Pembantai Asap

         “Karena penggunaan narkoba dan upaya melebarluaskannya, terdakwa dijatuhi hukuman 10 tahun penjara,” Sang Hakim ketuk palu. Mengakhiri sidang panjang siang ini.

            Terdakwa yang dimaksud sedang memberontak tidak terima. Berteriak-teriak semua itu adalah fitnah. Para Penjaga tak mendengarkan, tetap tegas membawanya ke Sel. Keluarga pelaku banyak yang menangis melihat pemandangan itu. Para reporter terus merekam semua yang terjadi. Sedangkan seorang Pria di ujung ruangan dengan santainya melangkah keluar dengan senyum bahagia. Tertawa puas beberapa detik kemudian.

            “Aku menang,” gumamnya. Baru berniat pulang, seorang Reporter mencegatnya.

            “Dengan Saudara Banu, Anda seorang Saksi saat sidang tadi, Apa anda punya waktu?”

            “Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Semua sudah saya sampaikan saat bersaksi,” tegas pria bernama Banu itu. Dia merasa terganggu.

            “Apa kesaksian anda tadi benar terjadi atau hanya kebohongan belaka?” tanya Reporter tadi pantang menyerah.

            “Anda pasti tahu kesaksian palsu akan merugikan saya, untuk apa saya lakukan itu?” Banu bergegas jalan menjauhinya. Walau Reporter itu masih mengejarnya.

            “Mungkin untuk membalaskan dendam pribadi anda? Itu bisa saja teradi,” Reporter itu kembali berhadapan dengan Banu. Menuntut jawaban.

            Ah sial. Ternyata Reporter ini cerdas, aku harus berhati-hati. “Tahu apa anda tentang saya?” balasnya dingin. Kembali mengenakan maskernya dan mencoba kabur, namun ia teringat, semua akan terlihat jelas bila dia pergi. Dia pun berbalik, dengan ekspresi berbeda. “Sebenarnya saya sedang flu. Saya tidak ingin Anda tertular, karena itu saya menjauh. Maaf, kalau begitu anda mau menanyai saya apa?”

***

            Ralat, Reporter tadi sama saja bodohnya. Kini Banu sedang bersantai di teras rumah kontraknya. Reporter yang tadi mencegatnya hanya melontarkan satu dua pertanyaan singkat yang bisa dia atasi. Dia berhasil menjalankan misinya lagi. Misi balas dendam.

            Terdakwa tadi adalah Direktur pabrik rokok Djerami yang terkenal. Dulu pabrik itu sempat hampir bangkrut karena asetnya habis terbakar. Namun sekarang kemajuannya sangat besar sampai termasuk industri terbesar di Indonesia. Lalu siapa Banu? Banu adalah anak tunggal dari seorang pegawai yang menjadi korban saat kebakaran lalu. Bapaknya dulu adalah sosok bijak yang sangat ia banggakan.

             “Bapak kerja di Pabrik rokok, buat cari uang supaya bisa nyekolahin kamu sama beli obat buat ibuk. Bukan karena Bapak suka merokok. Kalau bapak merokok, nanti sering sakit. Terus siapa yang nyari uang?” Itulah kalimat yang sangat Banu ingat sebelum Bapaknya meninggal.

Banu sedih karena tau kenyataan bahwa Bapak sudah terkena radang paru-paru selama kerja di Pabrik itu. Saat kebakaran terjadi, Bapak rela mengorbankan diri untuk menolong direkturnya. Namun yang didapati Bapaknya hanyalah kematian. Tanpa penghargaan atau pun kompensasi untuk keluarganya. Padahal Bapak telah mendedikasikan semua untuk Pabrik itu. Biaya pengobatan Ibuk tak terbayar, Banu pun yatim piatu di umur 14 tahun.

Mungkin untuk umur itu dia belum bisa berpikir jernih. Amarah menutup dirinya sehingga ia bertekad untuk menghabiskan sisa hidupnya untuk membalaskan dendam.

Yang dikatakan Reporter tadi benar. Dia memang merekayasa semua tuduhan terhadap salah satu Direktur Pabrik Djerami. Banu yang meletakkan sabu-sabu seberat 1 kilogram di ruangan kerja Direktur, lalu dia berpura-pura menjadi saksi yang melihatnya. Memang licik, tapi Banu sangat puas.

“Huaaahh.., tak sesulit yang kukira,” Banu meregangkan tangannya. Tiba-tiba ia sadar rumah tetangga nya dipenuhi orang dan terdapat bendera kuning. Tunggu, apa? Banu pun mendatangi rumah itu.

“Ada apa disini?” tanya Banu.

“Si Nugroho kena serangan jantung Nu, tadi pagi,” jelas salah satu temannya. Mendengar itu Banu sangat terkejut. Dia termasuk dekat dengan Nugroho karena sering ronda malam bersama.

“Sebabnya?”

“Biasa, rokok… Jantung dia lemah,”

Ah, lagi-lagi rokok. Banu kesal mendengarnya. Dia pun berlari meninggalkan kerumunan, menuju suatu tempat. Cabang Pabrik Rokok Djerami.

***

            Sesuai rencana yang dia siapkan, Banu menyelinap masuk ke ruang penyimpanan bahan baku. Dia membakar semuanya, lalu menyiramnya lagi sebelum api membesar. Setidaknya itu sudah merusak kualitas remah tembakaunya. Banu bergegas pergi sebelum petugas menyadari. Pergi menuju pabrik berikutnya.

