Merawat Literasi, Merawat Kebudayaan

 

Kompilasi Haru, Bangga, dan Malu

Rekaman data digelar

Perkamen dedikasi setajam mawar

Tidaklah hidup kecuali berkaca pada masa lalu

Maka jasa terbesar dipegang oleh para pengukir batu

 

Dengannya kita tak perlu mesin waktu

Terhadap jasa tak akan buta

Para Pendiri Pancasila berjibaku

Jejak negara kita heningkan cipta

 

Sajak proklamasi

Bait lagu Indonesia Raya

Melahirkan cabang budaya

 

Kepulauan maritim menjadi saksi

Ribuan bahasa menjadi khasnya

Cukup menjadi alasan membusungkan bangga

 

Globalisasi berkata lain

Derajat literatur semakin rancu nian

Letak strategis diabaikan

Sepakat mufakat tak lagi dipegang erat

 

Dimana negara yang bertradisi?

Tanpa sadar ego membungkam literasi

Hingga jawaban yang keluar hanya pasi

Andai saja semua ini hanya ilustrasi

Kecemasan dapat segera dimutilasi

Merawat Literasi, Merawat Kebudayaan.

 

Diakui sebagai rangkaian terindah

Selain berikat bunga dan kerumunan kupu-kupu

Kapan tepatnya kita menemukan arti sebuah indah?

Ribuan kata lah yang membuatmu tau

 

Pelepah menjadi akses

Logat ngoko dan krama sebagai proses

Wali yang Sembilan berinovasi sukses

Siapa sangka singiran menciptakan progress

 

Wayang menjadi refleksi

Keris disemati

Blankon ditadahi

Batik menjadi ukiran pertiwi

 

Relik-relik budaya berbisik

“Filosofiku dalam dan selembut tunik”

Pernyataan disambung pertanyaan

“Bagaimana cara mengungkapnya?”

 

Repetisi sejarah adalah fakta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UKM, Unit Kemodusan Mahasiswa

Bibliothécaire - SIL Entreprise

Pengadilan Latar dan Pelaku