Tunggu Aku Mengucapkan : "Asalku dari Indonesia"
Sejak kecil aku tak pernah menetap lama di satu titik geografis yang biasanya dikonotasikan kebanyakan orang sebagai 'asal'.
"Asal mana kak?" ya, itu maksudku. Pertanyaan basa basi yang selalu ada tepat setelah saling mengenalkan mana. Bila sedang dalam kegiatan kampus, mudah saja menjawabnya dengan asal fakultas atau prodi. Sedangkan untuk kegiatan umum di ruang publik, apa yang harus kujawab?
Asal itu ditujukan kemana sih? Kota lahir? Kampung halaman? (Kebanyakan orang menyamakan kedua itu, padahal bagiku beda sekali) atau domisili tempat tinggal? Yang mana pun itu, aku tetap akan kesulitan menjawabnya. Belum lagi terdapat syarat yang harus diikuti jawaban sebagai bukti : kebisaan bahasa daerah.
"Oh dari Jakarta... Bisa bahasa Betawi dong!" Hayoloh, yang ada tuh orang bisanya bahasa Inggris kali. Ironis memang, semakin kesini semakin sedikit yang menggunakan bahasa ibu sendiri. Dasar anak muda. Aku juga termasuk, sih. Hehe.
Tapi untuk kasusku harusnya bisa dimaklumi sih. Bahkan aku tidak tahu bahasa daerah apa yang harusnya aku kuasai. Lagi-lagi kebingungan, bahasa daerah itu merujuk pada kota kelahiran, mengikuti orangtua atau kota lama yang kita tinggali? Coba tentukan dari kasusku ini.
Aku lahir di Pekanbaru, Provinsi Riau di Pulau Sumatera. Aku tinggal disana hanya sampai kelas 3 SD semester 1, setelahnya aku pindah ke Bandung melanjutkan pendidikan mulai dari pertengahan semester. Tiga tahun kuhabiskan disana tanpa berpindah provinsi (karena kalau kabupaten, terhitung 3 kali aku pindah, dari Lembang, ke Cimareme, lalu ke Cimahi. Sedangkan rumah, 5 kali aku berpindah) Jenjang SMP hingga SMA kulanjutkan di Bogor dan Jakarta. Memasuki masa kuliah, kembali aku meninggalkan 'rumah' ke provinsi sedikit jauh yaitu DIY.
Sebelum aku menceritakan masa-masa beradaptasi, apakah kalian sudah menangkap kebingunganku setiap ditanya asal? Semoga saja iya. Atau kalau kalian masih menganggapku lebay pun tak apa juga.
Percaya tidak percaya aku masih sangat ingat momen-momen salah paham ketika berinteraksi dengan teman-teman SD-ku. Salah satu di antaranya saat aku mengajukan teka-teki kepada beberapa teman yang bangkunya berdekatan denganku. Cukup banyak mereka ajukan jawaban, tidak ada satu pun yang benar. Hingga salah satu di antara mereka berkata "taluk,"
Belum ada satu bulan (yang baca pakai nada Bernadya gausah lanjut deh, urus dulu itu masa lalunya) aku tinggal di Bandung, belum banyak kosa kata sunda yang kutahu. Kukira yang diucapkan temanku adalah "teluk" yang berarti perairan menjorok ke daratan, maka aku menjawab "Salah, bukan teluk". Padahal sebenarnya yang temanku maksud itu taluk dalam bahasa Sunda yang artinya 'menyerah'. Pantas saja temanku keheranan mengapa tidak juga kuberikan jawaban dari teka tekinya.