            Di Jawa Tengah terdapat 20 Pabrik Djerami yang harus dia urus. Masing-masing pabrik harus merasakan rugi setelah ulahnya. Itu tekadnya. Sampai saat ini sudah 5 pabrik yang dia kacaukan. Salah satunya Pabrik yang direkturnya baru saja dia penjarakan tadi siang.

            Untuk pabrik berikutnya, agak sedikit merepotkan. Lokasinya agak jauh dan tempat itu bekas pabrik pusat dulu yang sempat terbakar. Sebenarnya Banu sangat ingin mengulang sejarah itu. Tapi mustahil karena sistem keamanan dan perlindungannya sekarang didesain khusus untuk bertahan dari kebakaran. Maka Banu pun menjalankan strategi baru.

            Dia menyamar menjadi mekanis untuk memperbaiki peralatan pabrik, kemudian dia akan ditinggal sendiri di ruangan mesin. Saat itulah dia akan merusak semua mesin yang ada. Lalu segera kabur sebelum semua petugas menghafal dirinya. Untung dia memakai masker dan topi sejak awal. Tidak ada yang bisa melihat jelas bagaimana perawakannya. Lagi-lagi dia berhasil melewatkan misi dengan aman. Semoga.

            Berbahaya bagi yang menghisap dan menghirupnya. Bahkan Bapaknya sakit hanya karena bekerja di Pabriknya. Apa untungnya benda sampah itu? Penghilang stress? Kenapa tidak berolahraga, nonton, atau jalan-jalan? Masih banyak kegiatan lain di atas bumi ini. Kenapa harus memilih yang akan membunuh diri ?

             Atau apa? Menyeimbangkan ekonomi Negara? Hei, Indonesia punya banyak rempah-rempah, seni kerajinan tangannya pun jangan tanya. Kenapa harus memproduksi racun yang bisa membunuh rakyatnya? Banu selalu menyimpan semua pertanyaan itu. Ia akan melontarkan semuanya di saat yang tepat. Entah kapan.

***

            Keesokan harinya seperti biasa Banu bersiap untuk melanjutkan misinya. Tapi tiba-tiba…

            “Itu dia Pak!” teriak salah seorang pria di ujung jalan. Di sampingnya ada 2 polisi sigap.

            “Saudara Banu, Anda ditangkap karena merusak properti industri secara legal,” salah satu polisi mendekati Banu memperlihatkan surat izin tangkapnya. Polisi satunya memborgol Banu.

            Belum mengerti apa yang terjadi, Banu berusaha memberontak. “Apa-apaan ini?! Mana buktinya?”

            Pria yang datang bersama 2 polisi mendekati Banu. “Saya saksi mata. Hari itu saya ke ruang  CCTV dan melihat anda membakar bahan baku di gudang kami,”

            Banu tak dapat mengelak. Entah apa lagi rencananya nanti.

***

Ternyata tidak ada rencana. Banu tak menyangka ia akan tertangkap. Jadilah dia dijatuhi hukuman penjara 5 tahun.

Banu sedikit tidak terima, tapi menurutnya diam adalah solusi terbaik agar semua tindakannya tidak terkuak. Hukumannya tak akan diperpanjang.

Harapan Banu pupus seketika setelah Direktur yang dulu ia tuduh mengajukan sidang ulang dengan menyewa pengacara handal. Banu terbawa emosi sampai Ia membeberkan sendiri semua kejahatannya. Dia merasa lelah karena misinya pasti tak akan selesai sebelum rokok benar-benar musnah di dunia ini.   

            “Silahkan eksekusi saya! Saya tidak peduli. Harusnya kalian lebih peduli dengan dampak negatif rokok di negeri ini! Banyak opsi lain untuk memajukan ekonomi, kenapa harus mempertahankan sampah yang merusak kesehatan masyarakat?!” Dia mengeluarkan semua pendapatnya dengan berteriak seperti orang gila. Para Reporter antusias merekam setiap kejadian.

            “Sudah banyak sekali korban! Kalian akan terus menyalahkan masyarakat yang salah karena tetap menghisapnya walaupun tahu berbahaya? Mungkin itu benar. Tapi coba pikirkan, bila rokok dimusnahkan pasti tidak ada yang menghisapnya. Tidak ada lagi keluarga yang harus berduka karena korban asapnnya. Semua terjadi karena negara memfasilitasinya!”

            “Terdakwa diharap tenang!” tegas Hakim. Tidak akan ada yang mau mendengarkan Banu tentunya. Dia hanya dianggap orang tidak waras. “Hukuman yang dijatuhkan karena telah bersaksi palsu dan merugikan banyak pabrik, penjara seumur hidup,” Akhirnya  Hakim ketuk palu. Kerusuhan Banu ditutup dengan keputusan Hakim. Dia digiring kembali ke Sel.

***

            “Musuh Rokok”, “Si Penghajar Rokok”, “Preman Rokok”. Berita ramai membicarakan Banu dengan julukan itu. Bahkan setelah 2 tahun dipenjara, Banu masih menjadi sorotan karena sikap kasarnya yang selalu menghajar perokok di depannya.

            Terserah apa kata mereka, aku tetap akan terus menunjukkan rasa benci ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku