
ditinggal sumbernya? “Langsung ke
inti saja ka, sebentar lagi aku ada terapi,” selaku seakan mengabaikan
perkataannya.
“Jadi gini Rik, semoga kamu ga
tersinggung..,” Nada bicara Ka Riska merendah. Lanjut menjelaskan semuanya.
***
2
hari setelah Karis menelpon, sekarang aku berada di ruang operasi untuk
pengambilan salah satu mataku. Korneanya nanti akan didonorkan untuk Bang Tio
yang terlibat kecelakaan motor. Aku pun masih tak percaya ini. Tapi proses
panjang 2 hari lalu membuatku sadar ini adalah keputusan bulatku. Tentu tak
mudah membujuk Bank Mata Indonesia untuk menerima keputusanku ini.
Mereka setuju setelah kuyakinkan
bahwa penyakitku tak akan bisa sembuh sampai kapan pun. Karena itu aku ingin
membantu Bang Tio yang selama ini sudah merawatku dengan baik. Dan aku percaya
dia akan melakukannya pada orang lain juga dengan penglihatan yang kuberikan
nanti. Peyakitku tidak menyerang organ mata, jadi tentu akan aman. Apa salahnya
hanya memberi sebelah?
Sekitar 2 jam, operasiku pun selesai
dengan lancar. Dokter langsung lanjut mengoperasi Bang Tio setelahnya. Karis
mendatangiku sambil menangis dan tak henti mengucapkan terimakasih. Sama
seperti dulu ketika aku mengikat rambutnya.
Karis meminta hal ini karena dia tau
aku menyukainya. Karena itu dia percaya aku bersedia. Mungkin terlihat egois.
Tapi menurutku tidak. Justru dia memberiku kesempatan untuk membuktikan rasa
cinta ini padanya.
‘Cinta tak perlu memiliki’ mungkin memang
ungkapan klise. Namun memiliki makna, tak semua cinta harus berbalas. Dan itu
bukan kesalahan. Saat ini aku sudah berhasil mengungkapkannya. Lalu Karis
menerimanya, tanpa membalas. Karena hatinya sudah dimiliki Bang Tio. Mereka
akan bahagia.
[1] Kerusakan pada selubung mielin yang memperlambat informasi
antara otak dan sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)