Salah faham kedua kebalikannya, kali ini temanku yang tak mengerti apa yang kumaksud. Di jam makan siang, aku membeli minuman manis di kantin. Saat temanku membayar, aku melihat sedotan berada di meja kasir yang kebetulan dekat sekali dengan tangannya. Aku pun meminta tolong "Eh, tolong pipet dong,"
"Hah?" Temanku sontak melempar wajah kebingungan. Saat itu kukira dia hanya kurang mendengar karena keramaian kantin. Namun setelah kuulangi kalimatku secara persis masih saja wajah temanku tak berubah. Aku pun memeragakan tindakan menusuk pipet ke minuman gelas yang kubeli. Dia pun langsung paham, "OALAH SEDOTAN! Pipet-pipet apaan lagi!!"
Aku sungguh tidak akan sadar bahwa pipet adalah sebutan untuk sedotan minuman di daerah Sumatera bila tidak dari kebingungan temanku itu. Selama kecil hingga kelas 3 SD aku selalu menyebutnya pipet, kukira semua juga menyebutnya begitu. Kepolosan anak kecil. Sama halnya dengan dialek yang tak pernah kusadari, tumbuh hampir 8 tahun di Pekanbaru secara otomatis memerintahkan pita suaraku mengeluarkan pengucapan bahasa yang berbeda dengan teman-teman sekelas. Salah satunya pelafalan kata "cuma" yang kuakhiri dengan '-ng'. Untuk bagian ini teman-temanku sampai menertawakan dengan sok meniru. Alih-alih tersinggung, aku malah ikut tertawa. Senang bisa menghibur orang lain.
"Hahaha..., apa Syif? CumaNG?"
Umurku masih sekitar 9-10 tahun kala itu, harus beradaptasi dengan bahasa dan budaya baru yang mana aku saja belum mengerti banyak akan kedua kosa kata itu. Sungguh berat rasanya bila kuingat hari ini. Tapi pada masa itu, aku justru tak terlalu menghiraukan.
Masa SMP-SMA berlalu lebih mulus dan lancar. Sekolah dengan konsep asrama memainkan peran disini, artinya murid yang berkumpul disana tidak hanya dari satu suku tertentu melainkan campuran. Begitupula sekarang pada masa kuliah di Jogja, walaupun para warlok masih saja sering tiba-tiba menyisipkan kosa kata Jawa ke dalam kalimat mereka. Kuambil sisi positifnya saja bisa sambil mempelajari bahasa ibu ayahku. Untuk bahasa sunda, cukup lebih lancar walaupun hitungannya masih jarang kugunakan. Belum percaya diri bila harus berbicara dengan para orangtua yang harus menerapkan sistem-sistem kesopanan.
Dinamika kerancuan asalku ini sudah sempat kucurhatkan pada ibu dan beberapa teman. Mereka semua menganggapku lebay, terlalu mempermasalahkan hal yang sudah berlalu. Mereka tidak tahu saja seluruh latar cerita ini yang menciptakan karakterku. Mandiri dan tidak mau diam. Tak pernah mempermasalahkan jarak, tak perlu pertimbangan panjang untuk keluar kota hanya untuk kegiatan satu atau dua malam.
Tak jarang aku iri melihat teman-temanku yang berasal dari daerah tertentu bisa membanggakan nama kampung halamannya. Aku sendiri rasanya tak punya titik geografis tertentu yang agaknya bisa kubawa-kubawa. Susah menilai mana yang meninggalkan kesan dalam sampai aku tergerak untuk mention di berbagai kesempatan.
Ibuku menanggapi keresahanku dengan mengatakan "Ya, kamu seorang muslimah dong, itu yang kamu tunjukkan," Harus kuakui, cukup sulit tersenyum mendengar suara bangga ibuku saat itu mengingat bukan tanggapan itu yang kuharapkan.
Untung saja aku punya teman yang lebih suportif. Dia menanggapi jauh lebih inspiratif dengan berujar mantap, "Makanya lu kudu belajar di luar negeri Syif... Biar gampang pas ditanya where are you from kamu ga bingung lagi. Kan tinggal jawab i'm form Indonesia. Banggain dah tuh negara kite,"
Komentar
Posting Komentar
Zona bebas berkomentar :)