Alternatif Andalan Masyarakat Dayak Kalimantan (Artikel)
ALTERNATIF ANDALAN MASYARAKAT DAYAK KALIMANTAN DALAM BERTAHAN HIDUP
SEJAK SEBELUM MASA PENJAJAHAN
Pemanfaatan Lingkungan dalam Tradisi Masyarakat Nusantara
Syifa Iswi Liani
A.
PENDAHULUAN
Jauh sebelum kalender Masehi menjadi pijakan, telah hidup bangsa-bangsa
dengan lapak kehidupan yang tidak dapat kita bayangkan. Meskipun banyak ilmuwan
yang mengkaji hal tersebut lalu menghadirkan ilustrasi, intuisi mereka tetap
dapat dikategorikan sebagai spekulasi.
Dalam Kitab yang dipercayai mayoritas agama di Indonesia, diceritakan
kisah suatu kaum bernama Tsamud yang dapat memahat gunung-gunung untuk tempat
tinggal mereka. Bangunannya kini masih dapat kita lihat di Lembah Al-Hijr. Mustahil
kita temukan hal tersebut di bumi Nusantara.
Indonesia dengan Negara kepulauan yang hijau dan Arab Saudi dengan
Negara minyak yang didominasi gurun. Keduanya bagai 2 kutub magnet bertolak
belakang. Maka hadirlah kajian ekologi yang merupakan kesadaran atas perbedaan
sikap Penduduk dalam pemanfaatan lingkungan mereka.
Lingkungan, sistem kompleks di luar individu yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan. Terbagi menjadi 3 jenis yaitu lingkungan hidup
alami, buatan, dan sosial. Lingkungan hidup alami didominasi oleh alam itu
sendiri seperti air, tanah, pepohonan. Lingkungan hidup buatan sebaliknya,
didominasi oleh manusia sebagai pencipta seperti pertambangan, industri, dan
pertanian. Lingkungan hidup sosial, yang menjadi topik utama karena
berkesinambung dengan essay ini membahas tentang hubungan antar sesama.
Hubungan sosial adalah faktor keberlangsungan sosiosistem, dimana
perkembangan hubungan struktural dan fungsional terjalankan. Rambo menjelaskan,
bahwa hubungan fungsional adalah bagaimana manusia memanfaatkan sumber daya alam
untuk perekonomian, kesehatan, nutrisi, teknologi, pola eksplorasi, ilmu
pengetahuan, agama, kepercayaan, ideologi, sistem nilai, bahasa, budaya,
karakteristik biofisik yang kesemuanya diatur menurut aliran materi, energy dan
kendali informasi. (1983)
Satu hal yang disebutkan secara tersirat
dari pemaparan Rambo di atas adalah tradisi. Aktivitas bersifat kontinuitas
penduduk setempat dalam melestarikan kebiasaan Para Pendahulu yang menghadirkan
perkembangan pada keberlangsungan hidup mereka secara efektif.
Essay ini akan menilik sudut pandang
masyarakat negara hijau tepatnya di Pulau dengan kota 1000 sungai, Kalimantan
Selatan.
B.
ISI
Indonesia, negara yang dijunjung
sebagai ‘tanah surga’ ini memiliki konvensi lingkungan hidup alami yang
terlampau strategis. Posisi silang antara Benua Asia dan Australia, Samudra
Hindia dan Pasifik memberi keuntungan dari segi iklim dan perekonomian.
Negara kepulauan maritim sebagai
kausalitas kesuburan tanah dan perluasan budaya yang tak terhingga. Ironis,
masih banyak penghuni di dalamnya yang tidak merasakan kekayaan alam tersebut.
Pada era sebelum tahun 1960, terdapat
3 jenis golongan penduduk di Kalimantan Selatan. Saya namakan kelompok mereka
Peladang Berpindah, Penebang Arif, dan Pengarung Sungai. Ketiganya sama-sama
mempergunakan alam untuk kepentingan hidup. Dengan teknologi terbatas di era
itu perilaku mereka terkesan merusak alam hingga sering dijadikan kambing
hitam.
Korban utamanya adalah Peladang
Berpindah. Dengan teknologi terbatas dan kualitas tanah di perbukitan yang
tidak potensial di era itu, mereka diberi pemakluman dalam pembakaran hutan
untuk membuka lahan pertanian baru. Kegiatan tersebut diiringi teknik siaga di
tepian hutan dan perkiraan iklim agar bagian hutan lain tidak ikut tebakar saat
pembukaan lahan baru dijalankan. Hasil dari panen ladang pun hanya dialirkan
untuk kebutuhan primer penduduk setempat, bukan sumber komersial. Data mencatat
hingga penghujung tahun 80-an tidak ada dampak negatif dari aktivitas tersebut.
Yang ada, bekas ladang di tepian hutan menciptakan ekosistem baru karena
ditumbuhi oleh tanaman muda yang dibutuhkan oleh marga satwa rimba raya.
Sama halnya dengan masyarakat yang
menebang secara tradisional di daerah lereng Pegunungan Meratus. Mereka sepakat
tidak menyebut istilah ‘Penebang Liar’ karena aktivitas penebangan tersebut
tidak menyebabkan penggundulan hutan. Pohon-pohon terpilih selalu yang jauh
dari aliran sungai sehingga hujan yang melanda tidak memberikan distraksi pada
pemukiman. Niaga barter hasil tebangan pun hanya diadakan dalam skala lokal. Sebutan
Penebang Arif dapat diterima mufakat.
Memasuki kelompok paling khas dan
paling tua (sejak 1890) di kota ini, Pengarung Sungai memegang jasa paling
besar sebagai pengembang ekonomi dan mobilitas penduduk setempat. Dengan
diciptakannya kanal atau terusan-terusan air yang berfunsi sebagai
transportasi, irigasi, dan pengendali banjir. Berikut saya coba rincikan secara
garis besarnya :
1.
Anjir.
Maaf saya tidak mengumpat, melainkan ini istilah pertama untuk
saluran primer yang menghubungkan dua sungai yang fungsinya difokuskan
untuk sistem pertanian dan transportasi. Nama lain yang biasa dipakaii adalah antasan.
2.
Handil. Saluran sekunder dengan ukuran yang lebih kecil dari anjir yang
bermuara di sungai atau pada anjir. Berfungsi untuk mengalirkan daratan
dan lahan pertanian. Lazim pula menggunakan istilah tatah dalam
penyebutannya.
3.
Saka.
Berukuran lebih kecil daripada handil karena bersifat
pribadi atau milik keluarga tertentu. Variasi ukuran sekitar dari 1 kilometer
sampai 10 kilometer. Masuk kategori saluran tersier. Muaranya ke handil,
anjir, dan sungai. Banyak dibangun oleh keluarga Para Petani.
Amir Hasan Kiai
Bondan (1953) menyatakan bahwa pada jenjang tahun 1924 dan 1927 masayarakat
Banjarmasin masih terus membangun handil-handil hingga mencapai jumlah
ratusan dengan ukuran puluhan kilometer.
Berdasarkan informasi yang saya
dapat dari situs online, 3 jenis kanal buatan leluhur di kota Banjar ini
menjadi kekhasan yang diakui Para Ilmuwan di antara kanal lainnya di seluruh
dunia. Berkaitan dengan bagaimana nenek moyang kita dulu menghadapi kondisi
alam lingkungan tempat mereka tinggal berupa daerah pasang surut, mendorong
pemikiran kritis bagaimana agar perairan diperluas secara efisien. Sekali
dayung 2 pulau terlampaui, ide mereka dalam pencetusan tersebut ternyata dapat
pula dimanfaatkan menjadi sarana kemudahan transportasi.
Hanya bermodalkan sundak (semacam pacul namun hanya
gagangnya saja) dan teknologi fisik berupa otot tangan, Para Leluhur kita
dihormati oleh Schophuys (1969) dengan pengakuannya bahwa kanal multi-fungsi
yang diciptakan menghasilkan sistem irigasi orang Banjar sangat khas dan tegas
dinyatakan sebagai “sistem irigasi Banjar” sebagai pembeda dengan kanal bangsa
lain.
Pelancong Inggris lainnya adalah Vergouwen, mendokumentasikan
wawasan terkait sungai-sungai Kalimantan di bukunya yang berjudul “Tatah-en Soengeirechten”, banyak
diungkap perkembangan kanal-kanal disana sampai asal usul julukan ‘Kota 1000 sungai’.
Peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh kepala klan pemilik kanal
mengingatkannya pada Masyarakat Inggris zaman lalu. Bersama dengan temannya,
H.Mallinckrodt mereka menyatakan bila ingin melewati jalur-jalur air milik
salah satu klan, harus membayar 1/10 dari barang-barang yang diangkut atau
berupa uang. Hasil dari upah tersebut dijadikan biaya pemeliharaan jalur air.
Hingga masuk era penjajahan
colonial, Pejabat-Pejabat Belanda pun turut mengakui keterampilan masyarakat
Banjar dalam pembangunan kanal. Bahkan mereka ikut berkontribusi dalam
pengembangan elemen budaya material Orang Banjar itu dengan persis mengikuti
teknik tradisionalnya.
Tradisi pembangunan kanal menjadikan siklus dari alam untuk alam
dan manusia. Berkesinambungan dengan hal tersebut, lingkungan hidup sosial
Masyarakat Banjar yang menjadi permulaan semua ini. Berdasarkan kebutuhan
bersama, mereka sepakat membangun kanal untuk memudahkan Penebang Arif dan
Peladang Pindah. Tidak lupa, sebagai balas budi perawatan dan penjagaan
terhadap alam yang telah memberi izin untuk digunakan wajib dijalankan
setelahnya.
Lingkungan hidup alam yang diberikan pulau Kalimantan Selatan
menjadi modal dari hadirnya lingkugan hidup buatan berupa ratusan kanal yang
menghidupi pemukiman warga. Menjadi penghubung antara keduanya, lingkungan
hidup sosial yang menentukan. Di era setelah kemerdekaan misalnya, sudah
puluhan kanal ditutup karena bertambahnya populasi manusia sehingga membutuhkan
ruang lebih luas untuk pemukiman.
Kini julukan kota 1000 sungai semakin pudar. Begitupula dengan
hutan yang semakin terancam gundul dengan lazimnya kepulan asap. Hutan dialih
fungsikan menjadi sumber pertambangan. Entah ulah HPH atau KP, semua masih
meliputi kesepakatan dari lingkungan hidup sosial. Walaupun begitu, tak menutup
sebuah fakta yang telah permanen ditulis Vergouwen mengenal adat Masyarakat
Dayak lewat ungkapan “Dia punya sungai dan hutan”.
C.
PENUTUP
Tradisi nusantara di belahan pulau Kalimantan adalah bertani.
Bentuk pemanfaatan lingkungannya berupa pembangunan kanal, penebangan, dan
pembakaran hutan. Beriringan dengan hal tersebut diantisipasikan sebuah sistem
yang tetap menjaga keseimbangan alam.
Mengutip kalimat Ibnu Athaillah, “Engkau merdeka dari apa yang tak
kau inginkan. Engkau budak dari apa yang kau serakahi,” Selama berjalannya 78
tahun bebas dari jajahan, ternyata masih ada beberapa oknum yang memilih jadi
budak keserakahan. Bila berkaca pada masa lalu, leluhur kita sama sekali tidak
mengajarkan itu. Melainkan kalimat pertamalah yang dipilih.
Tidak ada salahnya dari suatu inovasi, hanya yang perlu diingat tradisi
pertiwi dalam Pancasila disebutkan kata ‘adil’ sebanyak dua kali. Adil dalam
makna menempatkan sesuatu seusuai hak dan kadar yang tepat. Tidak hanya kepada
manusia secara langsung, melainkan juga kepada lingkungan tempat bergantung
manusia itu sendiri.
D.
DAFTAR
PUSTAKA
-
Sukarni.
2011. Fikih Lingkungan Hidup Perspektif Ulama Kalimantan Selatan. Badan Litbang dan Diklat Kementrian
Agama RI
-
Anwar Mufid Sofyan. 2010. Islam & Ekologi
Manusia. Bandung : Nuansa
-
Subiyakto Bambang (30 April 2010). Budaya
Material Masyarakat Banjar. Subiakto wordpress. https://subiyakto.wordpress.com/2010/04/30/budaya-material-masyarakat-banjar/
-
Vergouwen Jacob Cornelis. 1921. Tatah-en
Soengeirechten. Nederlandsch-Indië : Vereeniging
Ambtenaren bij het Binnenlandsch Bestuur
-
Khaeron Herman. 2014. Islam, manusia, &
Lingkungan Hidup. Bandung : Nuansa Cendekia
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)