Pawang Alam Laut

            Kakak laki-lakiku tenggelam. Aku sedang berusaha menyelamatkannya. Sebagai pelatih renang, harusnya dia tidak tenggelam semudah itu. Namun yang terpenting sekarang dia harus selamat. “Akkh!” Kakiku keram, namun aku sudah biasa mengatasinya.

            Pertama jangan panik, aku hanya perlu menahan nafas dan menenggelamkan diri sampai nafasku habis. Teknik ini dilakukan untuk mengulur waktu sampai kakiku mendingan. Namun, aku lupa. Ini Pantai Parangtritis, dimana ombak tinggi tak pernah bisa diprediksi. Sayangnya sore ini arus ombak balik berskala besar.

            “To.. Tolong!!” Aku mulai berteriak panik. Karena arus air mulai membawaku dan kakiku masih belum bisa digerakkan. “Siapa pun tolong aku!!” Glek! Air laut mulai tertelan. Membuatku terbatuk-batuk, nafas pun mulai tak bisa kuatur. Ombak pun semakin tinggi, membawaku bersama airnya.  

***

            Begitulah kisah penobatanku menjadi Pawang Alam Laut. Bersama Kak Sea, kakakku. Saat kami tenggelam hari itu, air sengaja membawa kami ke dimensi laut dalam ini. Air laut telah mempercayai kami.

            Lokasi kami 8.500 meter di bawah tanah. Setara dengan 10 menara burj Khalifa bila ditumpuk. Tempat laut menyimpan segala rahasianya. Dengan kedalaman ini, tidak ada manusia yang bisa berdiam lama. Karena tekanan udaranya bahkan bisa merusak badan kapal selam.   

            “Apa kabar megalodon?” Aku menghampiri hiu berotot di depanku. Memberinya satu lumba-lumba segar untuk makanannya.

            Ikan raksasa di depanku ini adalah spesies yang sudah dideteksi punah oleh dunia. Salah satu tugas kami sebagai Pawang adalah menjaga spesies ini. Juga melindungi hewan-hewan tertentu yang menjadi objek penelitian. Seperti cephalopoda[1], Turritopsis nutricula[2], kraken[3], dan yang lainnya.

            “Sia! Kraken dimana?” Kak Sea memanggilku. Posisinya tak kuketahui, namun gelombang di dalam air membuatku bisa mendengarnya.

            “Terakhir kulihat dia tidur di atas piramida!” jawabku. Piramida yang dimaksud adalah tempat tinggal kami. Di dasar laut ini terdapat Kristal berbentuk piramid yang ditinggalkan Para Pawang sebelumnya. Biasanya Kraken berada di sekitar piramida. Dia ditugaskan air laut untuk melindungi kami. Setiap ada bahaya, kami hanya perlu memanggilnya. Dan musuh pasti akan kalah hanya dengan melihat satu tentakelnya.

            Namun Kraken tetaplah hewan. Dia sering bertingkah sesuka hati tanpa berfikir. Tempo hari saja, dia membuat kekacauan di Atlantis sampai semua penghuninya keluar.

            “Gawat Sia, Kraken hilang! Di jalur menuju segitiga Bermuda juga tidak ada!” Mendengar itu aku sigap berenang menuju permukaan. Berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk.

***

            BOOM! CTARR!

Peperangan hebat sudah terjadi di atas air. Dugaanku benar. Kraken menyerang manusia. Tiga remaja yang sedang berlayar dengan perahu kecil.

“Kraken, berhenti!” Aku sedang berusaha menahan tentakelnya dengan jaring-jaring airku agar dia tidak menghempasnya ke lautan. Bila itu terjadi, tsunami bisa saja menenggelamkan pulau terdekat.

Kraken tak menghiraukan. Dia memberontak. Jaring-jaring airku masih kurang kencang karena air laut sedang tak berarus. Aku pun berenang menjauh, mengendalikan air yang volumenya lebih besar agar bisa menahannya. Di saat yang sama kraken telah menghancurkan perahu 3 remaja itu. Dengan cekatan aku membungkus mereka dengan gelembung air agar tidak tenggelam. Kemudian gelembung itu kujauhkan dari jangkauan Kraken. Tangan kananku masih sibuk mengikat kembali tentakel-tentakel Kraken. Sedangkan tangan kiriku harus tetap menjaga keseimbangan gelembung. Keringatku teruras.

“Sudah kuduga putri duyung itu ada!” teriak lelaki berambut berantakan dari dalam gelembung. Di sampingnya ada 2 gadis yang terlihat seumuran. Salah satunya berambut ikal.

Aku masih bingung, mengapa kraken menyerang 3 remaja polos ini? Bukankah mereka hanya para petualang yang tersesat?

Lagi-lagi kraken memberontak. Ia menggeram, menepis semua jaring airku lalu menyelam ke dalam air. Tangan kiriku ikut goyah. Gelembung pelindung itu kini mendekati segitiga Bermuda.

“Gawat!”

BOOM! Gelembung itu dengan sendirinya menjauh dari pusaran. Ada sebuah pukulan yang dilepas. Entah darimana. Ah, jadi teringat novel Tere Liye yang dulu sering kubaca.

WUSSHH! BYURRR!!     

            Sial, aku lengah. Tanpa sadar Kraken sudah lompat ke permukaan. Ombak besar pun tercipta. Siap menghanyutkan semua yang ada di sekitarnya. Tenagaku belum pulih sepenuhnya. Gelombang ombak menghantamku keras.

            ZRASSHH! Gelombang air terbelah. Kak Sea muncul di saat yang tepat.

            “Kacau sekali!” Pedang teracung, menghisap air ombak yang deras. Tsunami pun berhasil ditenangkan. “Sia, kau bawa 3 bocah itu ke pulau yang jauh. Akan kuurus Kraken,”

            Aku mengangguk. Berenang cepat sambil membawa gelembung berisi 3 petualang remaja ini.

***

            Tragedi tadi terselesaikan dengan aman. Aku sudah memberi tahu 3 remaja tadi untuk tidak membicarakan yang terjadi pada mereka. Dengan begitu tempat ini tidak akan punah.

            “Ini hukumanmu!” Kak Sea sedang mengurung Kraken di atap piramida agar dia tidak lagi ke permukaan.  Aku setuju dengan idenya. Kita tak perlu repot mengurus kekacauannya lagi.

            “Hey, setelah melihat 3 remaja tadi, apa kau rindu masa-masa itu?” tanyaku pada Kak Sea.

            Kak Sea menoleh. Tersenyum kecil, “Biasa saja. Kenapa, kau rindu?” Kak Sea balas menanyaiku.

            Aku menjawab dengan anggukan. Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. “Kau tidak ingin mengulang waktu? Dulu kita sangat bersenang-senang saat berenang di kolam biasa. Tanpa tanggungan apa pun,”

            Kak Sea mendekatiku. “Menangislah, jangan ditahan,” ujarnya lembut sambil mengelus kepalaku. “Setelah menjadi Pawang, aku justru malu pernah menjadi manusia. Karena ulah mereka, alam laut tak pernah tenang. Tapi wajar saja bila merasa rindu,”

            Kami menjadi Pawang Laut bukan keinginan pribadi. Bila diberi pilihan, kami pasti lebih memilih mati daripada hidup dengan tanggungan berat ini. Menjaga alam laut bukanlah gampang. Aku sering tak bisa tidur karena harus mengawasi mereka. Untuk remaja biasa sepertiku, wajar merasa lelah kan?

            “Malam ini kau harus istirahat. Biar aku yang berjaga,”

***

            Malamnya, Sia tidur dengan nyenyak. Sedangkan di daratan sana, ada satu berita viral yang sedang menyebar. Berita tentang ‘Penampakan kraken dunia nyata’ berawal dari video live Instagram yang diunggah pria petualang yang diselamatkannya.

            Berita itu sampai di telinga para imuwan pada tengah malam. Tanpa ragu, mereka mengirim banyak pasukan untuk menyerbu bagian laut yang terlihat di video. Pada dini hari, penyerangan dimulai. Diawali dengan bom laut yang diledakkan di kedalaman 800 meter.

            DUARR!!

            Sea sigap memasang tameng dengan pedang serbagunanya. Namun pertahanannya tidak terlalu kuat untuk menahan serangan di beberapa bagian laut. Menyebabkan banyak ikan kecil mati. Sea pun berenang lincah ke permukaan, bersiap untuk mengombang-ambingkan kapal penyerang.

            Namun, Sea tak menyangka kapalnya lebih dari 3. Itu menyusahkannya karena ia bertarung sendiri. Ia lupa melepas Kraken dari kandang, dan tak tega membangunkan Sia yang tertidur pulas.

            Sea kewalahan. Puluhan pelaut menembakinya dengan jaring berkali-kali. Tanpa sadar dia berenang terlalu dekat dengan segitiga Bermuda. Baru saja ia ingin berbelok, satu jaring berhasil mengenai ekornya sehingga ia tak bisa berenang. Sea pun tertangkap. Tanpa sepengetahuan Sia.

***

            “Kak Sea!” Aku terbangun dari mimpi burukku. Karena khawatir, aku mencari keberadaannya kesana kesini. Namun, mengapa dia tidak ada?

            Aku menghampiri megalodon yang tampak lusuh. Melihat keadaannya aku langsung tahu ada penyerang dari permukaan. Rasa air pun sedikit aneh, seperti sudah terkena bom berkali-kali. Air memberiku jawaban. Ia membawakanku pedang Kak Sea yang terlihat retak.

            Segera aku menghampiri Kraken dan membuka kandangnya. “Kraken, mereka melukai Kak Sea, ayo habisi mereka,”

            Kami berenang bersama menuju permukaan. Menjelang sampai, aku mendorong Kraken agar ia dapat meluncurkan tsunami dahsyat. Dan…

            BYUURR!!

            Semua kapal terjungkal tanpa aturan. Para manusia di dalamnya mulai berjatuhan tenggelam. Aku langsung mengendalikan ombak ke arah utara agar semua rombongan itu dihisap segitiga Bermuda. Aku mengerahkan semua kekuatanku, akhirnya ombak berhasil mendorong mereka semua. Namun, aku tak sempat menyelamatkan Kak Sea yang berada di salah satu kapal.

            Tenangaku habis, bahkan untuk menagis pun, tak kuasa. Inikah konsekuensi menjadi Pawang Laut? Selamat tinggal Kak Sea. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

               



[1] Cumi-cumi raksasa

[2] Ubur-ubur berusia abadi

[3] Monster gurita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku